Indahnya Bandung Utara : Bukit Tunggul dan Gunung Sanggara – Part 2


– lanjutan dari “Indahnya Bandung Utara : Bukit Tunggul dan Gunung Sanggara – Part 1” –

Setelah berjalan kaki selama sekitar satu jam, kita bakal tiba di Desa Pangheotan. Di daerah inilah terdapat sebuah pabrik yang mengolah kina hasil perkebunan. Ada pula jalan yang bisa tembus ke daerah Ujungberung (sebelah timur kota Bandung) yang dapat ditempuh dengan mobil selama sekitar 1-2 jam. Tapi katanya, kondisi jalanan sangat rusak dan becek saat musim hujan.

Di desa Pangheotan, kami sering mampir di sebuah warung langganan kami untuk sekedar ngopi, memesan mie telor, serta mengemil. Tradisi yang diwariskan Roncil pada kami. Setiap ada warung, harus singgah! Haha. Oya, makanan kesukaan kami adalah jelly panjang yang berwarna-warni seharga Rp.100 perak. Ada juga buah jambu yang sering kami jadikan bekal untuk dimakan selama perjalanan berikutnya.

Di desa Pangheotan ini terdapat sebuah sekolah dasar (SD) satu-satunya yang dimiliki desa ini. Penduduknya mayoritas hidup sebagai petani. Beberapa jadi tukang ojek. Banyak juga yang menggantungkan hidupnya ke daerah hutan Sanggara sebagai pemburu babi dan pengumpul hasil sumber daya hutan (sayur-mayur dan penebang kayu).

Dari desa Pangheotan, setelah berjalan kaki selama sekitar 15-20 menit, kita akan menemui desa terakhir sebelum mencapai Sanggara, yaitu desa Panglipurgalih. Desa Panglipurgalih adalah desa yang asri dan sejuk. Berada di dekat kaki Bukit Tunggul dan diapit oleh berbagai gunung dari berbagai sisi menyebabkan aku sempat berpikir bahwa desa seperti inilah yang akan aku tempati saat aku tua nanti. Apalagi jika cuaca cerah, kita dapat melihat Bukit Tunggul yang berdiri tegak dan gagah. Serta lampu-lampu kota Lembang yang gemerlap pun dapat terlihat di kala malam hari. Di desa ini, listrik belum dapat dinikmati dengan nyaman oleh penduduknya. Mungkin mereka hanya menggunakan genset untuk mendapatkan listrik. Aku sedikit lupa.

Di desa inilah, kami memiliki kenalan penduduk desa setempat yang bernama Pak Iin. Kami pertama kali mengenal Pak Iin sewaktu aku, Irfan, dan Cus melakukan survei pada akhir tahun 2007 untuk survei kelayakan Sanggara sebagai tempat diklatsar KMPA selanjutnya.

Waktu itu kita baru saja turun dari area Sanggara dan Legok Jero. Kami bertiga sepakat untuk mampir sebentar ke kediaman Pak Iin, yang menurut informasi dari teman kami sesama pecinta alam, adalah rumah di mana pada jendelanya tertempel stiker organisasi pecinta alam rekan kami tersebut (pecinta alam ”Mapak Alam” Unpas). Pada perjalanan pergi sebelumnya, kami telah melihat rumah yang tertempel stiker tersebut. Akhirnya kami memberanikan diri singgah di sana. Untung saja Pak Iin pun sedang berada di rumah.

Kami pun mengenalkan diri kepada Pak Iin dan isterinya. Tapi dinyana dan diduga, kami segera diajak makan dan disuguhi oleh sebakul nasi, sepiring lalapan sayur segar, 3-4 butir telur yang dimasak dadar, 5-6 ekor ikan kembung goreng, sepiring jamur asli Sanggara, serta sebungkus kerupuk. Gila! Kami benar-benar takjub saat disuguhi hidangan sebegitu banyaknya. Kami tidak menyangka orang-orang desa yang mungkin hidup dalam kesederhanaan, bersedia menjamu kami, para pemuda asing yang baru mereka kenal dengan makanan yang tidak kalah dari restoran Sunda mana pun di Bandung. Alhasil, kami yang kelelahan pun menyantap hidangan itu dengan sukarela, setelah sebelumnya bertingkah malu-malu kucing. Apalagi hawa dingin telah membangkitkan selera makan kami.

Selesai makan, kami pun mengobrol dengan Pak Iin. Dengan bahasa Sunda tentunya. Alhasil, Cus yang tidak bisa berbicara dalam bahasa Sunda, terpaksa bengong dan diam seribu bahasa. Walaupun terkadang dia juga ikut tertawa karena ada juga kata yang dia mengerti.

Orang desa memang baik dan penuh ketulusan. Patut diketahui, bahkan isteri Pak Iin sejak berpuluh tahun lalu tidak pernah meninggalkan desa Panglipurgalih ini. Paling hanya Pak Iin yang kadang pergi ke Lembang untuk membeli keperluan bertani atau ke Ujungberung untuk mengambil uang pensiun ayahnya di kantor pos Ujungberung. Sisa hidup mereka habiskan di desa mereka itu sebagai petani, dan seringkali mengumpulkan hasil hutan di Sanggara.

Selepas ngobrol, kami pun pamit ingin segera menuju Patrol agar tidak ketinggalan angkot. Tapi menurut mereka, kemungkinan sudah tidak ada angkot lagi, karena jam telah menunjukkan pukul setengah tiga. Dan kami kemungkinan baru tiba di Patrol pukul empat sore jika berjalan kaki cepat. Jadi mereka menawarkan pada kami agar menginap saja di rumahnya. Tapi mengingat esok hari kami telah kuliah, kami menolak halus tawaran kebaikan tersebut. Kami pun sadar bakal ketinggalan angkot sejak kami memutuskan untuk makan tadi, tapi apa boleh buat, rejeki itu tidak boleh ditolak, apalagi rejeki makanan berlimpah di depan mata. Hehe. Kami pun pamit. Dan setiba di Patrol, memang tidak ada lagi angkot yang menuju Lembang. Alhasil, setelah menunggu lama, dan negosiasi dengan ojek (untuk mengantarkan kami ke Lembang) gagal, kami terpaksa menginap di masjid setempat, dalam kondisi basah. Untung penjaga masjidnya baik dan bersedia membukakan pintu masjid semalaman hingga kami dapat tidur dengan nyaman di dalam ruangan masjid.

Haha, itulah sepenggal cerita tentang sebuah perjalanan kami selepas turun dari Sanggara dan berkenalan dengan Pak Iin. Oke kita lanjutkan.

5 Tanggapan to “Indahnya Bandung Utara : Bukit Tunggul dan Gunung Sanggara – Part 2”

  1. […] “Indahnya Bandung Utara : Bukit Tunggul dan Gunung Sanggara – Part 2“ […]

  2. hmmm….nice info, ada rencana mau kesana…
    makasih ya… ^_^

  3. haloo..salam kenal..sy rani anak MAPAK ALAM..
    em…stau saya..bapak yg kmu mksd pak iin itu nmanya bkn itu d..tp pak rahmat… (kl gk slh)
    soalnya..sy jg lmyn sering nginep dsna..kl lg ada acara di bukit tunggul..
    tp what ever lah..yg jelas..bapak itu emank baik bgt tauuu…
    hehehehe….

  4. sukmadewi mega Says:

    berkunjuuung..kmrn saya habis mendaki bukit tunggul sayang gak sampe puncak karena bikin treking baru. nice post brader…

  5. @rani. oohh pa rahmat ya namanya? hmmm…

    @sukmadewi. wiihh…. ngebuat jalur treking baru tunggul? manstap…
    ngambil dari arah mana nya tunggul mbak?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: