“…”


Pagi ini, aku merasa sangat kecewa. Perjuangan yang telah kami lakukan sejak hampir setahun yang lalu, ternyata tidak diapresiasi dengan pantas oleh beberapa pihak. Yang disayangkan olehku adalah, keputusan itu dibuat bukan atas suatu dasar yang objektif dan jelas, tapi diambil dari suatu tolok ukur yang subjektif, mengawang-awang, serta terlalu memiliki standar yang berlebihan.

Kami telah susah payah berusaha mewujudkan ekspedisi ini. Aku pribadi telah merasa sreg dan klop dengan tim yang telah kami bentuk. Kami telah melakukan berbagai hal bersama-sama, semenjak proses perumusan masalah dan konsep ekspedisi yang memakan banyak waktu dan kata-kata, latihan SRT yang telah dilakukan beberapa kali oleh teman-teman tim ekspedisi, yang setiap kali dilakukan hingga pukul 3 pagi; latihan fisik dan lari bersama di sabuga; survey langsung ke jawa timur; hingga simulasi ke Pangandaran dan persiapan pra ekspedisi yang telah kami siapkan melingkupi logistik, medis, teklap, emergency response; semuanya dilakukan dengan riang dan canda.

Sayangnya, oknum-oknum yang kurang bijaksana, karena mereka yang hanya bisa ngomong doang dan mencerca serta menjatuhkan kami di akhir, tanpa pernah memberikan saran dan masukan yang membangun selama kami melakukan proses ekspedisi; kami harus kembali ‘gagal’ melakukan ekspedisi. Tanpa standar yang jelas, mereka menjudge kami tidak layak untuk mengemban nama ekspedisi. Padahal, apakah mereka sendiri paham apa itu makna ekspedisi?? Apakah mereka tahu dan pernah merasakan sendiri seperti apa ekspedisi itu seharusnya?? Apa sih yang selama ini pernah mereka lakukan untuk organisasi ini?? Adakah?? Seperti itukah orang-orang yang mengisi organisasi ini saat ini?? Orang yang hanya bisa mengkritik di akhir, tanpa memberikan solusi yang pada saat yang tepat?? Selama ini mereka hanya diam (dan mungkin iri), tapi kenapa di akhir mereka malah menjatuhkan kami…

Aku suka perumpamaan yang digambarkan Baim, bahwa orang-orang itu seperti orang awan yang tidak mengerti musik, tidak bisa memainkan alat musik, tapi dengan semena-mena mereka menjudge suatu lagu (misal lagu melayu) sebagai suatu karya musik yang buruk. Padahal mereka tidak tahu seperti apa proses di balik pembuatan lagu tersebut, betapa rumitnya menyusun aransemen dan lirik yang pas. Mereka hanya menjudge lagu itu buruk oleh karena perasaan mereka berkata bahwa lagu itu buruk. Tidak ada standar dan role model yang jelas tentang seperti apa lagu yang baik itu diciptakan. Mereka tidak tahu perjuangan kami seperti apa selama ini. Mohon maaf, dengan berat hati mereka akan aku bilang orang-orang picik.

Jujur, aku merasa sangat kecewa dan merasa perjuangan tim ini tidak diapresiasi dengan pantas. Masalahnya, bukan dari tujuan yang ‘kurang ilmiah dan komprehensif’, bukan! Itu memang subjektif. Karena aku sendiri berpendapat, bahwa hasil pemetaan goa bahkan walaupun tidak dalam bentuk 3D, akan sangat membantu berbagai pihak yang berbasis ilmiah. Hasil pemetaan ini akan menjadi basis bagi ilmu pengetahuan mendatang yang dapat dikembangkan lebih lanjut. Gak usah sok-sok bersikap konservatif dan lain sebagainya, karena kita tahu kemajuan iptek memang memiliki efek pisau bermata dua. Selama tidak berlebihan, ya masih dalam batas toleransi.

Akhirnya, setelah diputuskan bahwa usaha yang telah kami lakukan hanya disejajarkan dengan istilah jelajah, aku memutuskan untuk tidak berangkat ke jawa timur sama sekali. Berat untuk meninggalkan kuliah selama minimal 2 minggu, hanya untuk melakukan suatu hal yang setara dengan ‘JALAN-JALAN’ biasa. Hah, pengorbanan kami terlalu besar untuk hanya melakukan sebuah jalan-jalan di saat masa kuliah berlangsung. Jalan-jalan seperti itu adalah tidak memiliki tujuan ilmiah, buat apa kami melakukan suatu yang tidak setimpal dengan pengorbanan yang kami lakukan? 2 minggu bukan waktu yang pendek untuk meninggalkan kuliah! Itu waktu yang panjang. Setelah pengorbanan kami selama ini tidak dihargai dengan selayaknya – hanya karena suatu alasan yang subjektif dan tidak memiliki standar yang jelas, serta diputuskan oleh orang-orang yang tidak tahu tentang alas purwo, persiapan, dan deksripsi ekspedisi kami – kami tidak mau berkorban lebih lanjut lagi demi suatu hal yang tidak setimpal.

Aku ingin mengasingkan diri dari dunia luar dulu, sudah lama aku tidak merasakan ini…

3 Tanggapan to ““…””

  1. aal eez well!

    hahaaa,.. curcol nih!

  2. semangat dik… hidup memang pahit.

    jadikan sebagai bahan pelajaran aja. catat semua sanggahan yang ada, lalu buka kembali di tahun berikutnya.. cari jawaban atas pertanyaan2 tersebut… buat programnya, dan presentasikanlah secara menohok.

    saya ga bisa bantu apa2, selain mengingatkan untuk tetap sabar.

    PS: kalo kata ekspedisi yang dipermasalahkan, kenapa ga coba ganti jadi “jelajah”?

  3. stafarda Says:

    hehe… pastinya mpok rime, kejadian ini kita jadiin pelajaran buat diwarisin lagi ke angkatan2 di bawah.. dan bener banget, masalah yg esensial adalah bagaimana cara mempresentasikan dengan baik sehingga bisa segala proses yg udah dijalanin bisa diterima dan dipahami oleh semua… tapi sayangnya, kebanyakan anggota tim xpdc (termasuk gue) cacat verbal mpok… hehe

    tanggapan PS:
    hmmm masalahnya ribet sih mpok, klo pake status jelajah, kita (anggota kmpa yg terlibat nyiapin xpdc) ga rela karena yah seakan2 usaha kita selama persiapan xpdc ngga diakui oleh anggota kmpa, sama aja kayak kita diraguin untuk berangkat dan mencapai target yg dicanangkan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: