Baru Lulus Kuliah? Mau Dibawa Kemana Hidup Lo??


Note: TULISAN INI DIBUAT UNTUK SHARING – KARENA GW YAKIN, PASTI BANYAK PARA LULUSAN KAMPUS MUDA DI LUAR SANA YANG BINGUNG AKAN DIBAWA KE MANA HIDUPNYA SETELAH LULUS.
DAN TULISAN INI BANYAK BERCERITA SECARA PERSONAL, KARENA BERDASARKAN PEMIKIRAN DAN PENGALAMAN PRIBADI GW SENDIRI.

Pada saat menjelang gw diwisuda – setelah 5,5 tahun menjadi mahasiswa (hampir) abadi di kampus – gw masih bingung, mau dibawa hidup gw setelah gw lulus dari kampus gajah ini?

Terus terang, pada dasar lubuk hati gw yang terdalam, gw enggan untuk melepas status sebagai mahasiswa.
Kenapa? Sebagai mahasiswa, gw bisa bebas-sebebasnya berekspresi, masih bebas dari tuntutan kewajiban untuk bertanggung jawab sepenuhnya atas diri gw, masih bebas traveling ke mana pun gw mau, bebas melakukan apa saja yang gw suka, bebas melakukan hobi-hobi gw yang bejibun – dan tetap mendapat uang saku dari orang tua…

Haha, memang terkesan kekanak-kanakan, tapi why not?? Alhamdulillah keluarga gw bukan orang yang susah, jadi gw memang gak ada tuntutan untuk cepat-cepat lulus. Selain itu, kenapa harus cepat-cepat lulus, kalo gw memang menikmati kehidupan gw di kampus??

Tapi jujur, yang gw nikmati di kampus bukanlah kehidupan akademisnya (kuliah, praktikum, tugas, dll), tapi justru kehidupan ekstra kurikulernya. Gw senang sekali ikut berbagai macam Unit Kegiatan Mahasiswa – wah banyak sekali komunitas-komunitas (termasuk organisasi kemahasiswaan) yang gw ikutin. Ada belasan unit/komunitas kampus yang gw aktif ikuti kegiatannya – tapi hanya kegiatan dan kegiatan kumpul-kumpulnya, kalau rapat-rapat serius rasanya males buat partisipasi. Hahaha.

Gw sangat menikmati ikut kegiatan-kegiatan itu.

Gw pikir, lebih baik berlama-lama sepuasnya menikmati hidup selagi masih menjadi mahasiswa, melakukan apa pun yang masih ingin berhasrat untuk kita lakukan, daripada setelah lulus kuliah tidak ikhlas, berkeluh-kesah akan pekerjaan yang memberatkan, dan selalu berpikir lebih enak menjadi mahasiswa…

Mending puas-puasin menjadi mahasiswa selagi kebebasan ada di tangan kita, kemudian setelah segala hasrat terpuaskan, baru TOTALITAS memasuki dunia nyata (yang katanya keras dan kejam). Naik gununglah, travelinglah, berorganisasilah, nongkrong-nongkrong lah sepuasnya, ikutin segala kegiatan (yang positif tentunya) di kampus.

Kecuali menjadi Gamers yaa, menurut gw itu adalah hal paling MEMBUANG WAKTU dan NYAMPAH untuk dilakukan.

Jangan lakukan itu.

Setelah gw puas menjalani 5 tahun lebih kehidupan kampus, gw mulai tidak betah. Teman-teman sepermainan gw mulai banyak yang hilang dari kampus. Teman main gw udah gak sebanyak dulu lagi. Gw mulai merasa agak kesepian. Teman-teman main gw kebanyakan adik-adik angkatan gw, ada yang bahkan beda angkatan sampe 5 tahun di bawah gw!

Gw mendengar dari obrolan (dan tweet-tweet) teman-teman gw yang mulai memasuki dunia kerja. Gw mulai iri. Gw mulai sangat berhasrat untuk lulus, gw ingin merasakan pula kehidupan dunia kerja yang sepertinya penuh tantangan. Hati gw mulai memberontak.

PEER-PRESSURE memang signifikan perannya ya! :D

Teman-teman gw sudah banyak yang kuliah lagi di luar negeri, ada pula yang menjadi karyawan professional yang mereka bercerita tentang negosiasi, presentasi, penjualan mereka, bos-bos mereka, gaji mereka… Nampaknya mereka mengalami banyak hal menarik di luar sana.

Sedangkan gw masih saja di ITB, berkutat dengan kehidupan di Bandung. Masih nongkrong dan jalan-jalan saja, bersama adik-adik kelas, yang bahkan angkatannya berbeda 5 tahun dengan gw!

Barulah gw BERTEKAD untuk lulus. Gw inget banget, wisuda ITB Oktober 2011. Saat itu wish-night HME ITB, gw liat seremoni-seremoni yang diadain anak-anak himpunan. Terus saat gw juga bertugas sebagai protokoler wisuda di SABUGA yang prosesinya begitu indah, gw berjanji dalam hati “Gw harus lulus April 2012! Apapun yang terjadi!”

Sejak saat itu, gw mulai mengerjakan TA gw (sebelumnya sama sekali gak pernah gw sentuh TA gw itu). Gw mulai mengajak teman-teman seperjuangan gw di jurusan (terutama yang satu dosen bimbingan) & di KMPA: terutama Alam & Maman untuk mengerjakan bareng TA.

Sering sekali kami bertiga pergi ke kafe (mostly di Gampoeng Aceh, Dago) untuk begadang sampe pagi, duduk dalam satu meja kafe mengerjakan TA bersama-sama. Walaupun TA kami sama sekali berbeda topic (tentu saja, karena kami juga berbeda jurusan!) tapi kegiatan itu benar-benar saling membantu kami – terutama aspek teknis dalam hal edit mengedit file word/excel TA kami. Hahaha.

Dan akhirnya, kami bertiga lulus dan WISUDA bareng di Sabuga ITB, tanggal 14 April 2012. Alam, Maman, lo benar-benar sahabat terbaik gw… Sampe awal masuk kuliah, mendaki banyak gunung dan hutan bareng, 6 tahun bersahabat dan berbagi suka-duka, hingga lulus kuliah pun barengan! :D

Setelah sidang TA (gw inget banget, awal Maret 2012), gw mulai berpikir, scenario apa yang paling baik buat diri gw setelah gw wisuda?

Ada beberapa skenario yg ada di benak gw… Semuanya gw timbang dengan masak-masak…

Skenario #1, apakah mengambil S2?

Gw pikir, tentu tidak! Gw kuliah S1 saja sudah malas rasanya, apalagi mau lanjut kuliah S2??
Gw memang berhasrat untuk kuliah lagi, tapi jika dan hanya jika mengambil MBA (master of business administration).

Tapi tidak langsung setelah gw lulus. Gw pengen mendalami kehidupan dunia kerja professional yang sesungguhnya, kemudian barulah setelah mengetahui apa sih yang sebenarnya terjadi di dunia kerja, setelah itu mengambil MBA adalah pilihan yang terbaik.

Bayangkan bedanya, belajar dengan hanya MENGETAHUI TEORI, TEORI , dan TEORI… Dibandingkan dengan terlebih dahulu MEMAHAMI PRAKTEK langsung yang terjadi di dunia nyata, kemudian dilanjutkan dengan MEMPELAJARI TEORI yang seharusnya.

Skenario seperti itu sangatlah POWERFUL!

Jadi, Skenario #1 dicoret dari kemungkinan hidup yang gw jalanin setelah wisuda.

Skenario #2, Menikah.

OH MEN. This is definitely out of the box! Out!

Skenario #3, Entrepreneur.

Ya, menjadi entrepreneur memang menggelayuti benak gw. Kebebasan berekspresi. Kebebasan waktu dan perasaan. Tantangan untuk berkembang dengan kemampuan sendiri. Wah ini benar-benar menggiurkan hati gw!

Tapi, gw pikir, tidak untuk saat ini.

Menjadi entrepreneur butuh modal yang besar. Gw berbicara bukan hanya tentang Modal Uang. Tapi juga Modal Mental, Modal Pengetahuan, Modal Social Link, dan tentu saja PENGALAMAN.

Tanpa itu, sama saja seperti mati konyol.

Butuh mental yang seperti baja untuk bisa langsung sukses menjadi entrepreneur. Kecuali kalo lo mau buka usaha jual mie ayam pinggir jalan. Itu saja banyak tantangannya. Sogokan untuk preman jalanan, persaingan dengan tukang mie ayam lain, digusur Satpol PP, dsb. Apalagi usaha yang modalnya puluhan/ratusan juta…

Kecuali lo anak SBM yang bisa pinjem duit bokap lo yang bejibun buat mendirikan usaha.

Atau lo punya kemampuan membuat business plan dan bisa presentasi yang memukau untuk menarik investor.

Atau lo udah berpengalaman berjualan paruh waktu selama menjadi mahasiswa.

Bayangkan, kita yang masih hijau, polos, lugu, masih memiliki mental ‘mahasiswa’ langsung terjun menjadi entrepreneur. Wah, kalo gak cukup cerdas, kita bisa-bisa ditipu orang lain, jualan gak laku, bangkrut, dan lain-lain.

Makanya, gw SANGAT SALUT dengan teman-teman gw yang bisa langsung memilih menjadi entrepreneur setelah lulus.

Selain itu, gw juga sangat sayang dengan ilmu yang susah-susah gw timba di jurusan. Bayangkan, gw udah kuliah 5 tahun lebih untuk belajar ilmu ELEKTRO, eh tau-tau setelah lulus, ilmu gw gak dipake sama sekali!

OH MEN. Ngapain gw kuliah di jurusan gw kalo begitu??

Kalo ada yang bilang: yang dipake di dunia kerja itu bukan ilmu lo, tapi cara berpikir sebagai seorang engineer.

AH BULLSHIT.

Kata ada yang ngomong gitu, tuh orang berarti udah menyia-nyiakan ilmunya, sama aja dengan kurang menghargai keilmuannya sendiri yang diperolehnya selama kuliah.

Yah, mungkin gw berpikir begitu karena gw juga anak Elektro – banyak tawaran pekerjaan untuk engineer elektro. Mungkin bakal berbeda kalo gw anak jurusan astronomi, misalnya.

Dan, scenario #3 gw coret juga dari daftar gw. Gw memilih untuk mencari pengalaman, modal mental, dan ilmu professional terlebih dahulu. Baru setelah itu berkecimpung memiliki bisnis pribadi.

Skenario #4, bekerja di perusahaan kecil.

Terus terang, scenario ini juga ada di benak gw. Dengan bekerja di perusahaan kecil, gw secara langsung bisa belajar membangun bisnis dari embrionya. Belajar dari sang pemilik perusahaan, banyak hal yang akan gw ketahui tentang cara-cara mendirikan bisnis, tetek bengeknya, perizinannya, suap-menyuapnya, produksinya, dsb.

Tapi, rasanya ada hasrat dalam jiwa ini yang berbeda.

Gw pengen kerja di perusahaan besar!

Bukan soal GENGSI, atau tidak hanya soal GAJI (walaupun akhirnya salah satu pertimbangan besarnya adalah tentang gaji).

Tapi gw ingin membuktikan pada diri gw sendiri, apakah gw memang punya kapabilitas untuk menjadi bagian dari suatu perusahaan besar??! Dan apabila berhasil menjadi bagiannya, apakah gw bisa bertahan dan terus maju di tengah keberadaan orang-orang cerdas itu??! (karyawan perusahaan besar, pasti karyawannya cerdas-cerdas – asumsi pribadi)

Itu jadi tantangan besar bagi gw. Menanti untuk gw taklukkan.

Tidak gampang untuk dapat diterima menjadi karyawan suatu perusahaan besar (multinasional). Mereka pasti punya system rekrutmen karyawan yang ketat, apalagi pastilah banyak para jobseeker yang pengen sekali bekerja untuk mereka.

Dengan menjadi karyawan perusahaan besar/multinasional, itu menjadi pembuktian bagi diri gw sendiri akan kapabilitas gw pribadi. Dengan memiliki pembuktian, maka hal itu akan meningkatkan (boosting) kepercayaan diri dan confident pribadi. Itu bakal jadi bekal untuk masa depan gw.

Maka, Skenario #5 lah yang gw ambil: berkarir di perusahaan SWASTA besar/multinasional – bukan PNS/DEPARTEMEN PEMERINTAH/BUMN.

Kenapa bukan di PNS/Departemen Pemerintahan/BUMN??

Itu karena ‘doktrin’ dari Bapak gw.

Menurutnya, bekerja di PNS/DEPARTEMEN PEMERINTAHAN/BUMN bakal sangat MONOTON – terlebih-lebih lagi menjadi PNS, atau pegawai departemen.

Berdasarkan pengamatan Bapak, (Bapakdan Mama gw juga PNS), menjadi PNS/Departemen Pemerintahan tidak ada ilmunya. Kebanyakan hanyalah magabut (magabut=makan gaji buta). Padahal, sebagai seorang yang masih muda, ilmu dan pengalaman sangat penting untuk digali sebanyak-banyaknya.

Dan kenapa bukan BUMN?? Bukankah banyak juga perusahaan BUMN yang besar dan mampu mensejahterakan karyawannya??

Bapak gw bilang, “kalau kamu kerja di BUMN, gak akan jadi KAYA kamu. Hidup kamu bakal terus menerus jadi karyawan. Kamu bakal terbuai terus menjadi karyawan BUMN, karena memang fasilitas karyawan BUMN (Telkom, Pertamina, dll) sangat baik – tapi skillnya bisnisnya kurang. Dan kamu bakal terus berada di zona nyaman, sampai kamu pensiun kelak. Tidak ada tantangannya. Lihatnya orang-orang kaya kenalan Bapak, semuanya Pengusaha! Sudah, cari kerjalah kamu di swasta!”

Oke, itu kata bokap gw.

Tapi tentu saja gw gak mentah-mentah mencerna pendapatnya. Aku berpikir… Merenung… Dan banyak hal benarnya yang diucapkan Bapak gw.

Apalagi, gw pernah dengar cerita. Karyawan BUMN biasanya pergaulannya terbatas – hanya di lingkungan kerjanya saja. Itu-itu saja. Jika dia karyawan Telkom, maka pergaulan sehari-hari dan di luar kantor pun hanya dengan karyawan Telkom… Mau main tenis? Dengan orang-orang telkom… Mau jalan-jalan? Dengan karyawan sekantor… Sulit untuk mengembangkan diri.

Akhirnya, jadi PNS/Departemen Pemerintah/BUMN tidak gw pertimbangkan lagi.

Oke fix. Gw harus mencari perusahaan swasta!

Kemudian, muncul kebimbangan lainnya.

Di bidang perusahaan manakah gw harus berkecimpung??

Bidang yang ada di benak gw waktu itu adalah:
– TELEKOMUNIKASI
– ELEKTRO
– BANK
– PERTAMBANGAN, atau O&G (oil&gas, alias perminyakan).

Untuk bidang perbankan, setelah konsultasi dengan ayah gw, dan berbincang dengan beberapa teman yang berkarir di bank – gw memilih untuk mencoret daftar perusahaan perbankan dari scenario gw.

Kerja di bank ternyata kurang spesifik dengan keilmuan gw (karena bank kebanyakan menerima pelamar dari all major-segala jurusan), apalagi gajinya pun standar (tidak begitu besar), dan ternyata banyak teman gw yang sering lembur karena deadline pekerjaan.

Banyak teman-teman gw yang resign dari pekerjaan di perbankan. Bahkan, ada yang rela membuat ijazah baru dalam bahasa inggris ke Tata Usaha jurusan, dan membiarkan ijazah aslinya ditahan pihak bank, demi untuk mencari pekerjaan lain di luar perbankan.

Selain itu, ada juga teman gw yang pengen mencari pekerjaan di bidang keilmuannya. Seperti temen gw anak Fisika Teknik, dia diterima di ODP Bank Mandiri sudah ampir setahun. Tapi dia tidak ikhlas bekerja di sana karena bidang keilmuannya sangat sedikit terpakai.

Oke karena pengalaman-pengalaman itu, gw mencoret perbankan dari list gw.

Kemudian list berikutnya, bidang Pertambangan/O&G (oil and gas, alias perminyakan).

Di pertambangan/O&G, beban kerjanya berat. Mereka harus tinggal berbulan-bulan di tempat terpencil, jauh dari peradaban. Kemudian pekerjaannya sangat terfokus, mereka seakan-akan menjadi buruh yang dibayar dengan gaji tinggi. Mereka gak bisa belajar hal-hal lainnya selain job description dari peran mereka di site. Mereka gak akan bisa belajar aspek bisnisnya, gak bisa ikut komunitas-komunitas yang positif untuk meningkatkan nilai kualitas diri – kebanyakan berada dalam lingkungan terkucil di site.

Yang hanya bisa mereka lakukan adalah, (untuk pekerja system rooster) bekerja di site yang terpencil selama 4-5 minggu, kemudian libur total 1-2 minggu. Kemudian selama libur 1-2 minggu itu, lo foya-foya dan hedon di kota. Makan mewah, nonton bioskop seharian penuh, hedonism… Kalau yang jomblo, kemudian bergalau ria, curhat dengan teman-temannya kalau di site nggak ada cewe, dsb. Hahaha.

Dan yang paling disayangkan, pergaulan mereka di luar perusahaan terbatas sekali – hanya dengan kawan-kawan lamanya yang itu-itu saja. Setiap mereka berlibur (off) dan main ke kota, yang diajak main hanyalah keluarga atau kawan-kawan lama mereka dulu selama di kampus. Itu-itu lagi. Ngga ada kemajuan…

Di kota, saat liburan, para pekerja tambang/O&G (mostly tambang) akan melakukan sepuasnya apa yang mereka inginkan, memuaskan hasrat yang ngga terpuaskan di tempat terpencil – karena mereka sadar sepenuhnya, setelah balik lagi ke site terpencil itu, mereka harus kembali berkutat dengan kebosanan dan kejenuhan.

Memang sih, gajinya tinggi (tentu saja, beban kerjanya di site berat). Untuk perusahaan pertambangan, fresh graduate gaji rata-rata 6-8 juta BERSIH, kalau perusahaan O&G sekitar belasan juta (10-15 juta) BERSIH.

Tapi emangnya lo mau terus-terusan jadi KULI???

Gw sih gak mau. *walaupun tergiur juga sih dengan gajinya yang gila* :9

Lanjut. Bidang Elektro.

Gw gak begitu ngerti masalah elektronika, kontrol, power, transmisi daya, robotika… Mata kuliah dengan tema-tema seperti itu selalu gw ngulang. Hahaha.

Jadi gw skip deh bekerja di bidang elektro.

Jadi… Tinggal tersisa telekomunikasi…

Gw berpikir, gw kan kuliah di bidang telekomunikasi. Sangat bermanfaat jika akhirnya gw bisa menerapkan ilmu yang gw dapet selama kuliah.

Apalagi kalau kita anak ITB.

Reputasi lulusan ITB kan baik, banyak yang sukses (walaupun ada juga yang gagal-bergantung mental masing-masing juga). Apalagi kalau kita berkarir di bidang keilmuan yang sesuai. Itu bakal menjadi MODAL yang sangat tinggi untuk dihargai dan melejit di perusahaan kita.

Ibaratnya lo kuliah di ITB, sama dengan anak lulusan AKPOL/AKMIL. Anak lulusan AKPOL/AKMIL bakal cepat melejit karirnya karena mereka memang diproyeksikan untuk menjadi petinggi-petinggi di militer/kepolisian. Selain memang karena input dari ITB/AKPOL/AKMIL memang berasal dari bibit-bibit unggul yang otaknya (kebanyakan) encer ya… *sori gak maksud narsis, tapi tulisan ini memang sangat personal*

Selain itu, katanya, bidang telekomunikasi juga menjanjikan. Salah satu bidang profesi yang berbayaran tinggi – hanya kalah dengan bayaran orang-orang di bidang Oil & Gas.

Tapi selain itu gw berharap ditempatkan di daerah perkotaan besar. Alasannya gak lain dan gak bukan, agar gw bisa bergabung dengan berbagai komunitasnya yang ada di dalamnya.

Gw pengen mengenal dan belajar banyak dari orang hebat (yang kebanyakan berkumpul di kota besar). Gw pengen banyak belajar aspek bisnis, sembari gw pengen menggeluti lagi hobi-hobi gw. Sembari belajar secara professional menerapkan keilmuan yang gw miliki.

Maka, pilihannya yang gw harapkan adalah:
– Berkarir di perusahaan besar/multinasional (sebagai tantangan dan pembuktian diri)

- Di bidang telekomunikasi (agar keilmuan yang gw dapatkan selama di kampus tidak sia-sia)

- Di kota besar (selain Bandung – karena gw sangat ingin pergi MERANTAU – dan bukan kota yang ‘lebih kecil’ dari Bandung – maka satu-satunya pilihan adalah di Jakarta, atau syukur-syukur dapet di luar negeri) karena gw ingin banyak belajar dari komunitas-komunitas orang-orang hebat di dalamnya.

Alhamdulillah, berkat izin-Nya, gw dapat ketiga-ketiganya.

DIA memang hebat. Dikasihnya jalan bagi gw untuk berada di sini – di tempat gw berada saat ini.

Bahkan DIA memberi lebih.

Gw ditempatkan di unit kerja yang banyak terlibat dengan aspek bisnis (tidak langsung terlibat dalam hal teknis/engineering) – lebih seperti pekerjaan lulusan Teknik Industri. Itu untungnya bekerja di operator telekomunikasi-lebih terbuka kesempatan untuk belajar aspek bisnisnya. Selain itu, DIA bahkan menempatkan gw di perusahaan yang bervisi dinamis, dan berjiwa muda. Benar-benar cocok dengan karakter gw pribadi.

Dan gw gak akan menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan-Nya. Insya Allah.

12 Tanggapan to “Baru Lulus Kuliah? Mau Dibawa Kemana Hidup Lo??”

  1. Eko Perdana Says:

    wow.. inspiratif sekali.!

  2. Finally, you get a job in one of the largest companies in Indonesian.
    Good Job bro. Don’t forget to pray.
    Future Millionaire :)

  3. mantap bro tulisannya , kayaknya seangkatan kita … tapi ane dri lulusan fakultas teknik di depok :) .. gw sependapat sama pendapat lu tentang BUMN… gw ud ngalaminnya sekarang , abis kuliah selama 4.5 tahun dan lulus awal 2011 langsung masuk di salah satu BUMN. Awalanya bangga dengan kenyamanan dan segala fasilitasnya akan tetapi sekarang yang gw rasain bener2 mononton dan sangat mengikis kreatifitas. terlalu banyak kepentingan dan “kekeluargaan” nya tinggi.. heheh

  4. trunks Says:

    doain q dapat kerja ya guys…thanks buat postingan nya.. :)

  5. btr lagi kuliah S-1 slsae pengennya kalau gag ambil S2 mau kerja di BUMN tapi gag tau nasibnya bagus gag..hihi

  6. […] Dan aku putuskan, sejak aku wisuda, aku harus belajar menjalani hidup dengan bekerja professional di perusahaan besar http://anakmoeda.wordpress.com/2012/08/27/baru-lulus-kuliah-mau-dibawa-kemana-hidup-lo/. […]

  7. cerita kamu…..nambah wawasan aq////TQ

  8. syukurlah klo begitu mbak…hehe

  9. terimakasih tulisan dan pengalamannya memotivasi sekali

  10. Subhanallah……..
    Inspiratif sekali mas admin
    setelah baca ini saya mulai berpikir skenario yang pas untuk saya sendiri
    Terima kasih atas postingannya. Sangat memotivasi

  11. Awalnya gw tertarik di teknik perminyakan /O&G, tp setelah membaca artikel lu dipikir2 memang bener jg beban kerjanya sgt beratt tp itu sebanding lah dg gajinya -__-

  12. stafarda Says:

    tergantung pilihan hidup lo bro.

    di oil and gas, elo di starting point memang bakal mendapatkan penghasilan yang jauh lebih besar daripada orang umum. Tapi peningkatan selanjutnya akan cenderung linier.

    Sedangkan kalau lo berkarir di divisi business, starting point memang standar, tapi seiring waktu, peningkatan penghasilan akan naik sesuai dengan kurva bergradien positif curam.

    Kalau di O&G, lo cuma bakal mengurus mesin. Setelah lo memutuskan untuk resign dari O&G (karena kebanyakan orang O&G akan resign dari dunia lapangan), elo harus memulai sesuatu bisnis/banting setir ke dunia management, yang membutuhkan ilmu menghadapi manusia. Itu yang gak bakal elo dapetin di dunia lapangan – ilmu menghadapi manusia.

    So, the choice is in your hand bro

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: