Trip to Gunung Lawu and Pacitan : FROM 3265 to Zero mdpl


Liburan Pemilu selama 4 hari berturutan tidak kami sia-siakan. Aku serta sejumlah anak KMPA berencana untuk mendaki Gunung Lawu di daerah perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Untuk melakukan itu, kami akhirnya tidak mencontreng pada Pemilu Legislatif kali ini. Yah, kami memang bukan warga Negara yang baik, jangan ditiru ya :P
Pada awalnya, aku hanya bertekad untuk menghabiskan masa libur yang cukup panjang di sela kesibukan kuliah untuk berjalan-jalan. Aku bahkan telah merencanakan untuk berangkat ke Pasuruan, kampung halaman Maman. Tapi ternyata, aku diajak anak-anak Gunung-Hutan serta Irfan untuk mendaki gunung Lawu – yang berketinggian 3265 mdpl (di atas 300 mdpl).
Salah satu factor penyebab mengapa banyak lelaki terkesan ketagihan dalam mendaki gunung adalah, saat kamu telah berhasil mendaki sebuah gunung, maka kamu akan merasa tertantang untuk dapat mendaki lebih banyak gunung yang lain. Apalagi jika gunung itu berketinggian lebih dari 3000 mdpl. Pencari tantangan – salah satu sifat dasar lelaki yang dominan. Saat justru ada lebih banyak hal lagi yang menantang untuk ditaklukkan. Saat untuk membuktikan bahwa kita bisa melakukan hal yang sulit dilakukan. Tapi tentu saja, sensasi saat berada di puncak gunung adalah yang utama. Saat kamu dapat melihat dunia di bawahmu begitu luas dan membentang. Saat engkau berada di negeri atas awan.
Kali ini, aku mendaki bersembilan orang – bersama Heri, Aldi, Gian, Ari ‘Sangap’, Dinna, Muhsin, Rahman ‘Onye’, serta Geblek – yang nanti menyusul di Solo. Ternyata bukan hanya tim kami yang berangkat. Ada juga Alam cs yang berangkat ke Gunung Sindoro. Serta tim Sani, Sigit, cs yang berangkat ke Pantai Sawarna di daerah Sukabumi. Bahkan rumornya, ada pula tim Koko yang katanya akan berangkat ke Gunung Ciremai. Wah bukan main hasrat anak KMPA untuk berjalan-jalan. Ternyata selidik punya selidik, hasrat itu disebabkan baru selesainya masa UTS sehingga anak KMPA butuh sarana pengusir kejenuhan.
Maka hari Rabu sore, tanggal 8 April 2009, setelah menyelesaikan seluruh kuliah pada hari itu, aku segera bergegas ke SEL. Aku hanya membawa daypack. Aku sempat mengajak Aldi untuk mampir dulu di Kawani untuk membeli coverbag dan sebuah bandana. Total seharga Rp.52.000.
Setelah melepas tim Sindoro pada sekitar pukul 18.00, kami pun berangkat dari SEL sekitar pukul 19.00. Ternyata Maman – yang harus mudik untuk menghadiri pernikahan kakaknya – ikut bersama kami karena ternyata dia pun akan menaiki kereta yang sama dengan yang akan kami tumpangi. Setelah ritual pelepasan oleh para penunggu SEL – yang dilakukan dengan cara berdoa kemudian berteriak ‘KMPA!!! Ganesha!!!’ bersama-sama – kami pun berjalan kaki menuju Simpang Dago selama sekitar 15 menit. Sesampai di sana, Aldi dan Dinna telah menunggu kami. Kami pun menaiki angkot trayek Riung-Dago menuju stasiun Kiaracondong. Waktu tempuh selama 30 menit dengan ongkos Rp.3500.
Sesampai di Stasiun Kiaracondong, ternyata telah penuh sesak dengan calon penumpang yang berencana untuk mudik – mungkin untuk mencontreng esok harinya di kampung halaman masing-masing. Kami berencana untuk menumpang Kereta Kahuripan yang rencananya akan tiba pada pukul 20.25. Heri telah tiba duluan dan mengantri untuk membelikan tiket untuk kami bersembilan – plus 2 orang teman Dinna yang bertemu dengan kami di Kiaracondong. Harga tiket dari Kiaracondong hingga stasiun tujuan kami (Stasiun Solojebres) seharga Rp.30.000 (di tiket tertera Rp.26.000) per orang. Tiket tidak dapat direservasi, hanya dapat dipesan sejak satu jam sebelum keberangkatan. Secara normal, seharusnya waktu tempuh dari Bandung – Solo adalah sekitar 10 jam perjalanan.
Setelah mendapatkan tiket masing-masing, kami pun segera ke pinggir rel untuk menunggu kereta kami tiba. Telah banyak orang yang juga telah menunggu di sana. Setelah mengobrol selama sekitar 45 menit, kereta kami pun tiba. Kami berdesakan untuk masuk gerbong, namun sayang sekali nampaknya kami tidak akan terangkut karena kereta telah penuh sesak. Setelah merasa sedikit putus asa, akhirnya datang keajaiban. Seorang pria memberitahu kami bahwa akan ada 2 buah gerbong tambahan yang akan disangkutkan ke kereta utama. Dia pun menunjukkan gerbongnya. Kami pun segera ke gerbong yang dimaksud. Ternyata masih kosong melompong. Dengan sedikit keraguan, kami pun menaiki gerbong itu untuk menaruh badan dan barang – sementara Heri bertanya untuk memastikan. Ternyata gerbong itu memang akan ditambahkan ke kereta utama. Segera saja gerbong itu penuh dengan penumpang. Sampai-sampai tidak ada tempat untuk meluruskan kaki. Kami beruntung masih mendapatkan tempat duduk.
Sekitar pukul 22 lebih beberapa menit, kereta pun berangkat. Aku sempat bersms-an dengan Awal, mahasiswa Matematika ITB kenalanku, yang kebetulan melihatku di Stasiun Kiaracondong dan sekereta denganku. Ia ternyata berniat pulang ke Lumajang – mumpung liburan panjang katanya. Ada juga Abe yang tiba-tiba mengirim sms padaku. Maman ternyata tidak satu gerbong dengan kami. Ia duluan naik kereta meninggalkan kami saat berdesakan tadi, tapi aku pun tahu dan maklum. Ia memang harus naik kereta itu saat itu juga.
Setelah bersms-an dan sedikit mengobrol dengan Ari, aku pun berusaha untuk tidur walaupun sulit karena posisi tubuh tidak nyaman. Tapi akhirnya aku pun dapat terlelap hingga pukul 6 keesokan paginya.
Saat aku telah terbangun, ternyata kereta tidak sepenuh malam sebelumnya. Para penumpang telah banyak turun di stasiun sebelumnya. Kali ini cuma satu-dua orang yang ‘ngampar’ di lantai kereta. Aku pun menyolot rokok untuk mengusir kebosanan dan nongkrong di pintu gerbong kereta. Banyak stasiun yang telah kami lewati – yang aku ingat terutama adalah stasiun Tugu Jogja. Pagi itu terasa cukup lama. Kami sempat membeli energen yang dijajakan para penjual keliling. Memang banyak sekali pencari rejeki di kereta kami. Mulai dari penjual nasi panas dan ayam, jual minuman, kopi dan energen, donat, asesoris, serta pengamen mondar-mandir di depan kami.
Akhirnya pada sekitar pukul 10 pagi, kami tiba di Stasiun Solojebres, kota Solo. Saat kami turun, kami telah dijemput oleh anak pecinta alam (PA) Govala Fakultas Hukum UNS – yaitu Jo, Sembur, dan Dani. Dan ternyata kami pun berbarengan dengan anak PA Mapaligi (Unikom) serta Biocita (Biologi UPI) yang juga berencana ke Lawu. Mereka pun ternyata berniat singgah di Govala. Oya aku pun bertemu dengan Mas Yudhi, anak Divkom HME yang mudik ke Solo.
Kami pun menunggu jemputan anak Govala di depan pintu masuk stasiun Solojebres. Setelah menunggu selama sekitar 20 menit dan sempat membeli secangkir es wedang ala Solo (aku pun tidak ingat namanya), akhirnya ‘jemputan’ pun tiba. Tiga buah sepeda motor datang dan mengangkut kami tiga-pertiga menuju sekre Govala di kampus utama UNS. Aku jadi kloter terakhir dan diangkut oleh Jo. Jarak stasiun Solojebres hingga kampus UNS ternyata cukup dekat, hanya sekitar 10 menit naik motor.
Kampus UNS Solo ternyata cukup besar. Namun sayang, terlihat kurang terawat. FH UNS berada di ujung belakang kampus, tepat di pintu gerbang belakang kampus UNS. Cukup capek juga kalau harus jalan kaki dari gerbang depan ke area FH.
Kami pun tiba di sekre Govala. Ada sebuah wall yang tidak begitu terawat, serta poin panjat yang juga sedikit dan berjauhan. Sekre utama Govala berada di lantai dua gedung itu. Tapi bukan hanya itu sekrenya, ternyata mereka pun telah melakukan ‘eskpansi’ sekre ke lantai pertama dan ketiga gedung itu – melalap sekre unit kegiatan mahasiswa lainnya yang jarang ditempati.
Kami pun mengobrol dan melepas lelah sejenak. Kami berkenalan dengan Peni dan Ira yang belakangan dikerahkan untuk menjemput kami. Sekitar sejam kemudian, Geblek pun menyusul dan tiba di sekre Govala. Kami berencana untuk istirahat dulu sebelum mulai mendaki pada malam harinya – sekalian menunggu Muhsin yang tadi turun di Jogja untuk sejenak mengurus administrasi dalam mengikuti Pelatihan Caving di Jogja.
Setelah makan siang pada pukul 13, aku tertidur lelap hingga pukul sekitar setengah 5. Setelah bangun, aku pun bergegas berkemas karena yang lain ternyata telah bersiap-siap. Jo ternyata ikut bersama kami – suatu keuntungan bagi kami . Kami berangkat dari gerbang depan UNS menaiki bus Jurusan Solo-Tawangmangu. Aku tidak tahu ongkosnya, karena telah dibayar secara kolektif oleh Aldi. Setelah berada di bus selama sekitar 1,5 jam dan melewati daerah Karanganyar, kami pun tiba di Terminal Tawangmangu. Tawangmangu merupakan suatu daerah yang memang diperuntukkan sebagai objek wanawisata oleh Pemda. Daerahnya indah dan menyerupai daerah Puncak di Bogor, dingin dan sama-sama berada di ketinggian sekitar 1200 mdpl, hanya bedanya tidak ada kebun teh di Tawangmangu.
Di Terminal Tawangmangu, Jo ternyata telah janjian dengan seorang bapak bernama Pak Emo yang memiliki sebuah jeep Hardtop 4WD. Pak Emo ini ternyata memiliki anak yang juga anggota Govala. Ia mengangkut kami dari Terminal Tawangmangu hingga Basecamp di Cemoro Sewu. Waktu tempuh sekitar 45 menit. Itu pun karena Jeep Pak Emo ada sedikit gangguan mesin – mesinnya tersendat-sendat. Medan jalan memang cukup menggila. Jalannya terjal dan terus menerus menanjak tiada akhir – setidaknya hingga BC Cemoro Sewu. Memang, kata Heri jalan di daerah ini merupakan jalan raya dengan ketinggian yang tertinggi di Pulau Jawa – dengan ketinggian jalan sekitar 2000 mdpl.
Tiba di Basecamp Cemoro Sewu yang berada tepat di pinggir jalan, kami pun mengeluarkan bawaan kami. Pak Emo ternyata tidak mau dibayar. Bahkan ia malah berencana menjemput kami di Cemoro Kandang keesokan siangnya setelah kami menuruni gunung.
Basecamp Cemoro Sewu adalah BC yang berada di daerah Jawa Timur. Sedangkan BC dari daerah Jawa Tengah dinamakan Cemoro Kandang. Ya, Gunung Lawu merupakan gunung yang berada tepat di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Wilayah batas provinsi dipisahkan oleh sebuah sungai dan jembatan.
Kami pun mengurus tiket masuk Gunung Lawu seharga Rp.5.000 per orang. Lalu kami pun makan malam dengan Soto Ayam. Aku sempat membeli stiker di tempat penjualan souvenir. Ya, aku memang selalu menyempatkan uangku untuk membeli stiker tiap kali menaiki gunung. Sambil makan, kami menunggu Geblek yang sedang mengantarkan sebuah ransel Pak Emo yang terbawa oleh kami, serta menunggu Peni dan Ragil yang katanya akan ikut naik.
Kami lalu nongkrong di dalam Pos Pemantauan BC Cemoro Sewu untuk menghindari udara malam yang dingin. Menurut info di Pos Pemantauan Cemoro Sewu, jarak BC ke Pos 1 adalah 1,99 km, Pos I–Pos II 2,0 km, Pos II–Pos III 0,7 km, Pos III–Pos IV 1,2 km, Pos IV–Pos V 0,3 km, serta pos V hingga Puncak Lawu ‘Hargo Dumilah’ 0,8 km. Suhu rata-rata di Puncak 4-5 derajat Celcius. Jarak tempuh perjalanan 4-5 jam (cepat) dan 6-7 jam (normal).
Setelah beres makan dan menunggu di Pos Pemantauan BC, waktu telah menunjukkan pukul 21.00 lewat beberapa menit. Akhirnya, kami dan Jo memutuskan untuk naik tanpa menunggu Peni cs. Kami pun berjalan melewati gerbang BC Cemoro Sewu dan jalan setapak. Bulan purnama bersinar dengan sangat terang, malam itu memang sangat amat cerah.
Jalur Cemoro Sewu ternyata jalur yang sudah ‘tidak natural’. Jalan dari BC hingga ke Sendang Drajat (pos 5) telah tersusun batu-batu yang menyerupai anak tangga. Berdasarkan monument di BC, total biaya pembuatan tangga batu ini mencapai Rp.35 juta yang berasal dari Dana APBD Pemda Jatim. Proyek pengerjaan tangga batu ini dibuat pada bulan Januari hingga Maret 1985.
Katanya, jalur ini memang merupakan jalur untuk pendaki pemula. Selain itu, jalurnya sangat terbuka – tidak ada hutan apalagi pohon besar tidak ada yang nampak. Terbayang olehku, betapa panasnya bila melewati jalur ini pada siang hari. Tapi jika mendaki di malam yang secerah dan seterang malam itu, suasananya cukup menyenangkan. Lampu-lampu kota yang berwarna-warni berpendar di kejauhan. Bintang-bintang di langit pun bertebaran, berkerlap-kerlip seolah-olah mengerling kepada kami.
Setelah berganti-ganti porter, kami pun tiba dengan selamat di Pos Sendang Drajat – sebuah pos tempat di mana katanya ada warung. Waktu itu sekitar pukul 02.00 pagi kurang beberapa menit. Sendang Drajat adalah sebuah tempat keramat dimana ada sebuah tempat sumber air. Untuk mengambil air di penampungan air ini, kita harus melepas alas kaki kita. Selain Sendang Drajat, di daerah puncak ini ada pula Hargo Dalem, Pawon Sewu (tempat Prabu Baramijaya memberikan titah dan wejangan), Sumur Jolotundho, serta Kawah Kecil Condrodimuko.
Kami pun membangun tenda dan flysheet, sembari Dinna dan Onye memasak mie telur untuk makan subuh kami. Suhu udara dingin, mungkin sekitar 8 derajat Celcius. Setelah makan, kami pun tidur dan berencana untuk bangun melihat sunrise.
Keesokan paginya, sekitar pukul setengah 8 pagi, aku terbangun karena tenda dirubuhkan oleh Onye. Aku memang bangun telat, tapi ternyata yang lain pun tidak ada yang benar-benar melihat sunrise pada pagi itu. Haha. Kami pagi itu makan mie korned berbarengan. Setelah packing dan mengambil air di Sendang Drajat, pada pukul 9 kami pun muncak. Kami memutuskan untuk langsung muncak saja, walaupun sebenarnya ada Hargo Dalem, tempat adanya makam Prabu Brawijaya di jalur yang berlawanan dengan jalur muncak. Alasannya karena kami sedang ‘mengejar’ waktu solat Jumat.
Dari Sendang Drajat hingga ke Puncak Lawu yang dinamakan Hargo Dumilah setinggi 3265 mdpl membutuhkan waktu tempuh hanya sekitar setengah jam. Sesampainya di Puncak, telah ada beberapa rombongan yang telah tiba duluan. Puncak Lawu berupa dataran kecil seluas 5×5 meter yang ada tugu dengan sponsor Kiki Buku Tulis *what de …*.
Di puncak ini sama sekali tidak ada yang istimewa. Yah, tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan puncak Gunung Slamet (3428 mdpl) yang kudaki beberapa bulan sebelumnya. Tidak ada kawah, tidak ada feeling yang cukup menggelitik adrenalin.
Hanya saja dari kejauhan di sebelah selatan kita bisa melihat Gunung Merbabu dan Merapi, serta Gunung kembar Sindoro-Sumbing di baliknya. Serta dari kejauhan di sebelah barat, terlihat pula Gunung Semeru serta Arjuno. Serta punggungan yang menyatu dengan puncak Hargo Dumilah di mana ada tower di puncaknya terlihat di sebelah Utara. Awan menutupi pemandangan di bawah kami, sehingga kami tidak dapat melihat kota-kota di bawah kami. Seandainya tidak ada awan seperti tadi malam, aku bertaruh bahwa kami akan melihat pemandangan yang menakjubkan membentang di hadapan kami.
Setelah foto-foto narsis bareng, kami pun turun gunung dengan melewati jalur Cemoro Kandang yang melewati area Jawa Tengah. Jalur ini ternyata sangat menyebalkan. Jalannya memang landai tapi berputar-putar. Aku sempat mencium bau belerang saat perjalanan turun.
Akhirnya, aku yang telah cukup sebal dengan kondisi jalan yang berputar-putar, mengambil jalur air yang licin dan merupakan jalan lurus pintas yang memotong jalan setapak yang berputar-putar menyebalkan. Menuruni jalur ini mengingatkanku saat menuruni Gunung Ciruangbadak hingga Cibodas di daerah Lembang, Bandung Utara. Rangkaian gunung yang menyerupai sesar membentang di hadapan kami. Pemandangan sangat indah. Sayang awan menutupi pemandangan kami.
Jalur Cemoro Kandang memiliki 5 pos sebelum sampai ke puncak. Pos IV Cokrosuryo berada di ketinggian 3025 mdpl, Pos III Penggik 2780 mdpl, Pos II Tamansari Atas 2470 mdpl, serta Pos 1 ssTamansari Bawah 2300 mdpl. Jarak antar pos relative jauh, terutama jarak dari Pos 3 ke Pos 2. Kami harus menempuh waktu sekitar 1,5 jam padahal kami sedang turun gunung. Kami melakukan 3 kali pindah punggungan sebelum sampai di Pos 2. Bahkan, dari pos 1 hingga BC Cemoro Kandang pun bisa dibilang cukup jauh, ditempuh sekitar sejam jalan kaki. Total perjalanan turun gunung dari Puncak hingga BC adalah sekitar 4 jam, kami berangkat dari Puncak sekitar pukul 10 pagi, dan tiba di bawah BC sekitar pukul 13.45.
Sesampainya di BC Cemoro Kandang yang berada tepat di pinggir jalan, kami pun segera menuju warung dan bertemu dengan Geblek yang telah menunggu duluan. Aku memesan Soto Ayam serta Perasan Air Jeruk. Sebelumnya, aku pun membeli souvenir berupa kaos Pendakian Lawu. Sembari menunggu Aldi dan Dinna yang baru tiba sekitar 45 menit kemudian, kami pun mengobrol dan bercerita tentang perjalanan menuruni gunung tadi. Kami sepakat bahwa jalur yang kami lewati barusan sangat membosankan dan jauh. Memang jaraknya lebih jauh sekitar 4 km (katanya) daripada jalur Cemoro Sewu tempat kami naik tadi malam.
Setelah Aldi dan Dinna tiba, kami pun segera mengangkut bawaan kami ke atas Jeep milik Pak Emo yang telah stanby sejak tadi siang di BC Cemoro Kandang. Dari kejauhan terlihat BC Cemoro Sewu yang hanya berjarak sekitar 1 km dari BC Cemoro Kandang.
Jeep pun mengangkut kami. Ternyata tidak tanggung-tanggung, pak Emo membawa kami hingga kampus FH UNS di sekre Govala. Padahal aku telah bersiap-siap turun di terminal Tawangmangu – karena kukira akan diturunkan di sana. Sepanjang perjalanan sangat menyenangkan. Jalanannya sangat mulus dengan lembah dan bukit selalu menyertai kami sepanjang perjalanan – terutama di daerah Tawangmangu. Mirip dengan daerah High Valley di Amerika. Aku dan Heri berpendapat bahwa jalanan seperti ini akan sangat mengasikkan untuk Touring dengan sepeda motor.
Sekitar pukul setengah 5 sore, kami tiba di sekre Govala. Kaki dan badan pegal-pegal. Mobil jeep Pak Emo mogok sehingga ia dijemput oleh anak dan isterinya. Kami pun berkenalan dengan putri Pak Emo yang cukup manis bernama Indi. Hehe. Setelah Pak Emo pulang, kami lalu beristirahat dan mandi.
Malam harinya, saat makan malam, kami diajak oleh Jo untuk pergi ke pantai di daerah Pacitan keesokan harinya. Sempat terjadi konflik kecil, ketika Dinna ingin pergi ke Jogja sedangkan kami sepakat pergi ke Pacitan. Akhirnya Aldi memutuskan akan menemani Dinna ke Jogja, sedangkan aku, Heri, Gian, Ari, dan Rahman berangkat bersama Jo ke Pacitan. Geblek tidak bisa ikut. Malam itu, kami makan di warung Susu Murni dan makan Nasi Kucing. Nasi Kucing adalah nasi goreng (dalam porsi sedikit) yang dapat dimakan dengan gorengan atau pun jenis gorengan yang lain (ati ampela, usus ayam, dll).
Setelah makan, kami pun beranjak tidur pada sekitar pukul 22. Aku sendiri masih sempat menonton film Wall-E sebelum pergi tidur pada pukul setengah 12 malam. Setelah membalas sms dari Ucy yang sedang berada di Bandung, aku pun tidur hingga keesokan paginya.
Pada pukul 6 pagi, aku segera mandi karena kami harus segera berangkat ke Pacitan. Kukira jarak Solo – Pacitan tidak begitu jauh, ternyata jauhhh sekali. Peserta touring kali ini adalah aku, Heri, Gian, Rahman, Ari ‘Sangap’, dan Jo. Kami berangkat dari sekre Govala sekitar pukul 6.25. Jo yang membonceng Sangap berada di depan menjadi penunjuk jalan bagi kami. Setelah menaiki motor sekitar 2 jam, melewati kota-kota Sukoharjo, kota GXXX (lupa namanya – ntar liat peta dulu :P ) dan mampir untuk sarapan Tongseng (semacam soto gule daging) di terminal Sukoretno, kami segera melanjutkan perjalanan. Rata-rata kecepatan motor kami 80 km/jam, tapi tetap saja tidak sampai-sampai di Pacitan. Malah motor Suzuki Swift yang dikendarai Jo terkena bocor ban.
Baru beberapa saat setelah melewati perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur, kami tiba di gerbang Kota Pacitan. Pacitan ternyata sebuah Kota yang mengusung Jargon “Pacitan Kota Seribu Satu Goa”. Kami pun berfoto di depan gerbang masuk Kota Pacitan itu dengan selftimer kamera Heri yang ditaruh di permukaan jalan – yang akhirnya gagal karena focus malah ada pada batu kerikil di jalanan.
Setelah menggeber sepeda motor dengan kecepan 80 km/jam dan terus menerus mengapit sepeda motor Jo, kami pun akhirnya tiba di kota Pacitan. Kota ini berada di pesisir pantai. Awalnya kami ditawarkan Jo untuk pergi ke Pantai yang ‘ramai’ (aku lupa namanya), tapi akhirnya kami diajak ke pantai yang lebih ‘sepi’.
Setelah melanjutkan perjalanan sejauh sekitar 10 km dari pusat kota Pacitan, kami tiba di Pantai Serau. Saat itu sekitar pukul 11. Pantai ini adalah pantai yang indah. Terdapat beberapa teluk kecil yang berombak cukup besar. Ada pula pulau kecil berada agak di tengah laut yang terlihat menonjol di seberang sana – ternyata itu pulau karang yang ditumbuhi semak-semak. Pasirnya pun pasir putih yang indah. Pokoknya pantai ini patut dikunjungi apabila kamu singgah di Pacitan. Sayang sekali, matahari bersinar sangat amat terik.
Selama bermain-main di pantai bersama Jo, ia ternyata adalah pribadi yang mengasikkan. Ia seolah-olah telah mengenal kami sejak lama. Ia pun baik hati, bahkan ia tidak mau dibayari saat makan, membayar bensin ataupun saat ban motornya pecah. Ya, untung saja kami adalah pecinta alam.
Banyak untungnya saat menjadi pecinta alam. Karena ikatan solidaritas antar pecinta alam yang begitu kuat, para pecinta alam akan selalu disambut seperti raja saat singgah di sekre PA lainnya. Apabila jika mereka tahu bahwa kita datang dari jauh. Kita akan dijamu dengan sangat baik. Mereka akan membelikan kita makanan, cemilan, dan berbagai akomodasi lainnya.
Itulah mengapa Gugum, Sigit, cs begitu sibuk menjamu apabila ada PA dari kampus lain yang mampir ke sekre KMPA. Itu karena mereka telah sering menerima jamuan yang baik saat singgah di sekre PA lainnnya. Mereka sadar bahwa mereka harus membalas perlakuan baik saat mereka berkunjung, maka mereka membalasnya dengan cara menjamu setiap PA yang mampir ke sekre kami dengan baik. Ya, sebelum kesadaran untuk menjamu dengan baik itu muncul, kita memang harus pernah merasa dijamu dengan baik. Itulah yang mungkin kurang dimiliki oleh anggota kami yang lainnya.
Kami berfoto dan bermain-main dengan ombak dengan riang. Pada sekitar pukul 13, kami pun diajak Jo berangkat ke Goa Gong. Kami menempuh jarak sekitar 20 km dari Pantai Serau ke Goa Gong. Ternyata Goa Gong adalah sebuah goa yang dijadikan tempat wisata oleh pemerintah Pacitan. Bagiku, goa ini terkesan aneh dan dibuat-buat. Kami memasuki goa ini sejauh sekitar 20 meter ke bawah permukaan tanah. Di goa ini, telah dibuat tangga dengan pegangannya. Lampu-lampu dengan berbagai warna bertebaran di dalam goa. Ada pula kipas angin besar yang suaranya berisik di beberapa tempat. Intinya, goa ini menjadi jauh dari menarik bagi kami – apa mungkin karena kami seorang pecinta alam yang menyukai alam yang natural?? Entahlah, yang jelas memang tidak ada yang cukup menarik di area wisata Goa Gong. Walaupun di area wisata Goa Gong ada juga tempat pemandian air panas yang tidak sempat kami kunjungi.
Pukul setengah 3 sore, kami beranjak dari area parkir wana wisata Goa Gong menuju Solo. Kami memang harus bergegas karena kami harus berada di stasiun Solojebres pukul 8 malam agar tidak ketinggalan kereta Kahuripan menuju Bandung.
Setelah sempat mampir untuk makan Soto Ayam beberapa saat setelah melewati perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur, kami pun memacu sepeda motor kami menuju Solo. Akulah yang menyetir sepeda motor Supra-X dan membonceng Rahman. Jalanan yang mulus serta kondisi kendaraan yang sepi membuatku memacu sepeda motor dengan kencang. Bahkan beberapa kali aku mencapai kecepatan 110 km/jam, untuk mencoba secepat apa motor yang aku pacu dapat bergerak. Hasilnya kecepatan tertinggi yang dapat kucapai sekitar 115 km/jam. Sepanjang perjalanan, kami memang memacu sepeda motor kami dengan kencang. Kami begitu menikmati touring kami kali ini. Sangat menyenangkan dapat memacu adrenalin dengan memacu dan mengebutkan motor kami secepat yang kami bisa. Tapi kami tidak menyempatkan diri untuk mengisi bensin. Alhasil, sepeda motorku kehabisan bensin sesaat setelah melewati perbatasan kota Solo. Untung saja aku masih sempat memberitahu Heri dan Gian. Mereka yang kemudian membelikan kami bensin dengan botol Aqua 1,5 liter.
Setelah mengisi bensin, kami pun tiba di sekre Govala sekitar pukul setengah 6 sore. Setelah melihat speedometer, ternyata jarak tempuh dari Pacitan hingga Solo adalah 140 km! Artinya, hari itu kami telah menempuh perjalanan pulang-pergi sejauh 280 km!!! Jarak yang tidak kubayangkan sebelumnya. Hari itu, Jo telah membawaku melakukan perjalanan dengan sepeda motor terjauh yang pernah kulakukan sebelumnya – apalagi ditempuh hanya dalam waktu satu hari. Gile bener…
Kami segera mandi kemudian berkemas-kemas. Kami pun sempat melihat-lihat foto kami pada hari itu dan berkomentar serampangan. Lalu kami pergi dari sekre Govala menuju stasiun Solojebres pada pukul setengah 8 dengan diantar naik motor oleh Sembur, Dani, Jo, Muhsin, dan Peni. Kami berlima pun berpamitan dengan mereka setelah kereta Kahuripan diumumkan akan segera tiba. Sementara itu, Muhsin tetap tinggal di Solo karena ia harus berangkat ke Jogja esok harinya. Sekitar pukul 20.10, kereta Kahuripan dengan tujuan Padalarang pun berangkat dari Stasiun Solojebres. Kami pun naik kereta itu dan mencari posisi di gerbong terdepan.
Aku tertidur selama perjalanan hingga keesokan harinya. Aldi dan Dinna tiba-tiba telah berada di lantai di samping tempat dudukku. Mereka ternyata naik kereta dari Stasiun Jogja dan setelah bersms-an dengan anak-anak segera bergegas ke gerbong terdepan. Kami pun tiba di Stasiun Kiaracondong pada sekitar pukul 9 pagi. Setelah mencarter angkot dari Kircon, kami pun tiba dengan sehat walafiat di SEL pada pukul 10.
Yah, liburan kali ini cukup berkesan bagiku.
All in one vacation.
Setelah mendaki gunung setinggi 3265 mdpl, kami lalu bermain ombak di pesisir pantai berketinggian 0 mdpl, bahkan kemudian masuk ke bawah tanah di Goa Gong sedalam 20 meter, lalu kemudian melakukan Touring bersepeda motor sejauh 280 km pulang-pergi. Semua itu dilakukan hanya dalam waktu 2 hari saja…
From 3265 to zero, then negative mdpl…

<< foto perjalanan ini bisa juga dilihat di fesboek http://www.facebook.com/album.php?aid=2019282&id=1453202926 >>

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: