Arsip untuk Desember, 2008

Indahnya Bandung Utara : Bukit Tunggul dan Gunung Sanggara – Part 3

Posted in traveling with tags , , , , , , , , , , , , , , on 10 Desember 2008 by stafarda

Dari Desa Panglipurgalih, sia perjalanan sekitar 4 km dan butuh waktu sekitar sejam berjalan kaki untuk mencapai jalan setapak yang menuju Sanggara (dan kaki Bukit Tunggul). Kita bakal kembali melewati perkebunan kina selama perjalanan. Perkebunan kina memang tidak begitu indah untuk dinikmati. Tapi daerah perkebunan ini bisa kita gunakan sebagai tempat latihan navigasi terbuka, walaupun tidak terlalu ideal. Ada beberapa puncakan, punggungan, sungai, dan terutama beberapa puncak gunung yang bisa dijadikan patokan untuk melakukan intersection dan resection (yaitu puncak Bukit Tunggul, Gunung Sanggara, Gunung Manglayang).

Daerah Sanggara ini juga sering dijadikan arena perjalanan offroad bagi para motocrosser. Seringkali kami berpapasan dengan para motocrosser yang sedang memacu motor trail mereka, atau sama-sama sedang berleha-leha di warung setempat. Walaupun sebenarnya banyak warga desa yang mengeluhkan aktivitas offroad tersebut. Utamanya, karena motor trail mereka dianggap merusak jalan dan membuat kebisingan. Belum lagi tingkah laku para motocrosser yang slengean.

Lalu setelah menempuh perjalanan dari Desa Panglipurgalih, tibalah kita di area Sanggara dan Bukit Tunggul. Jalan setapak yang menuju Sanggara terletak di pinggir jalan perkebunan yang hanya dapat dilalui sebuah mobil. Hanya sekitar 100 meter dari pinggir jalan dari pintu jalan setapak ke Sanggara, kita dapat menemui sebuah dataran yang sering dipakai sebagai tempat camp. Beberapa belas meter di timur, ada pula lahan yang cukup luas dan dapat pula dipakai sebagai lokasi camp yang nyaman. Di dekat camp, hanya berjarak 5 meter, terdapat sebuah sungai yang airnya dapat kita minum. Tapi berhati-hatilah jika camp di dua area tersebut. Banyak pohon yang berbatang rapuh dan seringkali terjadi pohon yang tumbang. Kami pernah melihat pohon yang berdiameter sekitar 2 meter dan setinggi 5-7 meter tumbang dari tebing di sebelah utara kami. Suaranya cukup menggelegar, mengagetkan kami pada malam itu.

Selain dua area camp tersebut, jika kita berjalan ke arah timur laut selama 20 menit menaiki dan menuruni sebuah punggungan, maka kita akan tiba di sebuah lembah yang sangat tepat dijadikan area survival, yaitu lembah yang dinamakan Legok Jero. Daerah Sanggara memang merupakan daerah hutan yang memiliki keanekaragaman hayati yang cukup tinggi. Makanya, seringkali acara diklatsar para pecinta alam serta KSR (korps sukarela) berbagai kampus diadakan di daerah Sanggara (dan Legok Jero). Di sini banyak sekali berbagai jenis flora dan fauna yang bisa dikonsumsi. Diantaranya beberapa jenis arbei, pisang, cacing tanah, tumbuhan paku, labu siam, jamur, rambutan, kepiting kecil, banyak jenis burung, ular, tupai, kucing hutan, serta konon masih terdapat jenis harimau di sini. Belum lagi kondisi hutannya yang bertipe hutan hujan yang cukup lebat.

Di Legok Jero, banyak beredar cerita mistis. Legok Jero memang sering dijadikan tempat pendidikan survival bagi para pecinta alam. Maka, konon katanya telah banyak nyawa yang tercabut di area Legok Jero ini, mungkin karena beratnya pendidikan survival yang mereka alami. Bisa karena tidak tahan lapar, penyakit, atau karena siksaan para senior. Entahlah.

Tapi aura yang kami rasakan selama di sana memang berbeda. Apalagi saat baru saja terjadi kematian seorang rekan dari Pamor UPI yang meninggal di Legok Jero sewaktu diklatsar Pamor. Saat itu, waktu penyelenggaraan diklatsar KMPA dan Pamor memang berdekatan. Dan pada malam terakhir diklatsar Pamor di area Sanggara, terjadilah kematian itu. Padahal, besoknya kami lah yang akan menggunakan area Legok Jero selama 4 hari berikutnya. Alhasil, hawa ganjil itu kami rasakan selama kegiatan kami terpusat di Legok Jero.

Ah, kita sudahi saja cerita mistisnya. Kita simpan untuk lain kali.

Sekarang kita bercerita tentang Bukit Tunggul. Untuk menaiki puncak Bukit Tunggul, kita harus terus berjalan ke arah kaki Bukit Tunggul. Dari kakinya, kita hanya perlu mendaki selama satu jam untuk dapat mencapai puncak Bukit Tunggul. Tapi konturnya terjal dan selalu mendaki, tidak ada jalan mendatar. Alhasil kita akan cukup ngos-ngosan sewaktu sampai di puncak.

Puncak Bukit Tunggul, yang adalah titik tertinggi di daerah Bandung (Utara) dan sekitarnya, ditutupi oleh pepohonan lebat. Akibatnya, kita tidak leluasa memandang ke sekitar. Artinya, pemandangan di puncaknya memang tidak begitu mengasyikkan untuk dinikmati. Tapi ada sebuah tempat camp yang luas di puncaknya. Tidak ada salahnya untuk mencoba mendaki puncak Bukit Tunggul – titik tertinggi di daerah Bandung Utara dan sekitarnya. Apalagi perjalanan menuruni Bukit Tunggul memang cukup mengasyikkan, apalagi kalau kita mengambil jalur yang menuju ke pegunungan di daerah Ciruang Badak, walaupun jalurnya jauh memutar. Tapi benar-benar indah. Dataran Lembang dan sekitarnya yang jauh terbentang dapat kita nikmati selama perjalanan turun. Apalagi hijaunya pegunungan Ciruang Badak dan jurangnya ikut menemani di sisi barat. Hmm, nikmat.

Itulah Sanggara dan Bukit Tunggul. Setetes keindahan dari lautan kecantikan alam nusantara. Tempat di mana alam melayani manusia. Sebuah bukti ketulusan dan kebaikan masyarakatnya dapat dinikmati di sana.

Oke sekian cerita dariku tentang Bukit Tunggul dan Sanggara. Ada yang tertarik ke sana? Aku dan teman-teman siap mendampingi kalau mau. Serius!

Iklan

Indahnya Bandung Utara : Bukit Tunggul dan Gunung Sanggara – Part 2

Posted in traveling with tags , , , , , , , , , , , , , , on 10 Desember 2008 by stafarda

– lanjutan dari “Indahnya Bandung Utara : Bukit Tunggul dan Gunung Sanggara – Part 1” –

Setelah berjalan kaki selama sekitar satu jam, kita bakal tiba di Desa Pangheotan. Di daerah inilah terdapat sebuah pabrik yang mengolah kina hasil perkebunan. Ada pula jalan yang bisa tembus ke daerah Ujungberung (sebelah timur kota Bandung) yang dapat ditempuh dengan mobil selama sekitar 1-2 jam. Tapi katanya, kondisi jalanan sangat rusak dan becek saat musim hujan.

Di desa Pangheotan, kami sering mampir di sebuah warung langganan kami untuk sekedar ngopi, memesan mie telor, serta mengemil. Tradisi yang diwariskan Roncil pada kami. Setiap ada warung, harus singgah! Haha. Oya, makanan kesukaan kami adalah jelly panjang yang berwarna-warni seharga Rp.100 perak. Ada juga buah jambu yang sering kami jadikan bekal untuk dimakan selama perjalanan berikutnya.

Di desa Pangheotan ini terdapat sebuah sekolah dasar (SD) satu-satunya yang dimiliki desa ini. Penduduknya mayoritas hidup sebagai petani. Beberapa jadi tukang ojek. Banyak juga yang menggantungkan hidupnya ke daerah hutan Sanggara sebagai pemburu babi dan pengumpul hasil sumber daya hutan (sayur-mayur dan penebang kayu).

Dari desa Pangheotan, setelah berjalan kaki selama sekitar 15-20 menit, kita akan menemui desa terakhir sebelum mencapai Sanggara, yaitu desa Panglipurgalih. Desa Panglipurgalih adalah desa yang asri dan sejuk. Berada di dekat kaki Bukit Tunggul dan diapit oleh berbagai gunung dari berbagai sisi menyebabkan aku sempat berpikir bahwa desa seperti inilah yang akan aku tempati saat aku tua nanti. Apalagi jika cuaca cerah, kita dapat melihat Bukit Tunggul yang berdiri tegak dan gagah. Serta lampu-lampu kota Lembang yang gemerlap pun dapat terlihat di kala malam hari. Di desa ini, listrik belum dapat dinikmati dengan nyaman oleh penduduknya. Mungkin mereka hanya menggunakan genset untuk mendapatkan listrik. Aku sedikit lupa.

Di desa inilah, kami memiliki kenalan penduduk desa setempat yang bernama Pak Iin. Kami pertama kali mengenal Pak Iin sewaktu aku, Irfan, dan Cus melakukan survei pada akhir tahun 2007 untuk survei kelayakan Sanggara sebagai tempat diklatsar KMPA selanjutnya.

Waktu itu kita baru saja turun dari area Sanggara dan Legok Jero. Kami bertiga sepakat untuk mampir sebentar ke kediaman Pak Iin, yang menurut informasi dari teman kami sesama pecinta alam, adalah rumah di mana pada jendelanya tertempel stiker organisasi pecinta alam rekan kami tersebut (pecinta alam ”Mapak Alam” Unpas). Pada perjalanan pergi sebelumnya, kami telah melihat rumah yang tertempel stiker tersebut. Akhirnya kami memberanikan diri singgah di sana. Untung saja Pak Iin pun sedang berada di rumah.

Kami pun mengenalkan diri kepada Pak Iin dan isterinya. Tapi dinyana dan diduga, kami segera diajak makan dan disuguhi oleh sebakul nasi, sepiring lalapan sayur segar, 3-4 butir telur yang dimasak dadar, 5-6 ekor ikan kembung goreng, sepiring jamur asli Sanggara, serta sebungkus kerupuk. Gila! Kami benar-benar takjub saat disuguhi hidangan sebegitu banyaknya. Kami tidak menyangka orang-orang desa yang mungkin hidup dalam kesederhanaan, bersedia menjamu kami, para pemuda asing yang baru mereka kenal dengan makanan yang tidak kalah dari restoran Sunda mana pun di Bandung. Alhasil, kami yang kelelahan pun menyantap hidangan itu dengan sukarela, setelah sebelumnya bertingkah malu-malu kucing. Apalagi hawa dingin telah membangkitkan selera makan kami.

Selesai makan, kami pun mengobrol dengan Pak Iin. Dengan bahasa Sunda tentunya. Alhasil, Cus yang tidak bisa berbicara dalam bahasa Sunda, terpaksa bengong dan diam seribu bahasa. Walaupun terkadang dia juga ikut tertawa karena ada juga kata yang dia mengerti.

Orang desa memang baik dan penuh ketulusan. Patut diketahui, bahkan isteri Pak Iin sejak berpuluh tahun lalu tidak pernah meninggalkan desa Panglipurgalih ini. Paling hanya Pak Iin yang kadang pergi ke Lembang untuk membeli keperluan bertani atau ke Ujungberung untuk mengambil uang pensiun ayahnya di kantor pos Ujungberung. Sisa hidup mereka habiskan di desa mereka itu sebagai petani, dan seringkali mengumpulkan hasil hutan di Sanggara.

Selepas ngobrol, kami pun pamit ingin segera menuju Patrol agar tidak ketinggalan angkot. Tapi menurut mereka, kemungkinan sudah tidak ada angkot lagi, karena jam telah menunjukkan pukul setengah tiga. Dan kami kemungkinan baru tiba di Patrol pukul empat sore jika berjalan kaki cepat. Jadi mereka menawarkan pada kami agar menginap saja di rumahnya. Tapi mengingat esok hari kami telah kuliah, kami menolak halus tawaran kebaikan tersebut. Kami pun sadar bakal ketinggalan angkot sejak kami memutuskan untuk makan tadi, tapi apa boleh buat, rejeki itu tidak boleh ditolak, apalagi rejeki makanan berlimpah di depan mata. Hehe. Kami pun pamit. Dan setiba di Patrol, memang tidak ada lagi angkot yang menuju Lembang. Alhasil, setelah menunggu lama, dan negosiasi dengan ojek (untuk mengantarkan kami ke Lembang) gagal, kami terpaksa menginap di masjid setempat, dalam kondisi basah. Untung penjaga masjidnya baik dan bersedia membukakan pintu masjid semalaman hingga kami dapat tidur dengan nyaman di dalam ruangan masjid.

Haha, itulah sepenggal cerita tentang sebuah perjalanan kami selepas turun dari Sanggara dan berkenalan dengan Pak Iin. Oke kita lanjutkan.

Indahnya Bandung Utara : Bukit Tunggul dan Gunung Sanggara – Part 1

Posted in traveling with tags , , , , , , , , , , , , , , on 10 Desember 2008 by stafarda

Pada postingan ini – dan pada berbagai postingan selanjutnya tentang catatan perjalanan ke suatu daerah tertentu – aku bakal menggunakan bahasa yang sedikit formal. Tidak menggunakan bahasa ala anak moeda yang biasanya aku gunakan pada postingan yang lain. Itu karena aku ingin meniru berbagai catatan perjalanan pribadi yang telah aku baca, di antaranya Catatan Harian Che Guevara ”The Motorcycle Diaries” (yang menceritakan perjalanan El Che dan seorang sahabatnya mengelilingi Amerika Selatan memakai sepeda motor), serta buku ”The Journey from Jakarta to Himalaya” karya Gola Gong (penulis novel fenomenal Balada Si Roy) yang menceritakan perjanannya keliling Asia. Itu supaya kisah perjalanan ini bisa dinikmati oleh lebih banyak orang, bukan hanya anak moeda seperti kita, hehe.

Untuk para petualang di daerah Bandung dan sekitarnya, pasti tidak akan asing dengan daerah Gunung Sanggara dan Bukit Tunggul. Puncak Bukit Tunggul bahkan merupakan dataran tertinggi yang berada di daerah Bandung dan sekitarnya. Bukit Tunggul dan Sanggara berada di dekat Gunung Manglayang – yang merupakan salah satu ujung timur dari paparan bukit Sesar Lembang yang membentang dari Timur ke Barat dan membentengi sisi utara Bandung. Adapun sisi ujung barat Sesar Lembang adalah daerah Gunung Batu yang seringkali digunakan sebagai area pemanjatan tebing, walaupun tidak sepopuler area pemanjatan tebing di Citatah.

Untuk mencapai daerah Bukit Tunggul, jika menggunakan kendaraan umum, kami biasanya berangkat dari kampus menggunakan angkot trayek Cicaheum-Ledeng (yang melewati gerbang belakang kampus) dengan ongkos Rp.2000 per orang. Dengan waktu tempuh sekitar 15-20 menit, turunlah di terminal Ledeng.

Dari terminal Ledeng, kami menaiki angkot jurusan St. Hall-Lembang yang berwarna cokelat. Setelah melalui jalanan yang berkelok-kelok menuju Lembang selama sekitar 30-40 menit dan ongkos seharga Rp.2500 per orang, kami turun di Pasar Panorama, Lembang. Di pasar Panorama inilah kami biasanya berbelanja kebutuhan camping kami, seperti rokok dan tembakau. Di pasar ini juga, ada kios sayur yang dijaga oleh seorang cewek seusia kami yang cantik dan manis – walaupun terlihat sedikit ’murni’ seperti wanita kota kecil pada umumnya. Hehe.

Dari Pasar Lembang, kita harus menuju Patrol. Patrol adalah terminal angkot terakhir kita menuju Bukit Tunggul. Tapi jangan bayangkan kalau terminal yang aku maksud sama seperti terminal di perkotaan. Terminal Patrol hanyalah sebuah petak di sebuah kelokan jalan yang hanya cukup diisi oleh dua hingga tiga mobil saja. Dengan dua kios warung di sekitarnya. Dan sebuah pangkalan ojek. Hanya ada satu-satunya trayek angkutan pedesaan yang menuju Patrol. Angkot Desa dengan jurusan Lembang-Patrol.

Untuk menuju Patrol, butuh waktu sekitar 45 menit dari Pasar Panorama. Selama di angkot, yang pasti penuh dengan penduduk desa setempat yang membawa berbagai barang dari pasar mulai dari sayur-mayur, kina, makan ternak, dll, kita akan melintasi daerah bebatuan Gunung Batu yang cukup mencolok dan terlihat dari kejauhan, kawasan gerbang menuju air terjun Maribaya, serta daerah pemukiman pedesaan yang sejuk dan terlihat tenteram. Bebukitan Sesar Lembang yang hijau dan indah membentang mengiringi perjalanan kita di sebelah selatan. Di sebelah utara, selalu terlihat puncak Bukit Tunggul yang berdiri tegak seakan menunggu kami, menantang untuk ditaklukkan. Jalan yang kita lalui itulah satu-satunya akses untuk menuju Bukit Tunggul jika menggunakan alat transportasi bermotor.

Setelah melalui perjalanan menaiki angkot pedesaan selama 45 menit, tibalah kita di daerah Patrol. Biaya angkot sekitar Rp.4000 per orang. Bisa kurang kalau datang berombongan – tergantung kemampuan negosiasi kita. Hehe. Sesampai di Patrol, kami seringkali singgah dulu di warung setempat. Sekedar ngopi dan ngobrol dengan sang pemilik warung. Pernah juga numpang nginap dan tidur di selasar warung tersebut.

Dari Patrol, kami harus berjalan kaki selama 2-3 jam untuk menuju Bukit Tunggul. Oya, kami pun pernah mencarter sebuah pick-up seharga Rp.75.000 sekali jalan, dari Patrol hingga jalan setapak menuju Sanggara, dengan waktu tempuh sekitar satu jam.

Tapi lebih nikmat berjalan kaki. Sambil berpijak di jalanan desa yang berbatu dan rusak, serta seringkali tergenang air selepas hujan, kita dapat menghirup udara segar dan menikmati indahnya Sesar Lembang di sebelah kanan kita. Jika berjalan malam hari, bintang-bintang dapat terlihat indah sekali bertebaran di angkasa. Bahkan, karena langit yang begitu terbuka dan bebas dari polusi cahaya, kami sering sekali melihat bintang jatuh melintasi kepala kami. Entah itu meteor atau ilmu santet yang konon banyak dimiliki oleh penduduk Subang (sebelah utara Sanggara adalah kota Subang, yang dapat ditempuh dari Sanggara dengan berjalan kaki selama 3-4 jam menelusuri hutan). Selama perjalanan kaki dari Patrol, kita bakal dikelilingi oleh perkebunan kina yang telah ditanam sejak jaman kolonial. Kita juga bakal berpapasan dengan sebuah nisan untuk mengenang seseorang yang konon meninggal secara misterius di daerah perkebunan kina tersebut.

Setelah berjalan kaki sekitar 10 menit dari Patrol, kita akan tiba di Tugu Bukit Tunggul. Di tugu ini, terdapat sebuah pabrik yang mengolah susu agar siap diangkut dengan truk. Oya patut diketahui, daerah Patrol adalah sentra penghasil susu di Lembang. Tidak heran, kita bakal menjumpai banyak kandang sapi – itu jika kita turun gunung dari Bukit Tunggul ke arah barat daya.

– to be continued … –

ke “Indahnya Bandung Utara : Bukit Tunggul dan Gunung Sanggara – Part 2

Anak Moeda, Si Pencari Jati Diri??

Posted in filosofis with tags , , , , , on 10 Desember 2008 by stafarda

Masa pencarian jati diri. Apakah jati diri itu? Sebuah identitaskah? Identitas seperti apa? Mengapa anak muda lah yang sering disebut sebagai subjek pelaku pencariannya? Apa karena anak muda sering berbuat bodoh? Atau karena kita terlalu lugu dan idealis dalam bertindak?

Anak muda. Dewasa dalam fisik, namun penuh gejolak dalam kepalanya. Tanpa gejolak, anak muda bukanlah anak muda, dan bakal hidup membosankan. Dengan gejolak mudanya, anak muda telah mewarnai dunia. Walaupun terkadang pikiran kita terlalu pendek dan sempit, hidup seorang anak muda seharusnya penuh dengan pertentangan dalam batinnya. Pertentangan yang menyebabkan kita sering bertindak ’aneh’. Hal yang dianggap para orang tua sebagai ’pemberontakan’. Tapi justru itulah yang dapat membawa seorang anak muda menuju kematangan.

Masa pencarian jati diri sering dilalui tanpa kedewasaan dalam bertindak. Juga terjadi padaku. Terlalu menuruti ego dan mood sesaat. Membuatku bertindak ceroboh, tidak berpikir akan efek dari tindakan itu. Tapi apa yang harus kulakukan? Kuanggap itu bagian dari pencarian jati diri. Tapi sampai kapan?

Gejolak dalam diriku untuk melihat dunia begitu besar. Keinginan untuk melihat dunia yang luas. Berusaha keluar dari tempurung yang selama ini membelenggu cara pandangku. Belajar dari kehidupan nyata. Keluar dari kehidupanku yang normal dan amat nyaman. Melihat bagaimana dunia dipenuhi dengan orang-orang yang penuh derita dan perjuangan. Yang terlupakan. Melihat tak adilnya kehidupan. Bagai hitam dan putih. Yang satu begitu makmur, yang lain hidup terjepit. Tapi kebanyakan bernasib sama. Hidup dalam keresahan. Atau apakah kulakukan itu hanya atas dasar kesenangan pribadi? Hanya untuk menikmati hidup?

Apa yang sebenarnya kita cari?? Apa tujuan hidup ini? Apakah berujung pada apa yang mereka namakan ’cinta’? Tapi kenapa justru banyak yang terluka demi cinta? Kalau memang cinta itu indah, cinta seperti apakah yang indah. Bagaimana meraih keindahan cinta itu? Apakah cinta itu dapat dirasakan saat kita saling berbagi dalam suka dan duka? Mungkin benar, aku sendiri belum merasakannya. Aku tahu, aku telah merasakan rasa cinta dari ibuku. Rasa cinta yang begitu tulus dan besar. Tapi mengapa aku tidak dapat membalas rasa cintanya? Apakah karena mata hatiku yang begitu buta, atau karena aku ’belum dewasa’?

Cinta sendiri tidak dapat mereka definisikan, banyak yang terluka dalam cinta. Ataukah mereka menderita karena nafsu mereka? Cinta memang tidak dapat dibedakan dengan nafsu. Berbeda tipis. Benarkah? Entahlah.

Atau tujuan hidup ini adalah ’Tuhan’? Ya, aku percaya akan konsep Tuhan. Dan percaya bahwa dunia ini memiliki Sang Pencipta. Aku percaya betapa menakjubkannya alam semesta ini beserta isinya. Tapi kenapa aku enggan untuk menyembah Sang Penciptanya?? Apa karena aku sedang dalam masa pencarian jati diri? Sampai kapan? Dan apa tujuan Tuhan menciptakan manusia di muka bumi ini? Ah, berhenti memikirkan itu. Nanti bisa gila, begitu kata ibuku saat waktu kecil kubertanya hal tersebut.

Mengapa aku enggan belajar keras di jurusanku? Apa karena aku berpikir bahwa aku tidak cocok kuliah di jurusan itu? Atau karena ’tujuan hidupku’ bukanlah menjadi seorang profesor yang ahli secara akademis? Lalu apa tujuan hidupku?? Apakah menjadi ’orang kaya’?

Ataukah tujuan hidup ini berujung pada uang? Kelihatannya ya. Ya, aku bercita-cita menjadi orang kaya. Multi-milyuner. Dengan kekayaan yang melimpah. Tapi bagaimana caranya?? Dan untuk apa uang itu? Sering kudengar nasihat ibuku tentang uang. Menurutnya, uang sangat penting dalam hidupku, tapi bukanlah segalanya. Lalu? Artinya hidup ini untuk mencari ’uang’ bukan? Tanpa uang, hidup ini menyengsarakan. Apakah karena itu banyak yang justru terjebak untuk mencari uang? Dan akhirnya lupa bahwa tujuan hidup ini bukan hanya uang??

Lalu saat uang telah ada dalam genggaman, lalu apa yang kita cari?? Kebahagiaankah? Apakah itu kebahagiaan? Dalam keadaan apakah kita dapat mencapainya? Hidup seperti apakah yang ’bahagia’? Hidup dalam rutinitas?

Mungkin, kebahagiaan diperoleh saat kita dapat membahagiakan orang lain. Tapi itu artinya, diri kita sendiri pun harus terlebih dahulu merasakan rasa ’bahagia’ itu. Tanpa itu, apakah kita dapat menyebut ”membahagiakan orang lain” sebagai suatu ’kebodohan’? Tapi jika memang diri kita pun butuh kebahagiaan, kenapa banyak yang terjerumus dalam keegoisan? Egoisme yang menyebabkan kita justru menindas orang lain?

Dua puluh tahun aku telah bernafas dalam hidup ini. Tapi mengapa aku baru merasakan gejolak batinku saat ini? Apakah aku terlambat dalam memulai pencarian jati diriku? Mungkin aku sedang dalam labirin kebingungan. Belum mengenal karakter diriku sesungguhnya. Tidak tahu harus berbuat apa. Menjadi seperti apa. Apakah aku memang punya ’karakterku yang sesungguhnya’? Ataukah justru aku sedang membentuk karakterku?

Mengapa aku sering salah dalam menilai bakat dan minatku? Apakah karena idealismeku yang sempit? Tapi justru itulah ciri khas anak muda. Idealisme yang melekat erat. Tapi kenapa banyak ’orang dewasa’ yang kehilangan idealisme? Apakah kelunturan idealisme itu mereka alami selama masa pencarian jati diri mereka? Kalau begitu, mencari jati diri itu buruk dong? Menghancurkan idealisme. Sering kudengar banyak aktivitas mahasiswa yang pada masa lalu yang begitu idealis, pada akhirnya menjadi seorang tikus koruptor yang tidak segan menindas rakyatnya. Lalu mengapa harus ada gejolak pencarian jati diri?

Ahh… Anak muda. Itulah aku. Dan kami. Benarkah itu? Atau aku hanya berkutat dalam ilusiku sendiri, menganggap diriku ’muda’ sehingga terjerembab dalam pembenaran atas tindakan bodohku selama ini? Menganggap tindakan bodohku adalah bagian dari pencarian jati diri? Melakukan pembenaran yang picik sehingga aku terus-menerus berada dalam lubang kesalahanku?

Ah, aku pun tidak tahu. Maka beri kami nasihat. Tidak usah banyak-banyak. Cukup satu-dua patah kata saja, asal muncul dari lubuk hatimu yang terdalam. Bantu kami menuju kematangan. Jika kematangan itu memang ada.