Indahnya Bandung Utara : Bukit Tunggul dan Gunung Sanggara – Part 3


Dari Desa Panglipurgalih, sia perjalanan sekitar 4 km dan butuh waktu sekitar sejam berjalan kaki untuk mencapai jalan setapak yang menuju Sanggara (dan kaki Bukit Tunggul). Kita bakal kembali melewati perkebunan kina selama perjalanan. Perkebunan kina memang tidak begitu indah untuk dinikmati. Tapi daerah perkebunan ini bisa kita gunakan sebagai tempat latihan navigasi terbuka, walaupun tidak terlalu ideal. Ada beberapa puncakan, punggungan, sungai, dan terutama beberapa puncak gunung yang bisa dijadikan patokan untuk melakukan intersection dan resection (yaitu puncak Bukit Tunggul, Gunung Sanggara, Gunung Manglayang).

Daerah Sanggara ini juga sering dijadikan arena perjalanan offroad bagi para motocrosser. Seringkali kami berpapasan dengan para motocrosser yang sedang memacu motor trail mereka, atau sama-sama sedang berleha-leha di warung setempat. Walaupun sebenarnya banyak warga desa yang mengeluhkan aktivitas offroad tersebut. Utamanya, karena motor trail mereka dianggap merusak jalan dan membuat kebisingan. Belum lagi tingkah laku para motocrosser yang slengean.

Lalu setelah menempuh perjalanan dari Desa Panglipurgalih, tibalah kita di area Sanggara dan Bukit Tunggul. Jalan setapak yang menuju Sanggara terletak di pinggir jalan perkebunan yang hanya dapat dilalui sebuah mobil. Hanya sekitar 100 meter dari pinggir jalan dari pintu jalan setapak ke Sanggara, kita dapat menemui sebuah dataran yang sering dipakai sebagai tempat camp. Beberapa belas meter di timur, ada pula lahan yang cukup luas dan dapat pula dipakai sebagai lokasi camp yang nyaman. Di dekat camp, hanya berjarak 5 meter, terdapat sebuah sungai yang airnya dapat kita minum. Tapi berhati-hatilah jika camp di dua area tersebut. Banyak pohon yang berbatang rapuh dan seringkali terjadi pohon yang tumbang. Kami pernah melihat pohon yang berdiameter sekitar 2 meter dan setinggi 5-7 meter tumbang dari tebing di sebelah utara kami. Suaranya cukup menggelegar, mengagetkan kami pada malam itu.

Selain dua area camp tersebut, jika kita berjalan ke arah timur laut selama 20 menit menaiki dan menuruni sebuah punggungan, maka kita akan tiba di sebuah lembah yang sangat tepat dijadikan area survival, yaitu lembah yang dinamakan Legok Jero. Daerah Sanggara memang merupakan daerah hutan yang memiliki keanekaragaman hayati yang cukup tinggi. Makanya, seringkali acara diklatsar para pecinta alam serta KSR (korps sukarela) berbagai kampus diadakan di daerah Sanggara (dan Legok Jero). Di sini banyak sekali berbagai jenis flora dan fauna yang bisa dikonsumsi. Diantaranya beberapa jenis arbei, pisang, cacing tanah, tumbuhan paku, labu siam, jamur, rambutan, kepiting kecil, banyak jenis burung, ular, tupai, kucing hutan, serta konon masih terdapat jenis harimau di sini. Belum lagi kondisi hutannya yang bertipe hutan hujan yang cukup lebat.

Di Legok Jero, banyak beredar cerita mistis. Legok Jero memang sering dijadikan tempat pendidikan survival bagi para pecinta alam. Maka, konon katanya telah banyak nyawa yang tercabut di area Legok Jero ini, mungkin karena beratnya pendidikan survival yang mereka alami. Bisa karena tidak tahan lapar, penyakit, atau karena siksaan para senior. Entahlah.

Tapi aura yang kami rasakan selama di sana memang berbeda. Apalagi saat baru saja terjadi kematian seorang rekan dari Pamor UPI yang meninggal di Legok Jero sewaktu diklatsar Pamor. Saat itu, waktu penyelenggaraan diklatsar KMPA dan Pamor memang berdekatan. Dan pada malam terakhir diklatsar Pamor di area Sanggara, terjadilah kematian itu. Padahal, besoknya kami lah yang akan menggunakan area Legok Jero selama 4 hari berikutnya. Alhasil, hawa ganjil itu kami rasakan selama kegiatan kami terpusat di Legok Jero.

Ah, kita sudahi saja cerita mistisnya. Kita simpan untuk lain kali.

Sekarang kita bercerita tentang Bukit Tunggul. Untuk menaiki puncak Bukit Tunggul, kita harus terus berjalan ke arah kaki Bukit Tunggul. Dari kakinya, kita hanya perlu mendaki selama satu jam untuk dapat mencapai puncak Bukit Tunggul. Tapi konturnya terjal dan selalu mendaki, tidak ada jalan mendatar. Alhasil kita akan cukup ngos-ngosan sewaktu sampai di puncak.

Puncak Bukit Tunggul, yang adalah titik tertinggi di daerah Bandung (Utara) dan sekitarnya, ditutupi oleh pepohonan lebat. Akibatnya, kita tidak leluasa memandang ke sekitar. Artinya, pemandangan di puncaknya memang tidak begitu mengasyikkan untuk dinikmati. Tapi ada sebuah tempat camp yang luas di puncaknya. Tidak ada salahnya untuk mencoba mendaki puncak Bukit Tunggul – titik tertinggi di daerah Bandung Utara dan sekitarnya. Apalagi perjalanan menuruni Bukit Tunggul memang cukup mengasyikkan, apalagi kalau kita mengambil jalur yang menuju ke pegunungan di daerah Ciruang Badak, walaupun jalurnya jauh memutar. Tapi benar-benar indah. Dataran Lembang dan sekitarnya yang jauh terbentang dapat kita nikmati selama perjalanan turun. Apalagi hijaunya pegunungan Ciruang Badak dan jurangnya ikut menemani di sisi barat. Hmm, nikmat.

Itulah Sanggara dan Bukit Tunggul. Setetes keindahan dari lautan kecantikan alam nusantara. Tempat di mana alam melayani manusia. Sebuah bukti ketulusan dan kebaikan masyarakatnya dapat dinikmati di sana.

Oke sekian cerita dariku tentang Bukit Tunggul dan Sanggara. Ada yang tertarik ke sana? Aku dan teman-teman siap mendampingi kalau mau. Serius!

7 Tanggapan to “Indahnya Bandung Utara : Bukit Tunggul dan Gunung Sanggara – Part 3”

  1. aku mau poooohh….
    kapan kita me-tunggul lagi? ..
    bweheheee…
    kangen deh me-tunggul bareng kalian di masa2 itu…

  2. stafarda Says:

    setubuhhhh!!!!!
    hayuk ah kapan atuh kita bernyasar2 ria lagi di tunggul??
    gw jg jadi asa pengen jd GL lagi nih
    hehehe

  3. wiwit ratna d Says:

    aku juga diajak ya.. kuatlah

  4. Good job bro…keep writing.
    Tadinya cari2 peta sanggara, diajakin eko buat ikutan acara akhir minggu depan (jan 2011), eh malah ketemu artikel ini. Dan sepertinya kita punya root yang sama di bawah perpus pusat sana.
    Bravo….!!

  5. @wiwit ratna. oke mbak , ntar diajak ya.. tapi siap2 latihan fisik dulu, nanjaknya lumayan😛

    @bang riza. haha, salam lestari kalo gitu!😛
    seangkatan dengan eko ya bang?

  6. great put up, very informative. I wonder why the opposite specialists of this
    sector don’t realize this. You must proceed your writing. I’m confident, you’ve a great readers’ base already!

  7. An impressive share! I have just forwarded this onto
    a friend who has been conducting a little homework on this.

    And he actually ordered me lunch because I found it for him.
    .. lol. So allow me to reword this…. Thank YOU for the meal!

    ! But yeah, thanks for spending time to discuss this matter here on your blog.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: