Napak Tilas Traveling 2009


Pertengahan bulan Januari diklatsar Acara Akhir KMPA sebagai panitia selama xx hari (dirahasiakan dari calon anggota KMPA😛 ) di area Ciherang, Gunung Burangrang serta area Bandung Utara. Ada bencana banjir bandang yang menimpa sebagian panitia dan menghancurkan basecamp panitia sehingga mau tidak mau mengubah teknis acara, serta insiden 2 kali jalan malam dari pukul 8 pagi hingga pukul 3 pagi. Satu orang dipulangkan dari diklatsar karena tidak mampu lagi secara mental. Untungnya diklat masih dapat berlangsung hingga akhir pelantikan. Kita dapet 15 anggota baru, ada 5 cewe, peningkatan lah dari segi kuantitas…

Akhir bulan Februari jalan-jalan all KMPA ke Tegal Panjang via Pangalengan, sampe tembus Gunung Papandayan, dan pulang lewat Garut selama 3 hari. Ini merupakan jalan-jalan informal yang diikuti anggota terbanyak sepanjang sejarah KMPA, yaitu diikuti hingga 30 orang anak KMPA!!! Fantastik… Gw gak begitu menikmati perjalanan ini, soalnya kebanyakan orang yang ikut. Bikin sumpek, n berisik. Tapi gw menikmati saat gw, Alam, dan Didik berangkat bertiga dari kampus, dan menghabiskan semalam terlantar beratapkan langit di pasar Pangalengan, hingga terombang-ambing nebeng truk gede menelusuri jalanan rusak sampai kebun teh di kaki Papandayan… Tegal Panjang pun tetap menjadi padang rumput luas yang indah dan hijau, diserta background beberapa gunung di belakangnya… Kawah Papandayan juga menarik untuk disusuri berjalan kaki, dengan kawahnya yang aktif dan berbau belerang menyengat (sampai nafas terbatuk-batuk dibuatnya).

Awal April sewaktu libur Pemilu Legislatif (terpaksa Golput😛 ) selama sekitar 6 hari, gw sama 8 anak KMPA lainnya hiking ke Gunung Lawu, ditemani Bang Jo anak Govala FH UNS. Kami berangkat malam hari ditemani bulan purnama yang benar-benar terang sehingga kami tidak lagi perlu senter, serta bintang-bintang bertebaran di atas kami. Kami tiba di pos Sendang Drajat pukul 2 pagi. Gunung Lawu sebenernya lumayan asik, tapi sudah terlalu ‘artifisial’. Udah banyak tangga-tangga buatan… Malahan, katanya ada warung di pos Sendang Drajat, sayang sewaktu kami datang, warung itu sedang tutup. Pemandangan di Puncak pun tidak terlalu asik, apalagi awan tebal menutupi pandangan kami ke arah kota.

Lawu merupakan tempat ritual bangsa Jawa, memiliki area terkenal bernama Kawah Candradimuko yang menjadi tempat penempaan ksatria jaman dulu, termasuk Gatotkaca. Lawu juga adalah tempat bertapa Prabu Brawijaya dari Majapahit. Klo mau ke Gunung ini, enakan naik lewat jalur Jawa Timur (via Cemoro Kandang) trus turun lewat jalur Jawa Tengah (via Cemoro Sewu). Yang keren di gunung ini yaitu jalan rayanya yang merupakan jalan raya tertinggi di Indonesia yaitu sekitar 1800 mdpl, mulus n asik jalannya buat dipake touring.

Trus kita juga main ke temen-temen mapala Govala Hukum UNS yang baek-baek, terutama Bang Joe. Kita lalu diajakin Bang Joe touring 400km PP dalam sehari dari Solo ke Pantai Serau, ama Goa di Pacitan. Pantai Serau pemandangannya keren abissss… Biru jernih dengan ombak yang besar. Tapi karena ombak gedenya, gak bisa dipake buat berenang-renang. Tapi dijamin tetap mantap lah…

Kemudian walaupun rencana perjalanan keliling Indonesia yang gw dan Didik rencanain pada bulan Juni hingga Agustus gagal, tapi ada hikmahnya. Gw akhirnya Kerja Praktek di Palembang selama awal Juli sampe pertengahan Agustus… Gw dapet di perusahaan Telkom Sumbagsel. Lumayan, dadakan tapi tetep dapet tempat KP, bisa sekalian jalan-jalan n mudik ketemu keluarga lagi he..he. Palembang kotanya panas, gerah dan membosankan (dibandingkan Bandung tentu saja), tapi jadi ngga kerasa gara-gara ada sepupu-sepupu gw yang asik n udah nemenin gw main-main selama di Palembang. Tengs buat Macak Ria, Kak Tan, Tian, Arie, Yuk Ita (yang masakannya enak bangett), Icha, Kak Didit, semua lah pokoknya. Total 1,5 bulan gw ada di kota ini. Tapi kinerja ku selama Kerja Praktek aku nilai GAGAL TOTAL… (Aku ternyata belum cukup dewasa untuk bekerja profesional…😦

Sepulang dari Palembang, tepat pada hari pertama lebaran, gw dan Gopal berangkat touring naik motor dari Bandung ke Majalengka sejauh 120 km. Sekalian Gopal juga mudik ke desa Maja di dekat kaki Gunung Ciremai, niatnya sekalian mau hiking ke Gunung Ciremai.

Awalnya, kayaknya kita gak diijinin oleh ortunya Gopal buat naik gunung. Gw inget banget, malem sebelumnya memang angin kencang dan dingin menerpa Desa Maja. Tapi untungnya dibolehkan juga. Malah personil nambah satu orang, yaitu saudara Gopal yang lagi kuliah di UPI, dan sekarang lagi sedang mudik pula.

Setelah siang harinya aku ikut bersama Gopal dan keluarganya bersilaturahmi ke rumah sanak saudara mereka di Majalengka dan sekitarnya, pada Senin malam harinya kita mulai pendakian, berangkat dari Desa Maja pukul 7 malam. Dengan penerangan seadanya, kami menelusuri jalan setapak gelap yang sama sekali tidak diterangi cahaya bulan sedikit pun (karena masih awal bulan Syawal). Untungnya, bintang-bintang bertebaran di langit menghiasi perjalanan kami. Terus terang, di tengah kegelapan itu, aku waspada akan adanya hewan-hewan tak diinginkan.

Sepanjang jalan, kami tidak bertemu seorang pun pendaki lainnya hingga kami mencapai puncak pada pukul 5 pagi. Malahan, puncak dan kawah Gunung Ciremai seolah hanyalah milik kami bertiga. Tidak ada lagi siapa pun selain kami di sana. Setelah menikmati sunrise, kawah Ciremai yang indah serta dalam dan sedikit berbau belerang, serta siluet Tangkuban, dan Gede Pangrango di sebelah barat, serta Gunung Slamet di sebelah timur, dan awan yang berada di jauh bawah kami sayangnya menghalangi pemandangan ke arah kota Majalengka dan Kuningan, pada pukul 8 pagi kami turun gunung via jalur yang sama.

Ternyata, di dekat puncak sedang bermekaran bunga abadi Edelweiss yang indah sekali, menyerupai taman bunga yang rupawan. Kami sempat memetik beberapa kuntum bunga itu. Kali ini, selama turun gunung kami bertemu beberapa rombongan pendaki, termasuk teman SMA Gopal yang juga kuliah di ITB. Akhirnya, pada sore hari pukul 3 sore kami tiba kembali di Desa Maja dengan selamat, dengan membawa kaki yang sakit-sakit dan pegal-pegal. Aku langsung tertidur di rumah kakek Gopal tersebut dari pukul 5 sore hingga pukul 8 pagi keesokan harinya karena saking capeknya (total 15 jam gw tertidur, sampe-sampe saudara Gopal ribut menyuruh Gopal mengecek apakah aku masih hidup atau tidak ha..ha).

Kemudian pada hari Rabu siang esok harinya, aku bersama Gopal kembali touring pulang ke Bandung. Kami sempat mampir minum Es Kelapa Muda di sebuah warung di pinggir sungai yang berada di antara jalan raya Majalengka dan Sumedang. 3 jam kemudian, kami tiba di Bandung tepatnya pada pukul 5 sore.

Sehari setelah aku pulang dari Ciremai, aku harus kembali bersiap-siap karena aku, Ria, Arfan, Aji, dan Nasir berencana untuk hiking naik Gunung Merbabu. Padahal kakiku masih sakit-sakit seluruhnya sisa perjuanganku naik Ciremai beberapa hari sebelumnya. Tapi kupaksakan saja, terutama karena bayanganku tentang perjalanan hiking ketiga ke gunung di daerah Jawa Tengah yang tentunya pasti bakal sangat menarik dan menyenangkan – sama seperti 2 gunung di Jateng sebelumnya yaitu Slamet dan Lawu.

Kami berangkat Kamis malam hari menggunakan KA Kahuripan menuju Stasiun Jogja. Pagi hari kami tiba di Jogja, dan sarapan gudeg di dekat stasiun. Kemudian lanjut naik Bus dari Stasiun menuju suatu Terminal di Jogja juga. Dari sana, kami naik bus menuju kota Magelang. Dari terminal di Magelang, kami naik bus hingga tiba di jalan raya Kopeng di sebelah barat Merbabu.

Hiking kali ini cukup menarik. Jalur naik via Jalur Kopeng ditemani pemandangan mendaki yang fantastis karena diiringi oleh sunset nan jingga dan siluet Gunung Sindoro-Sumbing di barat, ditambah karakter Gunung Merbabu yang penuh dengan debu dari kaki hingga puncak, plus naik turun kontur Merbabu yang menyebalkan (bahkan beberapa kali kami harus traversing), serta tentu saja 7 summit Merbabu yang terkenal. Sayangnya, Merbabu tidak ada kawahnya…

Dari puncak, terlihat gunung Merapi yang mengeluarkan abu di sebelah tenggara, terlihat begitu dekat dan mudah dicapai. Seturun dari puncak, kami berjumpa dengan padang rumput ilalang yang oke. Ada juga padang kecil edelweiss yang penuh dengan bunga bermekaran. Mantap, tidak kalah dengan Edelweiss di Ciremai…
Sayangnya, kami salah ambil jalur sewaktu turun, sehingga meleset jauh dari pos penurunan Selo yang seharusnya. Kami tiba di suatu desa dengan badan berlumuran debu, dan untungnya lalu dijamu pak RT setempat dengan nasi dan lauk pauknya yang enak tenann. Dari sana, kami menyewa pickup hingga tiba di terminal Salatiga. Dari Salatiga, kami naik bus ke Solo. Dan kemudian dijemput Jo dan teman-teman Govala FH UNS untuk menginap semalam di sana.

Kami sempat diajak jalan-jalan keliling Solo sebelum pulang pada hari Minggu malam. Kali ini, di sekre Govala untuk kedua kalinya aku bertemu dengan cewe manis bernama INDRI, seorang mahasiswi UNS yang juga adik dari seorang anggota Govala (pertama kali bertemu sewaktu aku naik Lawu 6 bulan sebelumnya). Sayangnya, aku tidak sempat ngobrol karena dia langsung pergi lagi. HUHH, liat saja nanti.. Aku pasti bisa ngajak dia jalan next time gw main ke sekre Govala lagi…😛

Setelah naik Merbabu dan kembali berkutat dengan kuliah selama 2 bulan lebih, di libur Natal Tahun Baru yang baru saja berlalu, aku bersama Maman, Yudi, Muhsin, dan Jekim berangkat melakukan survey ke Taman Nasional Alas Purwo di Kabupaten Banyuwangi selama 10 hari.

Alas Purwo adalah hutan yang sangat amat unik dan menarik. Kebanyakan vegetasinya terdiri dari hutan Jati dan Mahoni di area dekat jalan mobil, serta hutan bambu di area pedalaman. Kita seperti berada di Taman Safari saja rasanya, hewan-hewan berkeliaran dengan bebas di sekitar kita, mulai dari rusa, banteng, babi hutan, monyet, burung Merak, jenis burung beterbangan (banyak pula burung Rangkong yang bunyi kepakan sayapnya unik), berbagai jenis ular pun kami jumpai face-to-face (ada King Cobra bersisik kuning di bagian leher, python yang sedang hibernasi di mulut sebuah goa, ular hijau cerah yang sempat aku pegang buntutnya), semuanya berkeliaran di depan mata kami dengan bebasnya!!! Dan tentu saja, hewan-hewan itu dibiarkan liar, bukannya dipelihara dan diberi makan layaknya di Taman Safari.

Ada juga pantai yang indah, bahkan Pantai Plengkung merupakan salah satu dari 3 pantai dengan ombak terbaik di dunia (untuk olahraga surfing alias selancar).

Dan karena di Alas Purwo terdapat kawasan batuan Karst (yang juga merupakan tujuan ekspedisi kami, yaitu ekspedisi pemetaan jalur Goa berair di Taman Nasional Alas Purwo), tentu saja banyak bertebaran goa di sana-sini. Banyak pula yang merupakan tempat ritual dan bersemedi bagi sebagian kalangan, termasuk bagi umat Hindu yang mengkeramatkan beberapa Goa di sini, diantaranya Goa Mangleng, Goa Istana, Goa Basyori, Goa Padepokan, dll.

Perjalanan kali ini benar-benar membuka wawasanku. Aku awalnya tidak percaya bahwa ada orang-orang yang mau menghabiskan waktu untuk bertapa dan bersemedi di suatu goa yang gelap, dingin, berbau apek kelelawar yang sama sekali tidak enak… Tapi aku melihat dengan mata kepala ku sendiri ritual tersebut benar-benar ada. Yah wawasanku kembali bertambah lagi. Malahan, aku diberi suatu batu kecil yang disebut ‘Batu Pengasih’ oleh salah seorang pertapa yang aku temui. Yah sejauh ini memang sepertinya Batu itu cukup ampuh😛

Perjalananku di tahun 2009 ini memang cukup banyak dan membuka wawasanku lebih luas lagi. Moga-moga taun 2010 aku bisa punya waktu lebih banyak untuk mengembara lagi…😀

anak muda yg ingin melihat dunia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: