“…”

Posted in 5584 on 1 Februari 2010 by stafarda

Pagi ini, aku merasa sangat kecewa. Perjuangan yang telah kami lakukan sejak hampir setahun yang lalu, ternyata tidak diapresiasi dengan pantas oleh beberapa pihak. Yang disayangkan olehku adalah, keputusan itu dibuat bukan atas suatu dasar yang objektif dan jelas, tapi diambil dari suatu tolok ukur yang subjektif, mengawang-awang, serta terlalu memiliki standar yang berlebihan.

Kami telah susah payah berusaha mewujudkan ekspedisi ini. Aku pribadi telah merasa sreg dan klop dengan tim yang telah kami bentuk. Kami telah melakukan berbagai hal bersama-sama, semenjak proses perumusan masalah dan konsep ekspedisi yang memakan banyak waktu dan kata-kata, latihan SRT yang telah dilakukan beberapa kali oleh teman-teman tim ekspedisi, yang setiap kali dilakukan hingga pukul 3 pagi; latihan fisik dan lari bersama di sabuga; survey langsung ke jawa timur; hingga simulasi ke Pangandaran dan persiapan pra ekspedisi yang telah kami siapkan melingkupi logistik, medis, teklap, emergency response; semuanya dilakukan dengan riang dan canda.

Sayangnya, oknum-oknum yang kurang bijaksana, karena mereka yang hanya bisa ngomong doang dan mencerca serta menjatuhkan kami di akhir, tanpa pernah memberikan saran dan masukan yang membangun selama kami melakukan proses ekspedisi; kami harus kembali ‘gagal’ melakukan ekspedisi. Tanpa standar yang jelas, mereka menjudge kami tidak layak untuk mengemban nama ekspedisi. Padahal, apakah mereka sendiri paham apa itu makna ekspedisi?? Apakah mereka tahu dan pernah merasakan sendiri seperti apa ekspedisi itu seharusnya?? Apa sih yang selama ini pernah mereka lakukan untuk organisasi ini?? Adakah?? Seperti itukah orang-orang yang mengisi organisasi ini saat ini?? Orang yang hanya bisa mengkritik di akhir, tanpa memberikan solusi yang pada saat yang tepat?? Selama ini mereka hanya diam (dan mungkin iri), tapi kenapa di akhir mereka malah menjatuhkan kami…

Aku suka perumpamaan yang digambarkan Baim, bahwa orang-orang itu seperti orang awan yang tidak mengerti musik, tidak bisa memainkan alat musik, tapi dengan semena-mena mereka menjudge suatu lagu (misal lagu melayu) sebagai suatu karya musik yang buruk. Padahal mereka tidak tahu seperti apa proses di balik pembuatan lagu tersebut, betapa rumitnya menyusun aransemen dan lirik yang pas. Mereka hanya menjudge lagu itu buruk oleh karena perasaan mereka berkata bahwa lagu itu buruk. Tidak ada standar dan role model yang jelas tentang seperti apa lagu yang baik itu diciptakan. Mereka tidak tahu perjuangan kami seperti apa selama ini. Mohon maaf, dengan berat hati mereka akan aku bilang orang-orang picik.

Jujur, aku merasa sangat kecewa dan merasa perjuangan tim ini tidak diapresiasi dengan pantas. Masalahnya, bukan dari tujuan yang ‘kurang ilmiah dan komprehensif’, bukan! Itu memang subjektif. Karena aku sendiri berpendapat, bahwa hasil pemetaan goa bahkan walaupun tidak dalam bentuk 3D, akan sangat membantu berbagai pihak yang berbasis ilmiah. Hasil pemetaan ini akan menjadi basis bagi ilmu pengetahuan mendatang yang dapat dikembangkan lebih lanjut. Gak usah sok-sok bersikap konservatif dan lain sebagainya, karena kita tahu kemajuan iptek memang memiliki efek pisau bermata dua. Selama tidak berlebihan, ya masih dalam batas toleransi.

Akhirnya, setelah diputuskan bahwa usaha yang telah kami lakukan hanya disejajarkan dengan istilah jelajah, aku memutuskan untuk tidak berangkat ke jawa timur sama sekali. Berat untuk meninggalkan kuliah selama minimal 2 minggu, hanya untuk melakukan suatu hal yang setara dengan ‘JALAN-JALAN’ biasa. Hah, pengorbanan kami terlalu besar untuk hanya melakukan sebuah jalan-jalan di saat masa kuliah berlangsung. Jalan-jalan seperti itu adalah tidak memiliki tujuan ilmiah, buat apa kami melakukan suatu yang tidak setimpal dengan pengorbanan yang kami lakukan? 2 minggu bukan waktu yang pendek untuk meninggalkan kuliah! Itu waktu yang panjang. Setelah pengorbanan kami selama ini tidak dihargai dengan selayaknya – hanya karena suatu alasan yang subjektif dan tidak memiliki standar yang jelas, serta diputuskan oleh orang-orang yang tidak tahu tentang alas purwo, persiapan, dan deksripsi ekspedisi kami – kami tidak mau berkorban lebih lanjut lagi demi suatu hal yang tidak setimpal.

Aku ingin mengasingkan diri dari dunia luar dulu, sudah lama aku tidak merasakan ini…

Napak Tilas Traveling 2009

Posted in ngomong santei, traveling dengan kaitan (tags) , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , on 8 Januari 2010 by stafarda

Pertengahan bulan Januari diklatsar Acara Akhir KMPA sebagai panitia selama xx hari (dirahasiakan dari calon anggota KMPA :P ) di area Ciherang, Gunung Burangrang serta area Bandung Utara. Ada bencana banjir bandang yang menimpa sebagian panitia dan menghancurkan basecamp panitia sehingga mau tidak mau mengubah teknis acara, serta insiden 2 kali jalan malam dari pukul 8 pagi hingga pukul 3 pagi. Satu orang dipulangkan dari diklatsar karena tidak mampu lagi secara mental. Untungnya diklat masih dapat berlangsung hingga akhir pelantikan. Kita dapet 15 anggota baru, ada 5 cewe, peningkatan lah dari segi kuantitas…

Akhir bulan Februari jalan-jalan all KMPA ke Tegal Panjang via Pangalengan, sampe tembus Gunung Papandayan, dan pulang lewat Garut selama 3 hari. Ini merupakan jalan-jalan informal yang diikuti anggota terbanyak sepanjang sejarah KMPA, yaitu diikuti hingga 30 orang anak KMPA!!! Fantastik… Gw gak begitu menikmati perjalanan ini, soalnya kebanyakan orang yang ikut. Bikin sumpek, n berisik. Tapi gw menikmati saat gw, Alam, dan Didik berangkat bertiga dari kampus, dan menghabiskan semalam terlantar beratapkan langit di pasar Pangalengan, hingga terombang-ambing nebeng truk gede menelusuri jalanan rusak sampai kebun teh di kaki Papandayan… Tegal Panjang pun tetap menjadi padang rumput luas yang indah dan hijau, diserta background beberapa gunung di belakangnya… Kawah Papandayan juga menarik untuk disusuri berjalan kaki, dengan kawahnya yang aktif dan berbau belerang menyengat (sampai nafas terbatuk-batuk dibuatnya).

Awal April sewaktu libur Pemilu Legislatif (terpaksa Golput :P ) selama sekitar 6 hari, gw sama 8 anak KMPA lainnya hiking ke Gunung Lawu, ditemani Bang Jo anak Govala FH UNS. Kami berangkat malam hari ditemani bulan purnama yang benar-benar terang sehingga kami tidak lagi perlu senter, serta bintang-bintang bertebaran di atas kami. Kami tiba di pos Sendang Drajat pukul 2 pagi. Gunung Lawu sebenernya lumayan asik, tapi sudah terlalu ‘artifisial’. Udah banyak tangga-tangga buatan… Malahan, katanya ada warung di pos Sendang Drajat, sayang sewaktu kami datang, warung itu sedang tutup. Pemandangan di Puncak pun tidak terlalu asik, apalagi awan tebal menutupi pandangan kami ke arah kota.

Lawu merupakan tempat ritual bangsa Jawa, memiliki area terkenal bernama Kawah Candradimuko yang menjadi tempat penempaan ksatria jaman dulu, termasuk Gatotkaca. Lawu juga adalah tempat bertapa Prabu Brawijaya dari Majapahit. Klo mau ke Gunung ini, enakan naik lewat jalur Jawa Timur (via Cemoro Kandang) trus turun lewat jalur Jawa Tengah (via Cemoro Sewu). Yang keren di gunung ini yaitu jalan rayanya yang merupakan jalan raya tertinggi di Indonesia yaitu sekitar 1800 mdpl, mulus n asik jalannya buat dipake touring.

Trus kita juga main ke temen-temen mapala Govala Hukum UNS yang baek-baek, terutama Bang Joe. Kita lalu diajakin Bang Joe touring 400km PP dalam sehari dari Solo ke Pantai Serau, ama Goa di Pacitan. Pantai Serau pemandangannya keren abissss… Biru jernih dengan ombak yang besar. Tapi karena ombak gedenya, gak bisa dipake buat berenang-renang. Tapi dijamin tetap mantap lah…

Kemudian walaupun rencana perjalanan keliling Indonesia yang gw dan Didik rencanain pada bulan Juni hingga Agustus gagal, tapi ada hikmahnya. Gw akhirnya Kerja Praktek di Palembang selama awal Juli sampe pertengahan Agustus… Gw dapet di perusahaan Telkom Sumbagsel. Lumayan, dadakan tapi tetep dapet tempat KP, bisa sekalian jalan-jalan n mudik ketemu keluarga lagi he..he. Palembang kotanya panas, gerah dan membosankan (dibandingkan Bandung tentu saja), tapi jadi ngga kerasa gara-gara ada sepupu-sepupu gw yang asik n udah nemenin gw main-main selama di Palembang. Tengs buat Macak Ria, Kak Tan, Tian, Arie, Yuk Ita (yang masakannya enak bangett), Icha, Kak Didit, semua lah pokoknya. Total 1,5 bulan gw ada di kota ini. Tapi kinerja ku selama Kerja Praktek aku nilai GAGAL TOTAL… (Aku ternyata belum cukup dewasa untuk bekerja profesional… :(

Sepulang dari Palembang, tepat pada hari pertama lebaran, gw dan Gopal berangkat touring naik motor dari Bandung ke Majalengka sejauh 120 km. Sekalian Gopal juga mudik ke desa Maja di dekat kaki Gunung Ciremai, niatnya sekalian mau hiking ke Gunung Ciremai.

Awalnya, kayaknya kita gak diijinin oleh ortunya Gopal buat naik gunung. Gw inget banget, malem sebelumnya memang angin kencang dan dingin menerpa Desa Maja. Tapi untungnya dibolehkan juga. Malah personil nambah satu orang, yaitu saudara Gopal yang lagi kuliah di UPI, dan sekarang lagi sedang mudik pula.

Setelah siang harinya aku ikut bersama Gopal dan keluarganya bersilaturahmi ke rumah sanak saudara mereka di Majalengka dan sekitarnya, pada Senin malam harinya kita mulai pendakian, berangkat dari Desa Maja pukul 7 malam. Dengan penerangan seadanya, kami menelusuri jalan setapak gelap yang sama sekali tidak diterangi cahaya bulan sedikit pun (karena masih awal bulan Syawal). Untungnya, bintang-bintang bertebaran di langit menghiasi perjalanan kami. Terus terang, di tengah kegelapan itu, aku waspada akan adanya hewan-hewan tak diinginkan.

Sepanjang jalan, kami tidak bertemu seorang pun pendaki lainnya hingga kami mencapai puncak pada pukul 5 pagi. Malahan, puncak dan kawah Gunung Ciremai seolah hanyalah milik kami bertiga. Tidak ada lagi siapa pun selain kami di sana. Setelah menikmati sunrise, kawah Ciremai yang indah serta dalam dan sedikit berbau belerang, serta siluet Tangkuban, dan Gede Pangrango di sebelah barat, serta Gunung Slamet di sebelah timur, dan awan yang berada di jauh bawah kami sayangnya menghalangi pemandangan ke arah kota Majalengka dan Kuningan, pada pukul 8 pagi kami turun gunung via jalur yang sama.

Ternyata, di dekat puncak sedang bermekaran bunga abadi Edelweiss yang indah sekali, menyerupai taman bunga yang rupawan. Kami sempat memetik beberapa kuntum bunga itu. Kali ini, selama turun gunung kami bertemu beberapa rombongan pendaki, termasuk teman SMA Gopal yang juga kuliah di ITB. Akhirnya, pada sore hari pukul 3 sore kami tiba kembali di Desa Maja dengan selamat, dengan membawa kaki yang sakit-sakit dan pegal-pegal. Aku langsung tertidur di rumah kakek Gopal tersebut dari pukul 5 sore hingga pukul 8 pagi keesokan harinya karena saking capeknya (total 15 jam gw tertidur, sampe-sampe saudara Gopal ribut menyuruh Gopal mengecek apakah aku masih hidup atau tidak ha..ha).

Kemudian pada hari Rabu siang esok harinya, aku bersama Gopal kembali touring pulang ke Bandung. Kami sempat mampir minum Es Kelapa Muda di sebuah warung di pinggir sungai yang berada di antara jalan raya Majalengka dan Sumedang. 3 jam kemudian, kami tiba di Bandung tepatnya pada pukul 5 sore.

Sehari setelah aku pulang dari Ciremai, aku harus kembali bersiap-siap karena aku, Ria, Arfan, Aji, dan Nasir berencana untuk hiking naik Gunung Merbabu. Padahal kakiku masih sakit-sakit seluruhnya sisa perjuanganku naik Ciremai beberapa hari sebelumnya. Tapi kupaksakan saja, terutama karena bayanganku tentang perjalanan hiking ketiga ke gunung di daerah Jawa Tengah yang tentunya pasti bakal sangat menarik dan menyenangkan – sama seperti 2 gunung di Jateng sebelumnya yaitu Slamet dan Lawu.

Kami berangkat Kamis malam hari menggunakan KA Kahuripan menuju Stasiun Jogja. Pagi hari kami tiba di Jogja, dan sarapan gudeg di dekat stasiun. Kemudian lanjut naik Bus dari Stasiun menuju suatu Terminal di Jogja juga. Dari sana, kami naik bus menuju kota Magelang. Dari terminal di Magelang, kami naik bus hingga tiba di jalan raya Kopeng di sebelah barat Merbabu.

Hiking kali ini cukup menarik. Jalur naik via Jalur Kopeng ditemani pemandangan mendaki yang fantastis karena diiringi oleh sunset nan jingga dan siluet Gunung Sindoro-Sumbing di barat, ditambah karakter Gunung Merbabu yang penuh dengan debu dari kaki hingga puncak, plus naik turun kontur Merbabu yang menyebalkan (bahkan beberapa kali kami harus traversing), serta tentu saja 7 summit Merbabu yang terkenal. Sayangnya, Merbabu tidak ada kawahnya…

Dari puncak, terlihat gunung Merapi yang mengeluarkan abu di sebelah tenggara, terlihat begitu dekat dan mudah dicapai. Seturun dari puncak, kami berjumpa dengan padang rumput ilalang yang oke. Ada juga padang kecil edelweiss yang penuh dengan bunga bermekaran. Mantap, tidak kalah dengan Edelweiss di Ciremai…
Sayangnya, kami salah ambil jalur sewaktu turun, sehingga meleset jauh dari pos penurunan Selo yang seharusnya. Kami tiba di suatu desa dengan badan berlumuran debu, dan untungnya lalu dijamu pak RT setempat dengan nasi dan lauk pauknya yang enak tenann. Dari sana, kami menyewa pickup hingga tiba di terminal Salatiga. Dari Salatiga, kami naik bus ke Solo. Dan kemudian dijemput Jo dan teman-teman Govala FH UNS untuk menginap semalam di sana.

Kami sempat diajak jalan-jalan keliling Solo sebelum pulang pada hari Minggu malam. Kali ini, di sekre Govala untuk kedua kalinya aku bertemu dengan cewe manis bernama INDRI, seorang mahasiswi UNS yang juga adik dari seorang anggota Govala (pertama kali bertemu sewaktu aku naik Lawu 6 bulan sebelumnya). Sayangnya, aku tidak sempat ngobrol karena dia langsung pergi lagi. HUHH, liat saja nanti.. Jangan panggil aku Gustaf Ardana kalau aku tidak bisa ngajak dia jalan next time gw main ke sekre Govala lagi…

Setelah naik Merbabu dan kembali berkutat dengan kuliah selama 2 bulan lebih, di libur Natal Tahun Baru yang baru saja berlalu, aku bersama Maman, Yudi, Muhsin, dan Jekim berangkat melakukan survey ke Taman Nasional Alas Purwo di Kabupaten Banyuwangi selama 10 hari.

Alas Purwo adalah hutan yang sangat amat unik dan menarik. Kebanyakan vegetasinya terdiri dari hutan Jati dan Mahoni di area dekat jalan mobil, serta hutan bambu di area pedalaman. Kita seperti berada di Taman Safari saja rasanya, hewan-hewan berkeliaran dengan bebas di sekitar kita, mulai dari rusa, banteng, babi hutan, monyet, burung Merak, jenis burung beterbangan (banyak pula burung Rangkong yang bunyi kepakan sayapnya unik), berbagai jenis ular pun kami jumpai face-to-face (ada King Cobra bersisik kuning di bagian leher, python yang sedang hibernasi di mulut sebuah goa, ular hijau cerah yang sempat aku pegang buntutnya), semuanya berkeliaran di depan mata kami dengan bebasnya!!! Dan tentu saja, hewan-hewan itu dibiarkan liar, bukannya dipelihara dan diberi makan layaknya di Taman Safari.

Ada juga pantai yang indah, bahkan Pantai Plengkung merupakan salah satu dari 3 pantai dengan ombak terbaik di dunia (untuk olahraga surfing alias selancar).

Dan karena di Alas Purwo terdapat kawasan batuan Karst (yang juga merupakan tujuan ekspedisi kami, yaitu ekspedisi pemetaan jalur Goa berair di Taman Nasional Alas Purwo), tentu saja banyak bertebaran goa di sana-sini. Banyak pula yang merupakan tempat ritual dan bersemedi bagi sebagian kalangan, termasuk bagi umat Hindu yang mengkeramatkan beberapa Goa di sini, diantaranya Goa Mangleng, Goa Istana, Goa Basyori, Goa Padepokan, dll.

Perjalanan kali ini benar-benar membuka wawasanku. Aku awalnya tidak percaya bahwa ada orang-orang yang mau menghabiskan waktu untuk bertapa dan bersemedi di suatu goa yang gelap, dingin, berbau apek kelelawar yang sama sekali tidak enak… Tapi aku melihat dengan mata kepala ku sendiri ritual tersebut benar-benar ada. Yah wawasanku kembali bertambah lagi. Malahan, aku diberi suatu batu kecil yang disebut ‘Batu Pengasih’ oleh salah seorang pertapa yang aku temui. Yah sejauh ini memang sepertinya Batu itu cukup ampuh :P

Perjalananku di tahun 2009 ini memang cukup banyak dan membuka wawasanku lebih luas lagi. Moga-moga taun 2010 aku bisa punya waktu lebih banyak untuk mengembara lagi… :D

-anak muda yg ingin melihat dunia-

Electrical Engineering Event 2009

Posted in ITB, teknologi dengan kaitan (tags) , , , , , , , , , , , , , , on 3 Desember 2009 by stafarda

Titipan dari sponsor… :P

————————————————————————————————

Udah tau belom kalo HME ITB mau ngadain Electrical Engineering Event ??
Kalo yang udah tau ntar dateng ya, sip dah pokoknya
Kalo yang belom tau, sini gw kasi tau, sip juga dah pokoknya
3E alias EEE alias Electrical Engineering Event tu cara dwi tahunan di ITB yang diadain sama Himpunan Mahasiswa Elektroteknik ITB, karena yang ngadain mahasiswa-mahasiswa elektroteknik temanya juga ga jauh-jauh dari teknologi elektro. Event ini keren banget lo, kamu ga hanya dapet banyak ilmu tapi juga dapet fun. Nih ya, di 3E tuh ada seminar tentang teknologi di Indonesia, expo ato pameran karya teknologi elektroteknik, juga ada penghargaan cipta karya elektroteknik mahasiswa.
Jadi gampangnya ini nih rangkaian acaranya
Seminar : Sabtu, 12 Desember 2009 di Aula Barat ITB
Tahap Final EEA 2009 :Senin-Selasa, 14 – 15 Desember 2009 di Aula Timur ITB
Penganugrahan EEA 2009 : Kamis, 17 Desember 2009 di Aula Timur ITB
Expo : Rabu – Kamis, 16 – 17 Desember 2009 di Aula Barat dan Boulevard ITB
Nah sini gw jelasin satu-satu
Tema utam seminarnya itu “Perkembangan dan Masa Depan Teknologi di Indonesia”. Para pembicaranya udah ga perlu ditanyain lagi deh kualitasnya, nih ya ada Rektor Institut Teknologi Bandung, ada Kepala BPPT Indonesia, ada CEO PT Infracom Telesarana trus juga ada Founder Medco Energy Group, ada Direktur Utama PT. Telkom, ada juga Profesor dalam bidang biomedika di Indonesia.
Banyak ya pembicaranya, tapi tenang aja ga bakal semuanya berturut-turut, seminarnya tu dibagi jadi 2 sesi yaitu jam 08.00-12.00 WIB (untuk sesi I) dan 13.00 – 17.00 WIB (untuk sesi II), jadi ada waktu buat ishoma. Terus tempat seminarnya ada di Aula Barat ITB. Ni seminar terbuka baut semuanya kok, sapa aja boleh. Tapi jangan lupa, kalo mau ikutan seminarnya mesti daftar dulu ya, bayarnya juga ga mahal kok IDR 25.000 buat ikutan 2 sesi ituh.
Acara selanjutnya tuh final EEA alias Electrical Engineering Award, jadi ntar hari Senin Selasa tanggal 14-15 Desember 2009 kamu bisa liat mahasiswa-mahasiswa Indonesia mempresentasikan karya terbaik mereka. Ada 15 karya dari 3 kategori yaitu Renewable Energy and Optimization, Communication dan Electronics Entertainment for Cultural Development. Masing-masing ada 5 karya luar biasa. Nah buat nentuin tiga karya terbaik dari masing-masing kategori diadain presentasi ituh. Kalo mau nonton presentasinya dateng aja ke Aula Timur ITB. Siapapun boleh dateng, ga pake daftar, ga pake bayar, tinggal dateng, nonton dan termotivasi berkarya
Terakhir ni Expo alias Pameran karya. Kalo pameran udah pasti seru lah ya. Di Expo kita bakal mamerin karya-karya di bidang elektroteknik. Yang ngisi stand juga keren-keren kok dari karya HME ITB sendiri, trus ada karya-karya peserta EEA 2009 n 2007, trus juga ada karya-karya dari unversitas laen dan perusahan dibidang elektroteknik. Pokoknya keren deh. Ga dateng Expo ruginya sampe 2 taun lo hehehe
Exponya diadain Rabu – Kamis, 16 – 17 Desember 2009 di Aula Barat dan Boulevard ITB. Kayak yang presentasi dah aturannya, ga pake daftar, ga pake bayar, dateng aja, liat-liat trus termotivasi hehe.

Official Website nya :
www.eee2009.com

Rocket Rocker emang the best!!!

Posted in ngomong santei dengan kaitan (tags) , , , , , , , , on 10 November 2009 by stafarda

Wow ROCKET ROCKER emang MANTAPH!! Ga percuma keluar duit 25rebu buat beli tiket Indie Fest di sabuga..

Roro satu-satunya band (baik indie maupun label) indo yg SEMUA LAGUNYA COCOK di kuping gw.
Walopun ada beberapa lagu yg terkesan ‘lemah’ alias ngomongin cwe (cinta), tp tetep aj aransemen musikny keren n menghentak.
Udah gtu lirik inggrisnya jg asik and cool banget.. Karakter vokal Ucay trutama yg asik didenger.

Album yg paling gw suka mah album Soundtrack for Your Life. Dan tentu aj Ras Bebas..
Klo lagu yg paling gw suka mah yg Finishkan, Bangkit, Bukan Solusi, Mati Rasa, Tergila..
Klo yg lirikny ngena bgt ama gw (karena mirip2 dgn prjalanan hidup gw -halah bahasany) yg Desember16th, green karma, aku bosan menjadi pecundang, klassix, shes my cheerleader..

Tp yg jelas, gw suka smua lagu Roro..
the best lah..

-punk is not (ever) dead-

ps: Yang Rocket Rockfriends disini ngacung!!!

Efisiensi Bensin Yamaha Vixion : 50,11 KM / Liter !!!

Posted in sepeda motor, teknologi dengan kaitan (tags) , , , , , , , , on 28 Oktober 2009 by stafarda

Pada hari Sabtu, 17 Oktober 2009 gw mengisi bensin FULL pake Pertamax (harga Rp.5900/liter) total keluar duit Rp.60.000 alias dapet bensin sebanyak 10,17 liter.
Terus gw set Tripmeter di panel Vixion ke NOL.
Hingga hari ini, Rabu tanggal 28 Oktober 2009, total jarak tempuh yang sudah gw lalui sejak pengisian bensin terakhir hingga gw kembali mengisi bensin adalah 543,2 kilometer.
Terus gw mengisi bensin hari ini hingga tangki bensin FULL kembali seharga Rp.64.000 (10,84 liter).
Artinya, efisiensi bensin Yamaha Vixion (menggunakan Pertamax) adalah :

Efisiensi Jarak PerLiter = 543,2 km / 10,84 L = 50,11 KM / Liter

ATAU,

Efisiensi Duit PerJarak = Rp.64.000 / 543,2 KM = Rp.117,8 / KM

Wow, mantap banget. Sama sekali gak nyangka masih bisa irit gitu.
Padahal Vixion gw udah gw pake selama hampir 4 bulan, dengan total jarak tempuh di Odometer 3626,4 KM.

Punya Vixion emang ngga nyesel !!

NB : Gw bersaksi kalau Data di postingan ini tidak direkayasa

Salam,
-anak moeda-

merbabu

Posted in prosa, traveling dengan kaitan (tags) , , , , , , , on 15 Oktober 2009 by stafarda

merbabu. gunung dgn panorama pendakian paling eksotis yg pernah kudaki.

menghiasi langit sebelah barat,
sang kembar sumbing sindoro dgn setia menemani,
setiap langkah jejak kaki kami menuju sang puncak yg angkuh menjulang di kejauhan..

di saat sang surya berhenti menyombongkan cahya nya, terhampar memanjakan mata di horizon barat – mengintip dari balik punggung sang kembar, bagaikan bocah pemalu mengintip dari balik punggung sang bunda – terhampar semburat bauran indah spektrum merah-kuning-oranye dari sinar senja sang surya.

langkah kaki kami pun membawa kami tiba di puncak.hasil perjuangan yang kami rintis setapak demi setapak, sebutir demi butir keringat, sepatah demi patah kata dan canda..
di seberang, sang merapi telah menanti kedatangan kami – begitu bergairah, menggoda dan menantang.

akhirnya,merbabu.sang pemilik 7-summit dgn topologi yg paling menyebalkan yg pernah kudaki.
merbabu.bagai ayam tepung KFC – penuh berlumur debu.

rasa lelah hanya kami rasakan sebagai gigitan nyamuk.tak terasa berkat iringan para sobat yang begitu bersahabat.arfan yg sentimentil.riya yg tegar dan penuh harapan *utk bertemu sang pujaan hati*.aji yang bersemangat.nasir yg kuat..
terima kasih sobat.atas kenangan yg kalian rajut di puncak merbabu..

“Kita tidak pernah menaklukkan sebuah gunung pun. Kita hanya menginjakkan kaki di puncaknya selama beberapa detik, untuk kemudian deru angin menghapus jejak-jejak kita”.

First Story of Roy

Posted in prosa dengan kaitan (tags) , , , , , on 1 Oktober 2009 by stafarda

Lagi belajar ngebuat lirik (dan aransemennya menyusul) bergenre punk. . .
Mohon komennya temen2 !!

————————————————————————————————-

I have many many stories, about a boy, punk rocker called Roy
You can talk, sing the words just like another punk songs

The first story was on September last year, Roy stood in front of ganesha street with a bent head
Seeing through many shits of those silly horses, spread around the street
Flashing back to the past, regretting why the story has to happen like that

That m*ther f*cking girl was the actor
Actor of that melancholic scenes, finally stucked his heart
She was made fool of Roy . . . that forceful Roy

With her converse on her feet, she made many hopes and illutions on Roys mind
Illution of being the only man who can hold her hand
The man who can hug her slender belly, and kiss her red lip
But sorry Roy, tough the imagination was indeed beautiful, that was just an illution

Roy was just like many many other pitiful broken-hearted
Just like the narratives we often hear on the love songs
That is often sang by that poor popbands on TV

Roy, you can’t win a women heart by acting like a nice guy
You know girls is like a dangerous cobra
Once you do a kind thing on them, they wil exploit your kind deeper and deeper
You have to be yourselves, You have to enjoy your own life
Besides, girls is poison of world
The life is still amazing without those troubles

Hear me, Roy
Your mama didn’t want to have a boy that live like a loser
Please, please wake up Roy, wake up from your weak dreams

Come on Roy!!!
Wipe your pitiful tears off from your groom face
Clench your fist thightly
And puff out your chest
Make them see that you are the men

No more fallin in love . . .
—————————————————————————————–

*property of staf_arda*

Perjalanan ke Gunung Lawu, serta Pantai Serau dan Goa Gong di Pacitan

Posted in ngomong santei, traveling dengan kaitan (tags) , , , , , , , , , , , , , on 1 Oktober 2009 by stafarda

Liburan Pemilu selama 4 hari berturutan tidak kami sia-siakan. Aku serta sejumlah anak KMPA berencana untuk mendaki Gunung Lawu di daerah perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Untuk melakukan itu, kami akhirnya tidak mencontreng pada Pemilu Legislatif kali ini. Yah, kami memang bukan warga Negara yang baik, jangan ditiru ya :P
Pada awalnya, aku hanya bertekad untuk menghabiskan masa libur yang cukup panjang di sela kesibukan kuliah untuk berjalan-jalan. Aku bahkan telah merencanakan untuk berangkat ke Pasuruan, kampung halaman Maman. Tapi ternyata, aku diajak anak-anak Gunung-Hutan serta Irfan untuk mendaki gunung Lawu – yang berketinggian 3265 mdpl (di atas 300 mdpl).
Salah satu factor penyebab mengapa banyak lelaki terkesan ketagihan dalam mendaki gunung adalah, saat kamu telah berhasil mendaki sebuah gunung, maka kamu akan merasa tertantang untuk dapat mendaki lebih banyak gunung yang lain. Apalagi jika gunung itu berketinggian lebih dari 3000 mdpl. Pencari tantangan – salah satu sifat dasar lelaki yang dominan. Saat justru ada lebih banyak hal lagi yang menantang untuk ditaklukkan. Saat untuk membuktikan bahwa kita bisa melakukan hal yang sulit dilakukan. Tapi tentu saja, sensasi saat berada di puncak gunung adalah yang utama. Saat kamu dapat melihat dunia di bawahmu begitu luas dan membentang. Saat engkau berada di negeri atas awan.
Kali ini, aku mendaki bersembilan orang – bersama Heri, Aldi, Gian, Ari ‘Sangap’, Dinna, Muhsin, Rahman ‘Onye’, serta Geblek – yang nanti menyusul di Solo. Ternyata bukan hanya tim kami yang berangkat. Ada juga Alam cs yang berangkat ke Gunung Sindoro. Serta tim Sani, Sigit, cs yang berangkat ke Pantai Sawarna di daerah Sukabumi. Bahkan rumornya, ada pula tim Koko yang katanya akan berangkat ke Gunung Ciremai. Wah bukan main hasrat anak KMPA untuk berjalan-jalan. Ternyata selidik punya selidik, hasrat itu disebabkan baru selesainya masa UTS sehingga anak KMPA butuh sarana pengusir kejenuhan.
Maka hari Rabu sore, tanggal 8 April 2009, setelah menyelesaikan seluruh kuliah pada hari itu, aku segera bergegas ke SEL. Aku hanya membawa daypack. Aku sempat mengajak Aldi untuk mampir dulu di Kawani untuk membeli coverbag dan sebuah bandana. Total seharga Rp.52.000.
Setelah melepas tim Sindoro pada sekitar pukul 18.00, kami pun berangkat dari SEL sekitar pukul 19.00. Ternyata Maman – yang harus mudik untuk menghadiri pernikahan kakaknya – ikut bersama kami karena ternyata dia pun akan menaiki kereta yang sama dengan yang akan kami tumpangi. Setelah ritual pelepasan oleh para penunggu SEL – yang dilakukan dengan cara berdoa kemudian berteriak ‘KMPA!!! Ganesha!!!’ bersama-sama – kami pun berjalan kaki menuju Simpang Dago selama sekitar 15 menit. Sesampai di sana, Aldi dan Dinna telah menunggu kami. Kami pun menaiki angkot trayek Riung-Dago menuju stasiun Kiaracondong. Waktu tempuh selama 30 menit dengan ongkos Rp.3500.
Sesampai di Stasiun Kiaracondong, ternyata telah penuh sesak dengan calon penumpang yang berencana untuk mudik – mungkin untuk mencontreng esok harinya di kampung halaman masing-masing. Kami berencana untuk menumpang Kereta Kahuripan yang rencananya akan tiba pada pukul 20.25. Heri telah tiba duluan dan mengantri untuk membelikan tiket untuk kami bersembilan – plus 2 orang teman Dinna yang bertemu dengan kami di Kiaracondong. Harga tiket dari Kiaracondong hingga stasiun tujuan kami (Stasiun Solojebres) seharga Rp.30.000 (di tiket tertera Rp.26.000) per orang. Tiket tidak dapat direservasi, hanya dapat dipesan sejak satu jam sebelum keberangkatan. Secara normal, seharusnya waktu tempuh dari Bandung – Solo adalah sekitar 10 jam perjalanan.
Setelah mendapatkan tiket masing-masing, kami pun segera ke pinggir rel untuk menunggu kereta kami tiba. Telah banyak orang yang juga telah menunggu di sana. Setelah mengobrol selama sekitar 45 menit, kereta kami pun tiba. Kami berdesakan untuk masuk gerbong, namun sayang sekali nampaknya kami tidak akan terangkut karena kereta telah penuh sesak. Setelah merasa sedikit putus asa, akhirnya datang keajaiban. Seorang pria memberitahu kami bahwa akan ada 2 buah gerbong tambahan yang akan disangkutkan ke kereta utama. Dia pun menunjukkan gerbongnya. Kami pun segera ke gerbong yang dimaksud. Ternyata masih kosong melompong. Dengan sedikit keraguan, kami pun menaiki gerbong itu untuk menaruh badan dan barang – sementara Heri bertanya untuk memastikan. Ternyata gerbong itu memang akan ditambahkan ke kereta utama. Segera saja gerbong itu penuh dengan penumpang. Sampai-sampai tidak ada tempat untuk meluruskan kaki. Kami beruntung masih mendapatkan tempat duduk.
Sekitar pukul 22 lebih beberapa menit, kereta pun berangkat. Aku sempat bersms-an dengan Awal, mahasiswa Matematika ITB kenalanku, yang kebetulan melihatku di Stasiun Kiaracondong dan sekereta denganku. Ia ternyata berniat pulang ke Lumajang – mumpung liburan panjang katanya. Ada juga Abe yang tiba-tiba mengirim sms padaku. Maman ternyata tidak satu gerbong dengan kami. Ia duluan naik kereta meninggalkan kami saat berdesakan tadi, tapi aku pun tahu dan maklum. Ia memang harus naik kereta itu saat itu juga.
Setelah bersms-an dan sedikit mengobrol dengan Ari, aku pun berusaha untuk tidur walaupun sulit karena posisi tubuh tidak nyaman. Tapi akhirnya aku pun dapat terlelap hingga pukul 6 keesokan paginya.
Saat aku telah terbangun, ternyata kereta tidak sepenuh malam sebelumnya. Para penumpang telah banyak turun di stasiun sebelumnya. Kali ini cuma satu-dua orang yang ‘ngampar’ di lantai kereta. Aku pun menyolot rokok untuk mengusir kebosanan dan nongkrong di pintu gerbong kereta. Banyak stasiun yang telah kami lewati – yang aku ingat terutama adalah stasiun Tugu Jogja. Pagi itu terasa cukup lama. Kami sempat membeli energen yang dijajakan para penjual keliling. Memang banyak sekali pencari rejeki di kereta kami. Mulai dari penjual nasi panas dan ayam, jual minuman, kopi dan energen, donat, asesoris, serta pengamen mondar-mandir di depan kami.
Akhirnya pada sekitar pukul 10 pagi, kami tiba di Stasiun Solojebres, kota Solo. Saat kami turun, kami telah dijemput oleh anak pecinta alam (PA) Govala Fakultas Hukum UNS – yaitu Jo, Sembur, dan Dani. Dan ternyata kami pun berbarengan dengan anak PA Mapaligi (Unikom) serta Biocita (Biologi UPI) yang juga berencana ke Lawu. Mereka pun ternyata berniat singgah di Govala. Oya aku pun bertemu dengan Mas Yudhi, anak Divkom HME yang mudik ke Solo.
Kami pun menunggu jemputan anak Govala di depan pintu masuk stasiun Solojebres. Setelah menunggu selama sekitar 20 menit dan sempat membeli secangkir es wedang ala Solo (aku pun tidak ingat namanya), akhirnya ‘jemputan’ pun tiba. Tiga buah sepeda motor datang dan mengangkut kami tiga-pertiga menuju sekre Govala di kampus utama UNS. Aku jadi kloter terakhir dan diangkut oleh Jo. Jarak stasiun Solojebres hingga kampus UNS ternyata cukup dekat, hanya sekitar 10 menit naik motor.
Kampus UNS Solo ternyata cukup besar. Namun sayang, terlihat kurang terawat. FH UNS berada di ujung belakang kampus, tepat di pintu gerbang belakang kampus UNS. Cukup capek juga kalau harus jalan kaki dari gerbang depan ke area FH.
Kami pun tiba di sekre Govala. Ada sebuah wall yang tidak begitu terawat, serta poin panjat yang juga sedikit dan berjauhan. Sekre utama Govala berada di lantai dua gedung itu. Tapi bukan hanya itu sekrenya, ternyata mereka pun telah melakukan ‘eskpansi’ sekre ke lantai pertama dan ketiga gedung itu – melalap sekre unit kegiatan mahasiswa lainnya yang jarang ditempati.
Kami pun mengobrol dan melepas lelah sejenak. Kami berkenalan dengan Peni dan Ira yang belakangan dikerahkan untuk menjemput kami. Sekitar sejam kemudian, Geblek pun menyusul dan tiba di sekre Govala. Kami berencana untuk istirahat dulu sebelum mulai mendaki pada malam harinya – sekalian menunggu Muhsin yang tadi turun di Jogja untuk sejenak mengurus administrasi dalam mengikuti Pelatihan Caving di Jogja.
Setelah makan siang pada pukul 13, aku tertidur lelap hingga pukul sekitar setengah 5. Setelah bangun, aku pun bergegas berkemas karena yang lain ternyata telah bersiap-siap. Jo ternyata ikut bersama kami – suatu keuntungan bagi kami . Kami berangkat dari gerbang depan UNS menaiki bus Jurusan Solo-Tawangmangu. Aku tidak tahu ongkosnya, karena telah dibayar secara kolektif oleh Aldi. Setelah berada di bus selama sekitar 1,5 jam dan melewati daerah Karanganyar, kami pun tiba di Terminal Tawangmangu. Tawangmangu merupakan suatu daerah yang memang diperuntukkan sebagai objek wanawisata oleh Pemda. Daerahnya indah dan menyerupai daerah Puncak di Bogor, dingin dan sama-sama berada di ketinggian sekitar 1200 mdpl, hanya bedanya tidak ada kebun teh di Tawangmangu.
Di Terminal Tawangmangu, Jo ternyata telah janjian dengan seorang bapak bernama Pak Emo yang memiliki sebuah jeep Hardtop 4WD. Pak Emo ini ternyata memiliki anak yang juga anggota Govala. Ia mengangkut kami dari Terminal Tawangmangu hingga Basecamp di Cemoro Sewu. Waktu tempuh sekitar 45 menit. Itu pun karena Jeep Pak Emo ada sedikit gangguan mesin – mesinnya tersendat-sendat. Medan jalan memang cukup menggila. Jalannya terjal dan terus menerus menanjak tiada akhir – setidaknya hingga BC Cemoro Sewu. Memang, kata Heri jalan di daerah ini merupakan jalan raya dengan ketinggian yang tertinggi di Pulau Jawa – dengan ketinggian jalan sekitar 2000 mdpl.
Tiba di Basecamp Cemoro Sewu yang berada tepat di pinggir jalan, kami pun mengeluarkan bawaan kami. Pak Emo ternyata tidak mau dibayar. Bahkan ia malah berencana menjemput kami di Cemoro Kandang keesokan siangnya setelah kami menuruni gunung.
Basecamp Cemoro Sewu adalah BC yang berada di daerah Jawa Timur. Sedangkan BC dari daerah Jawa Tengah dinamakan Cemoro Kandang. Ya, Gunung Lawu merupakan gunung yang berada tepat di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Wilayah batas provinsi dipisahkan oleh sebuah sungai dan jembatan.
Kami pun mengurus tiket masuk Gunung Lawu seharga Rp.5.000 per orang. Lalu kami pun makan malam dengan Soto Ayam. Aku sempat membeli stiker di tempat penjualan souvenir. Ya, aku memang selalu menyempatkan uangku untuk membeli stiker tiap kali menaiki gunung. Sambil makan, kami menunggu Geblek yang sedang mengantarkan sebuah ransel Pak Emo yang terbawa oleh kami, serta menunggu Peni dan Ragil yang katanya akan ikut naik.
Kami lalu nongkrong di dalam Pos Pemantauan BC Cemoro Sewu untuk menghindari udara malam yang dingin. Menurut info di Pos Pemantauan Cemoro Sewu, jarak BC ke Pos 1 adalah 1,99 km, Pos I–Pos II 2,0 km, Pos II–Pos III 0,7 km, Pos III–Pos IV 1,2 km, Pos IV–Pos V 0,3 km, serta pos V hingga Puncak Lawu ‘Hargo Dumilah’ 0,8 km. Suhu rata-rata di Puncak 4-5 derajat Celcius. Jarak tempuh perjalanan 4-5 jam (cepat) dan 6-7 jam (normal).
Setelah beres makan dan menunggu di Pos Pemantauan BC, waktu telah menunjukkan pukul 21.00 lewat beberapa menit. Akhirnya, kami dan Jo memutuskan untuk naik tanpa menunggu Peni cs. Kami pun berjalan melewati gerbang BC Cemoro Sewu dan jalan setapak. Bulan purnama bersinar dengan sangat terang, malam itu memang sangat amat cerah.
Jalur Cemoro Sewu ternyata jalur yang sudah ‘tidak natural’. Jalan dari BC hingga ke Sendang Drajat (pos 5) telah tersusun batu-batu yang menyerupai anak tangga. Berdasarkan monument di BC, total biaya pembuatan tangga batu ini mencapai Rp.35 juta yang berasal dari Dana APBD Pemda Jatim. Proyek pengerjaan tangga batu ini dibuat pada bulan Januari hingga Maret 1985.
Katanya, jalur ini memang merupakan jalur untuk pendaki pemula. Selain itu, jalurnya sangat terbuka – tidak ada hutan apalagi pohon besar tidak ada yang nampak. Terbayang olehku, betapa panasnya bila melewati jalur ini pada siang hari. Tapi jika mendaki di malam yang secerah dan seterang malam itu, suasananya cukup menyenangkan. Lampu-lampu kota yang berwarna-warni berpendar di kejauhan. Bintang-bintang di langit pun bertebaran, berkerlap-kerlip seolah-olah mengerling kepada kami.
Setelah berganti-ganti porter, kami pun tiba dengan selamat di Pos Sendang Drajat – sebuah pos tempat di mana katanya ada warung. Waktu itu sekitar pukul 02.00 pagi kurang beberapa menit. Sendang Drajat adalah sebuah tempat keramat dimana ada sebuah tempat sumber air. Untuk mengambil air di penampungan air ini, kita harus melepas alas kaki kita. Selain Sendang Drajat, di daerah puncak ini ada pula Hargo Dalem, Pawon Sewu (tempat Prabu Baramijaya memberikan titah dan wejangan), Sumur Jolotundho, serta Kawah Kecil Condrodimuko.
Kami pun membangun tenda dan flysheet, sembari Dinna dan Onye memasak mie telur untuk makan subuh kami. Suhu udara dingin, mungkin sekitar 8 derajat Celcius. Setelah makan, kami pun tidur dan berencana untuk bangun melihat sunrise.
Keesokan paginya, sekitar pukul setengah 8 pagi, aku terbangun karena tenda dirubuhkan oleh Onye. Aku memang bangun telat, tapi ternyata yang lain pun tidak ada yang benar-benar melihat sunrise pada pagi itu. Haha. Kami pagi itu makan mie korned berbarengan. Setelah packing dan mengambil air di Sendang Drajat, pada pukul 9 kami pun muncak. Kami memutuskan untuk langsung muncak saja, walaupun sebenarnya ada Hargo Dalem, tempat adanya makam Prabu Brawijaya di jalur yang berlawanan dengan jalur muncak. Alasannya karena kami sedang ‘mengejar’ waktu solat Jumat.
Dari Sendang Drajat hingga ke Puncak Lawu yang dinamakan Hargo Dumilah setinggi 3265 mdpl membutuhkan waktu tempuh hanya sekitar setengah jam. Sesampainya di Puncak, telah ada beberapa rombongan yang telah tiba duluan. Puncak Lawu berupa dataran kecil seluas 5×5 meter yang ada tugu dengan sponsor Kiki Buku Tulis *what de …*.
Di puncak ini sama sekali tidak ada yang istimewa. Yah, tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan puncak Gunung Slamet (3428 mdpl) yang kudaki beberapa bulan sebelumnya. Tidak ada kawah, tidak ada feeling yang cukup menggelitik adrenalin.
Hanya saja dari kejauhan di sebelah selatan kita bisa melihat Gunung Merbabu dan Merapi, serta Gunung kembar Sindoro-Sumbing di baliknya. Serta dari kejauhan di sebelah barat, terlihat pula Gunung Semeru serta Arjuno. Serta punggungan yang menyatu dengan puncak Hargo Dumilah di mana ada tower di puncaknya terlihat di sebelah Utara. Awan menutupi pemandangan di bawah kami, sehingga kami tidak dapat melihat kota-kota di bawah kami. Seandainya tidak ada awan seperti tadi malam, aku bertaruh bahwa kami akan melihat pemandangan yang menakjubkan membentang di hadapan kami.
Setelah foto-foto narsis bareng, kami pun turun gunung dengan melewati jalur Cemoro Kandang yang melewati area Jawa Tengah. Jalur ini ternyata sangat menyebalkan. Jalannya memang landai tapi berputar-putar. Aku sempat mencium bau belerang saat perjalanan turun.
Akhirnya, aku yang telah cukup sebal dengan kondisi jalan yang berputar-putar, mengambil jalur air yang licin dan merupakan jalan lurus pintas yang memotong jalan setapak yang berputar-putar menyebalkan. Menuruni jalur ini mengingatkanku saat menuruni Gunung Ciruangbadak hingga Cibodas di daerah Lembang, Bandung Utara. Rangkaian gunung yang menyerupai sesar membentang di hadapan kami. Pemandangan sangat indah. Sayang awan menutupi pemandangan kami.
Jalur Cemoro Kandang memiliki 5 pos sebelum sampai ke puncak. Pos IV Cokrosuryo berada di ketinggian 3025 mdpl, Pos III Penggik 2780 mdpl, Pos II Tamansari Atas 2470 mdpl, serta Pos 1 ssTamansari Bawah 2300 mdpl. Jarak antar pos relative jauh, terutama jarak dari Pos 3 ke Pos 2. Kami harus menempuh waktu sekitar 1,5 jam padahal kami sedang turun gunung. Kami melakukan 3 kali pindah punggungan sebelum sampai di Pos 2. Bahkan, dari pos 1 hingga BC Cemoro Kandang pun bisa dibilang cukup jauh, ditempuh sekitar sejam jalan kaki. Total perjalanan turun gunung dari Puncak hingga BC adalah sekitar 4 jam, kami berangkat dari Puncak sekitar pukul 10 pagi, dan tiba di bawah BC sekitar pukul 13.45.
Sesampainya di BC Cemoro Kandang yang berada tepat di pinggir jalan, kami pun segera menuju warung dan bertemu dengan Geblek yang telah menunggu duluan. Aku memesan Soto Ayam serta Perasan Air Jeruk. Sebelumnya, aku pun membeli souvenir berupa kaos Pendakian Lawu. Sembari menunggu Aldi dan Dinna yang baru tiba sekitar 45 menit kemudian, kami pun mengobrol dan bercerita tentang perjalanan menuruni gunung tadi. Kami sepakat bahwa jalur yang kami lewati barusan sangat membosankan dan jauh. Memang jaraknya lebih jauh sekitar 4 km (katanya) daripada jalur Cemoro Sewu tempat kami naik tadi malam.
Setelah Aldi dan Dinna tiba, kami pun segera mengangkut bawaan kami ke atas Jeep milik Pak Emo yang telah stanby sejak tadi siang di BC Cemoro Kandang. Dari kejauhan terlihat BC Cemoro Sewu yang hanya berjarak sekitar 1 km dari BC Cemoro Kandang.
Jeep pun mengangkut kami. Ternyata tidak tanggung-tanggung, pak Emo membawa kami hingga kampus FH UNS di sekre Govala. Padahal aku telah bersiap-siap turun di terminal Tawangmangu – karena kukira akan diturunkan di sana. Sepanjang perjalanan sangat menyenangkan. Jalanannya sangat mulus dengan lembah dan bukit selalu menyertai kami sepanjang perjalanan – terutama di daerah Tawangmangu. Mirip dengan daerah High Valley di Amerika. Aku dan Heri berpendapat bahwa jalanan seperti ini akan sangat mengasikkan untuk Touring dengan sepeda motor.
Sekitar pukul setengah 5 sore, kami tiba di sekre Govala. Kaki dan badan pegal-pegal. Mobil jeep Pak Emo mogok sehingga ia dijemput oleh anak dan isterinya. Kami pun berkenalan dengan putri Pak Emo yang cukup manis bernama Indi. Hehe. Setelah Pak Emo pulang, kami lalu beristirahat dan mandi.
Malam harinya, saat makan malam, kami diajak oleh Jo untuk pergi ke pantai di daerah Pacitan keesokan harinya. Sempat terjadi konflik kecil, ketika Dinna ingin pergi ke Jogja sedangkan kami sepakat pergi ke Pacitan. Akhirnya Aldi memutuskan akan menemani Dinna ke Jogja, sedangkan aku, Heri, Gian, Ari, dan Rahman berangkat bersama Jo ke Pacitan. Geblek tidak bisa ikut. Malam itu, kami makan di warung Susu Murni dan makan Nasi Kucing. Nasi Kucing adalah nasi goreng (dalam porsi sedikit) yang dapat dimakan dengan gorengan atau pun jenis gorengan yang lain (ati ampela, usus ayam, dll).
Setelah makan, kami pun beranjak tidur pada sekitar pukul 22. Aku sendiri masih sempat menonton film Wall-E sebelum pergi tidur pada pukul setengah 12 malam. Setelah membalas sms dari Ucy yang sedang berada di Bandung, aku pun tidur hingga keesokan paginya.
Pada pukul 6 pagi, aku segera mandi karena kami harus segera berangkat ke Pacitan. Kukira jarak Solo – Pacitan tidak begitu jauh, ternyata jauhhh sekali. Peserta touring kali ini adalah aku, Heri, Gian, Rahman, Ari ‘Sangap’, dan Jo. Kami berangkat dari sekre Govala sekitar pukul 6.25. Jo yang membonceng Sangap berada di depan menjadi penunjuk jalan bagi kami. Setelah menaiki motor sekitar 2 jam, melewati kota-kota Sukoharjo, kota GXXX (lupa namanya – ntar liat peta dulu :P ) dan mampir untuk sarapan Tongseng (semacam soto gule daging) di terminal Sukoretno, kami segera melanjutkan perjalanan. Rata-rata kecepatan motor kami 80 km/jam, tapi tetap saja tidak sampai-sampai di Pacitan. Malah motor Suzuki Swift yang dikendarai Jo terkena bocor ban.
Baru beberapa saat setelah melewati perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur, kami tiba di gerbang Kota Pacitan. Pacitan ternyata sebuah Kota yang mengusung Jargon “Pacitan Kota Seribu Satu Goa”. Kami pun berfoto di depan gerbang masuk Kota Pacitan itu dengan selftimer kamera Heri yang ditaruh di permukaan jalan – yang akhirnya gagal karena focus malah ada pada batu kerikil di jalanan.
Setelah menggeber sepeda motor dengan kecepan 80 km/jam dan terus menerus mengapit sepeda motor Jo, kami pun akhirnya tiba di kota Pacitan. Kota ini berada di pesisir pantai. Awalnya kami ditawarkan Jo untuk pergi ke Pantai yang ‘ramai’ (aku lupa namanya), tapi akhirnya kami diajak ke pantai yang lebih ‘sepi’.
Setelah melanjutkan perjalanan sejauh sekitar 10 km dari pusat kota Pacitan, kami tiba di Pantai Serau. Saat itu sekitar pukul 11. Pantai ini adalah pantai yang indah. Terdapat beberapa teluk kecil yang berombak cukup besar. Ada pula pulau kecil berada agak di tengah laut yang terlihat menonjol di seberang sana – ternyata itu pulau karang yang ditumbuhi semak-semak. Pasirnya pun pasir putih yang indah. Pokoknya pantai ini patut dikunjungi apabila kamu singgah di Pacitan. Sayang sekali, matahari bersinar sangat amat terik.
Selama bermain-main di pantai bersama Jo, ia ternyata adalah pribadi yang mengasikkan. Ia seolah-olah telah mengenal kami sejak lama. Ia pun baik hati, bahkan ia tidak mau dibayari saat makan, membayar bensin ataupun saat ban motornya pecah. Ya, untung saja kami adalah pecinta alam.
Banyak untungnya saat menjadi pecinta alam. Karena ikatan solidaritas antar pecinta alam yang begitu kuat, para pecinta alam akan selalu disambut seperti raja saat singgah di sekre PA lainnya. Apabila jika mereka tahu bahwa kita datang dari jauh. Kita akan dijamu dengan sangat baik. Mereka akan membelikan kita makanan, cemilan, dan berbagai akomodasi lainnya.
Itulah mengapa Gugum, Sigit, cs begitu sibuk menjamu apabila ada PA dari kampus lain yang mampir ke sekre KMPA. Itu karena mereka telah sering menerima jamuan yang baik saat singgah di sekre PA lainnnya. Mereka sadar bahwa mereka harus membalas perlakuan baik saat mereka berkunjung, maka mereka membalasnya dengan cara menjamu setiap PA yang mampir ke sekre kami dengan baik. Ya, sebelum kesadaran untuk menjamu dengan baik itu muncul, kita memang harus pernah merasa dijamu dengan baik. Itulah yang mungkin kurang dimiliki oleh anggota kami yang lainnya.
Kami berfoto dan bermain-main dengan ombak dengan riang. Pada sekitar pukul 13, kami pun diajak Jo berangkat ke Goa Gong. Kami menempuh jarak sekitar 20 km dari Pantai Serau ke Goa Gong. Ternyata Goa Gong adalah sebuah goa yang dijadikan tempat wisata oleh pemerintah Pacitan. Bagiku, goa ini terkesan aneh dan dibuat-buat. Kami memasuki goa ini sejauh sekitar 20 meter ke bawah permukaan tanah. Di goa ini, telah dibuat tangga dengan pegangannya. Lampu-lampu dengan berbagai warna bertebaran di dalam goa. Ada pula kipas angin besar yang suaranya berisik di beberapa tempat. Intinya, goa ini menjadi jauh dari menarik bagi kami – apa mungkin karena kami seorang pecinta alam yang menyukai alam yang natural?? Entahlah, yang jelas memang tidak ada yang cukup menarik di area wisata Goa Gong. Walaupun di area wisata Goa Gong ada juga tempat pemandian air panas yang tidak sempat kami kunjungi.
Pukul setengah 3 sore, kami beranjak dari area parkir wana wisata Goa Gong menuju Solo. Kami memang harus bergegas karena kami harus berada di stasiun Solojebres pukul 8 malam agar tidak ketinggalan kereta Kahuripan menuju Bandung.
Setelah sempat mampir untuk makan Soto Ayam beberapa saat setelah melewati perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur, kami pun memacu sepeda motor kami menuju Solo. Akulah yang menyetir sepeda motor Supra-X dan membonceng Rahman. Jalanan yang mulus serta kondisi kendaraan yang sepi membuatku memacu sepeda motor dengan kencang. Bahkan beberapa kali aku mencapai kecepatan 110 km/jam, untuk mencoba secepat apa motor yang aku pacu dapat bergerak. Hasilnya kecepatan tertinggi yang dapat kucapai sekitar 115 km/jam. Sepanjang perjalanan, kami memang memacu sepeda motor kami dengan kencang. Kami begitu menikmati touring kami kali ini. Sangat menyenangkan dapat memacu adrenalin dengan memacu dan mengebutkan motor kami secepat yang kami bisa. Tapi kami tidak menyempatkan diri untuk mengisi bensin. Alhasil, sepeda motorku kehabisan bensin sesaat setelah melewati perbatasan kota Solo. Untung saja aku masih sempat memberitahu Heri dan Gian. Mereka yang kemudian membelikan kami bensin dengan botol Aqua 1,5 liter.
Setelah mengisi bensin, kami pun tiba di sekre Govala sekitar pukul setengah 6 sore. Setelah melihat speedometer, ternyata jarak tempuh dari Pacitan hingga Solo adalah 140 km! Artinya, hari itu kami telah menempuh perjalanan pulang-pergi sejauh 280 km!!! Jarak yang tidak kubayangkan sebelumnya. Hari itu, Jo telah membawaku melakukan perjalanan dengan sepeda motor terjauh yang pernah kulakukan sebelumnya – apalagi ditempuh hanya dalam waktu satu hari. Gile bener…
Kami segera mandi kemudian berkemas-kemas. Kami pun sempat melihat-lihat foto kami pada hari itu dan berkomentar serampangan. Lalu kami pergi dari sekre Govala menuju stasiun Solojebres pada pukul setengah 8 dengan diantar naik motor oleh Sembur, Dani, Jo, Muhsin, dan Peni. Kami berlima pun berpamitan dengan mereka setelah kereta Kahuripan diumumkan akan segera tiba. Sementara itu, Muhsin tetap tinggal di Solo karena ia harus berangkat ke Jogja esok harinya. Sekitar pukul 20.10, kereta Kahuripan dengan tujuan Padalarang pun berangkat dari Stasiun Solojebres. Kami pun naik kereta itu dan mencari posisi di gerbong terdepan.
Aku tertidur selama perjalanan hingga keesokan harinya. Aldi dan Dinna tiba-tiba telah berada di lantai di samping tempat dudukku. Mereka ternyata naik kereta dari Stasiun Jogja dan setelah bersms-an dengan anak-anak segera bergegas ke gerbong terdepan. Kami pun tiba di Stasiun Kiaracondong pada sekitar pukul 9 pagi. Setelah mencarter angkot dari Kircon, kami pun tiba dengan sehat walafiat di SEL pada pukul 10.
Yah, liburan kali ini cukup berkesan bagiku.
All in one vacation.
Setelah mendaki gunung setinggi 3265 mdpl, kami lalu bermain ombak di pesisir pantai berketinggian 0 mdpl, bahkan kemudian masuk ke bawah tanah di Goa Gong sedalam 20 meter, lalu kemudian melakukan Touring bersepeda motor sejauh 280 km pulang-pergi. Semua itu dilakukan hanya dalam waktu 2 hari saja…
From 3265 to zero, then negative mdpl…

Berhati-hatilah : Banyak Jebakan di Review of Terms Facebook

Posted in ngomong berat dengan kaitan (tags) , , , , , on 6 Agustus 2009 by stafarda

Facebook : anak muda jaman sekarang sering menyingkatnya jadi fesbuk, atau FB (ef-be) memang sangat populer saat ini. Layanan gratis dengan tingkat kecanggihan aplikasi yang sangat modern dan interaktif benar-benar telah membuat addict para pengguna fesbuk. Tiada hari tanpa gonta-ganti status fesbuk. Sampe-sampe waktu lagi boker (alias berak) sekalipun tetap mereka cantumin di status akun fesbuk mereka masing-masing. Misalnya, “Kok berak gw susah keluarnya yah???…” Atau gini, “Duhh mencret deh gue…”

Tapi siapa sangka, ternyata di balik aplikasi super-canggih yang gratisan tersebut, ternyata pihak pengelola facebook tidak begitu saja memberikan program aplikasi social-networking nya secara cuma-cuma. Di balik itu, ternyata mereka memanfaatkan kita untuk kepentingan mereka (baca: mungkin juga kepentingan pihak Amerika atau zionis Yahudi).

Loh kok bisa?? Gimana caranya?? Pasti di antara anak muda pembaca blog ini, ada yang bertanya kayak gitu. Untuk tahu jawabannya, baca aja artikel di bawah ini :

——————————————————————————————————-

Dewasa ini situs-situs jejaring social banyak bertaburan di internet, seperti: Facebook,Friendster,Yuwie,My Space,dll. Setiap kali kita melakukan regestrasi atau ikut bergabung pertama-tama kita akan disuguhi dengan apa yang namanya Term of Use atau Content Policy. Term of Use atau Content Policy adalah Suatu aturan yang dibuat oleh pihak pertama untuk mengikat pihak kedua (end user) agar mengikuti apapun yang menjadi konsekuensi ketika end user mengikuti, mendaftar ataupun menggunakan layanan dari pihak pertama.

Kebanyakan aturan tersebut isinya banyak menimbulkan kerugian pada end user atau pengguna. Apalagi kebanyakan end user itu tidak membaca details isi dari Term of Use tersebut. Lebih-lebih di Indonesia yang masyarakatnya masih alergi dengan penggunaan kata-kata berbahasa inggris jadi tanpa membaca atau barangkali di lihat aja tidak, ujuk-ujuk langsung Agree dan Ok. Padahal dengan mengklik agree atau ok berarti itu tanda setuju terhadap aturan-aturan yang berlaku pada layanan tersebut.

Kontrovesi-kontrovesi isi term of use sudah dimulai dari awal paragraph. Misalnya pada bagian Bahasan aturan awal “Term of Use” è

“We reserve the right, at our sole discretion, to change, modify, add, or delete portions of these Terms of Use at any time without further notice. If we do this, we will post the changes to these Terms of Use on this page and will indicate at the top of this page the date these terms were last revised.” Kurang lebih artinya “Kami memiliki hak, kami kebijakannya sendiri, mengubah, memodifikasi, menambah, atau menghapus bagian dari Ketentuan Penggunaan ini setiap saat tanpa pemberitahuan lebih lanjut”. Kontrovesi itu terletak Facebook berhak mengubah,menambah, atau menghapus bagian dari isi Term of Use tersebut tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Disini sangat merugikan pihak kedua atau end user karena secara hukum end user telah mengalami kekalahan dahulu.

Kontroversi tidak berhenti sampai disitu, saya mencoba mereview satu persatu isi dari Term of Use Facebook.
1. “Your continued use of the Service or the Site after any such changes constitutes your acceptance of the new Terms of Use. If you do not agree to abide by these or any future Terms of Use, do not use or access (or continue to use or access) the Service or the Site. It is your responsibility to regularly check the Site to determine if there have been changes to these Terms of Use and to review such changes.”
Artinya kurang lebih Jika Anda tidak setuju untuk mematuhi ini atau masa depan Ketentuan Penggunaan, tidak menggunakan atau mengakses (atau terus menggunakan atau mengakses) Layanan atau Situs. Merupakan tanggung jawab Anda untuk secara teratur memeriksa Situs untuk menentukan apakah telah terjadi perubahan Ketentuan Penggunaan ini dan untuk meninjau perubahan.

Kontroversi disini terletak pada end user diwajibkan selalu mengecek isi term of use karena pihak Facebook Inc. melakukan perubahan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Sebagian end user pasti malas mengecek ulang term of use tersebut disinilah kelihaian pihak Facebook membaca celah tersebut dan mungkin pihak facebook mengambil keuntungan dari isi term of use tersebut.

2. User Content Posted on the Site
Pada bahasan ini juga menimbulkan kontroversi isinya kurang lebih seperti ini “When you post User Content to the Site, you authorize and direct us to make such copies thereof as we deem necessary in order to facilitate the posting and storage of the User Content on the Site. By posting User Content to any part of the Site, you automatically grant, and you represent and warrant that you have the right to grant, to the Company an irrevocable, perpetual, non-exclusive, transferable, fully paid, worldwide license (with the right to sublicense) to use, copy, publicly
perform, publicly display, reformat, translate, excerpt (in whole or in part) and distribute such User Content for any purpose, commercial, advertising, or otherwise, on or in connection with the Site or the promotion thereof, to prepare derivative works of, or incorporate into other works, such User Content, and to grant and authorize sublicenses of the foregoing. You may remove your User Content from the Site at any time. If you choose to remove your User Content, the license granted above will automatically expire, however you acknowledge that the Company may retain archived copies of your User Content. Facebook does not assert any ownership over your User Content; rather, as between us and you, subject to the rights granted to us in these Terms, you retain full ownership of all of your User Content and any intellectual property rights or other proprietary rights associated with your User Content.”

Kurang lebih artinya “Saat Anda posting sesuatu baik gambar atau apapun ke facebook, maka Anda mengizinkan facebook mengcopy untuk tujuan apapun. Dengan memposting sesuatu ke facebook maka secara otomatis Anda telah memberikannya kepada facebook dimana, tidak dapat ditarik kembali, terus menerus, non eksklusif, dapat dipindah tangankan, dianggap lunas, utk dipergunakan dimanapun diseluruh dunia, untuk dicopy, ditampilkan pada publik, reformat, dikutip (seluruhnya atau sebagian) dan didistribusikan untuk tujuan apapun, secara komersial, iklan, dan sebagainya. Jika Anda memutuskan untuk menghapusnya, facebook dapat menyimpan copynya dan mempergunakannya untuk tujuan apapun.“

Kontrovesi disini terletak pada Facebook berhak memiliki atau mengcopy, dipindah tangankan segala sesuatu yang end user upload ke Facebook. Sesuatu yang di upload ke facebook tela menjadi bagian milik dari facebook dan dapat dipindahtangankan dan facebook dapat mempergunakannya apapun tujuannya. Walaupun end user telah menghapusnya facebook telah memilikinya.
Berhati-hatilah!!!!!

Sumber : file berekstensi doc hasil browsing teman saya

——————————————————————————————————–

So, sadarkah kamu kalau kita telah ditipu mentah-mentah oleh para petinggi facebook itu???

Ngga ada yang cuma-cuma di dunia ini, Bung! HARI GINII MAU GRATISAN???

Slm,

-pengguna fesbuk yang pengen anak muda indonesia punya aplikasi social-networking sendiri-

Isi Blog Klaim Pertanggungjawaban Bom Marriot-Ritz

Posted in ngomong berat dengan kaitan (tags) , , , , , , , , , , , on 30 Juli 2009 by stafarda

Blog berisi klaim pertanggungjawaban Bom Marriot-Ritz ternyata sudah dipublikasikan sejak tanggal 18 Juli 2009, yaitu sehari setelah terjadi ledakan di hotel JW Marriott & Ritz Carlton. Hanya saja baru booming di publik beberapa hari terakhir.

Buat yang belum tau seperti apa pesan dari blog yang berisi motif pemboman JW Marriot dan Ritz Charlton yang katanya dibuat oleh antek-antek Nurdin M Top, silakan di baca di bawah ini :

————————————————————————————————————————————————-

MEDIA TANDZIM AL QO”IDAH INDONESIA

KETERANGAN RESMI TANDZIM AL QO”IDAH INDONESIA

ATAS AMALIYAT JIHADIYAH ISTISYHADIYAH

DI HOTEL JW. MARRIOT JAKARTA

اَلْحَمْدُ ِللهِ مُعِزِّ اْلإِسْلاَمِ بِنَصْرِه، وَمُذِلِّ الشِّرْكِ بِقَهْرِه، وَمُصَرِّف اْلأُمُور بِأَمْرِه، وَمُسْتَدْرِجِ اْلكَافِرِيْنَ بِمَكْرِه، اَلَّذِي قَدّرَ اْلأَيَّامَ دُولاً بِعَدْلِه، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى مَنْ أَعْلَى اللهَُ مَنَارَ اْلإِسْلاَمِ بِسَيْفِه.

أمَّا بعد

Ini adalah keterangan resmi dari Tandzim Al Qo”idah Indonesia untuk ummat Islam dengan Amaliyat Jihadiyah Istisyhadiyah di Hotel JW. MARRIOT Jakarta, pada hari Jum”at pagi, tanggal 17 juli 2009 M./24 Rojab 1430 H. yang dilakukan oleh salah satu ikhwah mujahidin terhadap “KADIN Amerika” di Hotel tersebut.

Sesungguhnya telah sempurna pelaksanaan Amaliyat Istisyhadiyah dengan karunia Allah dan karomah-Nya setelah melakukan survey yang serius dan pengintaian yang mendalam terhadap orang-orang kafir sebelumnya.

Dan sungguh benar firman Allah :

فَلَمۡ تَقۡتُلُوهُمۡ وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ قَتَلَهُمۡ‌ۚ وَمَا رَمَيۡتَ إِذۡ رَمَيۡتَ وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ رَمَىٰ‌ۚ وَلِيُبۡلِىَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ مِنۡهُ بَلَآءً حَسَنًا‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ۬ (سورة الأنفال : 17).

“Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui”. (QS. Al Anfal : 17).

Ini juga sesuai dengan firman Allah Ta”ala :

قَـٰتِلُوهُمۡ يُعَذِّبۡهُمُ ٱللَّهُ بِأَيۡدِيڪُمۡ وَيُخۡزِهِمۡ وَيَنصُرۡكُمۡ عَلَيۡهِمۡ وَيَشۡفِ صُدُورَ قَوۡمٍ۬ مُّؤۡمِنِينَ (سورة التوبة : 14).

“Perangilah mereka, niscaya Allah akan menghancurkan mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman”.(QS. Attaubah : 14).

Agar ummat ini mengetahui bahwasanya Amerika, khususnya orang-orang yang yang berkumpul dalam majlis itu, mereka adalah para Pentolan Bisnisman dan Inteljen di dalam bagian ekonomi Amerika. Dan mereka mempunyai kepentingan yang besar dalam mengeruk harta negeri Indonesia dan pembiyaan tentara kafir (Amerika) yang memerangi Islam dan kaum muslimin. Dan kami akan menyampaikan kabar gembira kepada kalian wahai ummat Islam, bi idznillahi Ta”ala dengan mengeluarkan cuplikan-cuplikan film dari Amaliyat Istisyhadiyah ini insya Allah.

Dan kami beri nama Amaliyat Istisyhadiyah ini dengan : “SARIYAH DR. AZHARI”.

Kami ber-Husnu Dhon kepada Allah bahwa Allah akan menolong kami dan menolong kaum muslimin dalam waktu dekat ini.

الله أكبر ولله العزة ولرسوله والمؤمنون

Amir Tandzim Al Qo”idah Indonesia

Abu Muawwidz Nur Din bin Muhammad Top

Hafidzohullah

KETERANGAN RESMI DARI TANDZIM AL QO”IDAH INDONESIA

ATAS AMALIYAT JIHADIYAH ISTISYHADIYAH

DI HOTEL RIZT CALRTON JAKARTA

اَلْحَمْدُ ِللهِ مُعِزِّ اْلإِسْلاَمِ بِنَصْرِه، وَمُذِلِّ الشِّرْكِ بِقَهْرِه، وَمُصَرِّف اْلأُمُور بِأَمْرِه، وَمُسْتَدْرِجِ اْلكَافِرِيْنَ بِمَكْرِه، اَلَّذِي قَدّرَ اْلأَيَّامَ دُولاً بِعَدْلِه، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى مَنْ أَعْلَى اللهَُ مَنَارَ اْلإِسْلاَمِ بِسَيْفِه.

أمَّا بعد

Ini adalah keterangan resmi dari Tandzim Al Qo”idah Indonesia untuk ummat Islam dengan Amaliyat Jihadiyah Istisyhadiyah di Hotel Rizt Calrton Jakarta, pada hari Jum”at pagi, tanggal 17 juli 2009 M./24 Rojab 1430 H. yang dilakukan oleh salah satu ikhwah mujahidin terhadap antek-antek Amerika yang berkunjung di Hotel tersebut.

Sesungguhnya Allah menganugerahkan kepada kami jalan untuk menyerang Hotel termegah yang dimiliki oleh Amerika di Ibukota Indonesia di Jakarta, yaitu Rizt Calrton. Yang mana penjagaan dan pengamanan di sana sungguh sangatlah ketat untuk dapat melakukan serangan seperti yang kami lakukan pada kali ini.

وَمَڪَرُواْ وَمَڪَرَ ٱللَّهُ‌ۖ وَٱللَّهُ خَيۡرُ ٱلۡمَـٰكِرِينَ (سورة ال عمران : 54).

“Mereka membuat Makar dan Allah pun membuat Makar. Dan Allah itu Maha Pembuat Makar”. (QS. Ali Imron : 54).

Adapun sasaran yang kami inginkan dari amaliyat ini adalah :

1. Sebagai Qishos (pembalasan yang setimpal) atas perbuatan yang dilakukan oleh Amerika dan antek-anteknya terhadap saudara kami kaum muslimin dan mujahidin di penjuru dunia
2. Menghancurkan kekuatan mereka di negeri ini, yang mana mereka adalan pencuri dan perampok barang-barang berharga kaum muslimin di negeri ini
3. Mengeluarkan mereka dari negeri-negeri kaum muslimin. Terutama dari negeri Indonesia
4. Menjadi pelajaran buat ummat Islam akan hakikat Wala” (Loyalitas) dan Baro” (Permusuhan), terkhusus menghadapi datangnya Klub Bola MANCESTER UNITED (MU) ke Hotel tersebut. Para pemain itu terdiri dari para salibis. Maka tidak pantas ummat ini memberikan Wala”nya dan penghormatannya kepada musuh-musuh Allah ini
5. Amaliyat Istisyhadiyah ini sebagai penyejuk dan obat hati buat kaum muslimin yang terdholimi dan tersiksa di seluruh penjuru dunia

Yang terakhir ….. bahwasanya Amaliyat Jihadiyah ini akan menjadi pendorong semangat untuk ummat ini dan untuk menghidupkan kewajiban Jihad yang menjadi satu-satunya jalan untuk menegakkan Khilafah Rosyidah yang telah lalu, bi idznillah.

Dan kami beri nama Amaliyat Jihadiyah ini dengan : “SARIYAH JABIR”

الله أكبر ولله العزة ولرسوله والمؤمنون

Amir Tandzim Al Qo”idah Indonesia

Abu Mu”awwidz Nur Din bin Muhammad Top

Hafidzohullah

Diposkan oleh mediaislam di 22:05
————————————————————————————————————————————————

Gw gak akan komentar atau nyumpahin apa-apa lagi…

Pelaku pemboman dan penulis blog itu udah banyak banget mendapet komentar yang menghina mereka. Kalau mau lihat komen-komennya, silakan langsung klik blog aslinya di sini

Lucu-lucu loh komentarnya, dan kalau dipikir-pikir emang banyak benernya juga… Salah satunya komentar yang gw inget adalah komentar Mr. yang bilang kalau pertandingan kedua antara Malaysia dan Manchester United yang diadakan di stadion Malaysia dibayar pake duit dari Indonesia

slm,

-anak muda pengutuk pelaku pemboman-