Anak Moeda, Si Pencari Jati Diri??


Masa pencarian jati diri. Apakah jati diri itu? Sebuah identitaskah? Identitas seperti apa? Mengapa anak muda lah yang sering disebut sebagai subjek pelaku pencariannya? Apa karena anak muda sering berbuat bodoh? Atau karena kita terlalu lugu dan idealis dalam bertindak?

Anak muda. Dewasa dalam fisik, namun penuh gejolak dalam kepalanya. Tanpa gejolak, anak muda bukanlah anak muda, dan bakal hidup membosankan. Dengan gejolak mudanya, anak muda telah mewarnai dunia. Walaupun terkadang pikiran kita terlalu pendek dan sempit, hidup seorang anak muda seharusnya penuh dengan pertentangan dalam batinnya. Pertentangan yang menyebabkan kita sering bertindak ’aneh’. Hal yang dianggap para orang tua sebagai ’pemberontakan’. Tapi justru itulah yang dapat membawa seorang anak muda menuju kematangan.

Masa pencarian jati diri sering dilalui tanpa kedewasaan dalam bertindak. Juga terjadi padaku. Terlalu menuruti ego dan mood sesaat. Membuatku bertindak ceroboh, tidak berpikir akan efek dari tindakan itu. Tapi apa yang harus kulakukan? Kuanggap itu bagian dari pencarian jati diri. Tapi sampai kapan?

Gejolak dalam diriku untuk melihat dunia begitu besar. Keinginan untuk melihat dunia yang luas. Berusaha keluar dari tempurung yang selama ini membelenggu cara pandangku. Belajar dari kehidupan nyata. Keluar dari kehidupanku yang normal dan amat nyaman. Melihat bagaimana dunia dipenuhi dengan orang-orang yang penuh derita dan perjuangan. Yang terlupakan. Melihat tak adilnya kehidupan. Bagai hitam dan putih. Yang satu begitu makmur, yang lain hidup terjepit. Tapi kebanyakan bernasib sama. Hidup dalam keresahan. Atau apakah kulakukan itu hanya atas dasar kesenangan pribadi? Hanya untuk menikmati hidup?

Apa yang sebenarnya kita cari?? Apa tujuan hidup ini? Apakah berujung pada apa yang mereka namakan ’cinta’? Tapi kenapa justru banyak yang terluka demi cinta? Kalau memang cinta itu indah, cinta seperti apakah yang indah. Bagaimana meraih keindahan cinta itu? Apakah cinta itu dapat dirasakan saat kita saling berbagi dalam suka dan duka? Mungkin benar, aku sendiri belum merasakannya. Aku tahu, aku telah merasakan rasa cinta dari ibuku. Rasa cinta yang begitu tulus dan besar. Tapi mengapa aku tidak dapat membalas rasa cintanya? Apakah karena mata hatiku yang begitu buta, atau karena aku ’belum dewasa’?

Cinta sendiri tidak dapat mereka definisikan, banyak yang terluka dalam cinta. Ataukah mereka menderita karena nafsu mereka? Cinta memang tidak dapat dibedakan dengan nafsu. Berbeda tipis. Benarkah? Entahlah.

Atau tujuan hidup ini adalah ’Tuhan’? Ya, aku percaya akan konsep Tuhan. Dan percaya bahwa dunia ini memiliki Sang Pencipta. Aku percaya betapa menakjubkannya alam semesta ini beserta isinya. Tapi kenapa aku enggan untuk menyembah Sang Penciptanya?? Apa karena aku sedang dalam masa pencarian jati diri? Sampai kapan? Dan apa tujuan Tuhan menciptakan manusia di muka bumi ini? Ah, berhenti memikirkan itu. Nanti bisa gila, begitu kata ibuku saat waktu kecil kubertanya hal tersebut.

Mengapa aku enggan belajar keras di jurusanku? Apa karena aku berpikir bahwa aku tidak cocok kuliah di jurusan itu? Atau karena ’tujuan hidupku’ bukanlah menjadi seorang profesor yang ahli secara akademis? Lalu apa tujuan hidupku?? Apakah menjadi ’orang kaya’?

Ataukah tujuan hidup ini berujung pada uang? Kelihatannya ya. Ya, aku bercita-cita menjadi orang kaya. Multi-milyuner. Dengan kekayaan yang melimpah. Tapi bagaimana caranya?? Dan untuk apa uang itu? Sering kudengar nasihat ibuku tentang uang. Menurutnya, uang sangat penting dalam hidupku, tapi bukanlah segalanya. Lalu? Artinya hidup ini untuk mencari ’uang’ bukan? Tanpa uang, hidup ini menyengsarakan. Apakah karena itu banyak yang justru terjebak untuk mencari uang? Dan akhirnya lupa bahwa tujuan hidup ini bukan hanya uang??

Lalu saat uang telah ada dalam genggaman, lalu apa yang kita cari?? Kebahagiaankah? Apakah itu kebahagiaan? Dalam keadaan apakah kita dapat mencapainya? Hidup seperti apakah yang ’bahagia’? Hidup dalam rutinitas?

Mungkin, kebahagiaan diperoleh saat kita dapat membahagiakan orang lain. Tapi itu artinya, diri kita sendiri pun harus terlebih dahulu merasakan rasa ’bahagia’ itu. Tanpa itu, apakah kita dapat menyebut ”membahagiakan orang lain” sebagai suatu ’kebodohan’? Tapi jika memang diri kita pun butuh kebahagiaan, kenapa banyak yang terjerumus dalam keegoisan? Egoisme yang menyebabkan kita justru menindas orang lain?

Dua puluh tahun aku telah bernafas dalam hidup ini. Tapi mengapa aku baru merasakan gejolak batinku saat ini? Apakah aku terlambat dalam memulai pencarian jati diriku? Mungkin aku sedang dalam labirin kebingungan. Belum mengenal karakter diriku sesungguhnya. Tidak tahu harus berbuat apa. Menjadi seperti apa. Apakah aku memang punya ’karakterku yang sesungguhnya’? Ataukah justru aku sedang membentuk karakterku?

Mengapa aku sering salah dalam menilai bakat dan minatku? Apakah karena idealismeku yang sempit? Tapi justru itulah ciri khas anak muda. Idealisme yang melekat erat. Tapi kenapa banyak ’orang dewasa’ yang kehilangan idealisme? Apakah kelunturan idealisme itu mereka alami selama masa pencarian jati diri mereka? Kalau begitu, mencari jati diri itu buruk dong? Menghancurkan idealisme. Sering kudengar banyak aktivitas mahasiswa yang pada masa lalu yang begitu idealis, pada akhirnya menjadi seorang tikus koruptor yang tidak segan menindas rakyatnya. Lalu mengapa harus ada gejolak pencarian jati diri?

Ahh… Anak muda. Itulah aku. Dan kami. Benarkah itu? Atau aku hanya berkutat dalam ilusiku sendiri, menganggap diriku ’muda’ sehingga terjerembab dalam pembenaran atas tindakan bodohku selama ini? Menganggap tindakan bodohku adalah bagian dari pencarian jati diri? Melakukan pembenaran yang picik sehingga aku terus-menerus berada dalam lubang kesalahanku?

Ah, aku pun tidak tahu. Maka beri kami nasihat. Tidak usah banyak-banyak. Cukup satu-dua patah kata saja, asal muncul dari lubuk hatimu yang terdalam. Bantu kami menuju kematangan. Jika kematangan itu memang ada.

3 Tanggapan to “Anak Moeda, Si Pencari Jati Diri??”

  1. dirimu adalah masa lalu, masa kini, dan masa depanmu. that’s who you are.

    petualangan adalah sebuah sarana untuk menambah pengetahuan, mengasah empati, pengendalian emosi, dan kepedulian akan berbagai macam karakter ciptaan-Nya.

    kegagalan, keterpurukan, dan bahkan euforia adalah suatu bentuk pembelajaran.

    “we don’t need a reason to help people”

    kebahagiaan ada pada dirimu. apabila kau bahagia dikala berkorban untuk orang lain, maka itulah bahagia menurut definisimu sendiri.

    Seperti pepatah, tersenyumlah pada dunia maka dunia akan tersenyum padamu. semua adalah aksi dan reaksi.
    “cintailah, maka kau akan dicintai”, that’s all.

    “the ones who love us never really leave us”

    keep the spirits!!! that’s my boy, ^_^!

  2. percayalah, semua juga pada dasarnya NOL BESAR😀

  3. @mantolet
    lo ngomong apa sih?? wkwkwk😀

    @ferbuz
    BESARan mana ama elo fer?? gyahaha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: