Arti Hidup… Enjoy The Life ???


Setelah sekian lama mendekam di goa-males-nulis-blog Plato , akhirnya gue memutuskan keluar dari zona nyaman itu… yah at least untuk satu postingan ini😛

Hmm… Mau nulis apa ya? Sebenernya berbagai macam hal berkelibatan di kepala gue, menunggu untuk diceritakan dan diubah menjadi kata-kata. Tapi kok kayaknya susah banget ya mengonversi impuls-impuls di otak ini menjadi kata-kata… Hmm apa gue emang cacat verbal ya??? haha

Tapi akhirnya setelah bertapa selama 7 generasi mitosil bakteri Euscheria Coli (huss yang cowo jgn mikir jorse dulu!) kayaknya gue mau sharing ini aja deh…

Tadi malam, setelah menenggak setengah gelas jamur di mabespol, dan akhirnya masuk ke dalam zona pemikiran trans akibat pengaruh halusinogen itu, gue mengobrol dengan sobatku Cussy, seorang mahasiswa seni murni – pemuda eksotis yang seniman abis dan menyukai filosofi.

Kami berbincang dan tertawa mengenai berbagai hal, mulai dari nasi goreng, singkong yang kabur, korek, rapat LPJ (dan seterusnya… forget about those last thing I just told you – its not important though). Hingga akhirnya perbincangan kami sampai ke suatu topik : MANUSIA YANG TERJEBAK DALAM SISTEM KEHIDUPAN.

Topik yang menarik, gue suka topik itu. Mau dengar apa aja hasil lanturan kami – yang juga gue resapi dan pikirkan saat gue tidak bisa tidur setelah efek peak jamur mulai memudar??

Tapi sebelumnya, coba jawab pertanyaanku yang satu ini: Apa sih sebenarnya tujuan hidup manusia???
Tolong jawab dari lubuk hati yang terdalam (cielah)… Gue hitung sampai seratus…

Satu… Dua… Tiga… Seratus….

Oke time is up!

Menurut kami, tujuan hidup sebenarnya dari seorang manusia adalah untuk MENIKMATI HIDUPNYA, atau bahasa ustadnya: selamat di dunia dan akhirat. Atau bahasa semena-menanya: hidup bahagia, mati masuk surga.

Tapi apa realita yang terjadi???

Kita sering membuat ribet kehidupan kita sendiri – yang sebenarnya sih sederhana saja… Hidup kita terjebak oleh sistem yang kita buat sendiri – dan sistem itu justru tidak membawa kebahagiaan (tentu saja jika tidak sesuai dengan kata hati kita).

Bayangkan siklus hidup seorang manusia modern: mulai dari kanak-kanak hingga ABG kita pasti bersekolah mulai dari TK, SD, SMP, hingga SMA (or SMK). Then kita mulai memutuskan untuk kuliah di universitas/perguruan tinggi. Kemudian setelah lulus kuliah/sekolah, untuk mendapat penghasilan kita mencari kerja, atau bagi beberapa orang mulai berwiraswasta. Itu berlanjut hingga beranjak tua. Saat tua dan pensiun, beberapa orang beruntung dapat menikmati hidupnya dengan santai. Tapi banyak juga para orang tua yang justru hidup sengsara di masa tuanya hingga ajal menjemput. Banyak orang tua yang sakit-sakitan akibat gaya hidupnya semasa muda dulu yang “terlalu memaksakan diri”. Mungkin karena terlalu bekerja keras, kena penyakit stroke dan syaraf akibat menjadi pegawai kalong yang bekerja di malam hari (karena pada dasarnya kodrat hidup tubuh manusia adalah aktivitas di siang hari dan beristirahat di malam hari). Banyak orang tua yang miskin dan hidup susah akibat tidak beruntung dalam hal rejeki.

Kenapa sih itu terjadi??? Mungkin, sekali lagi mungkin, karena kita tidak menikmati hidup kita semasa muda, atau salah dalam mengartikan makna “menikmati hidup”.

Emang kita belajar sampe perguruan tinggi buat apa sih?? Buat apa sih kita repot-repot belajar segala macem rumus yang bikin ngejelimet sinapsis dan neuron otak itu? Kenapa sih kita harus bekerja setelah kita lulus kuliah??

Gue tidak menganggap itu buruk, gue hanya mencoba bertanya… Kenapa kita harus terjebak dalam siklus hidup itu?

Mungkin ada para akademisi dan calon peraih doctoral yang tersinggung, sori ini hanya pandanganku pribadi. Karena memang setiap manusia itu unik. Banyak orang yang benar-benar menikmati hal yang tidak orang lain nikmati… Walaupun ada juga yang pura-pura menikmati hal itu dikarenakan motif dan ambisi pribadi yang sempit.

Ya, mungkin juga kita terlarut oleh ambisi pribadi. Kita pun terlena oleh motif psikologis yang picik dan sempit (sori kalo kata-katanya agak ‘keras’ – karena menurut gue ini kata yang tepat untuk menggambarkan hal yang gue maksud).

Ada orang yang terlalu dimakan oleh ambisi pribadi, ingin dilihat baik dan sempurna oleh orang lain, mementingkan gengsi dan citra diri secara berlebihan, hasrat untuk menjadi hebat, terkenal, atau kaya; dan motif psikologis lainnya yang sangat relative dan memang sulit untuk ditentukan nilai baik/buruknya akibat begitu kompleksnya otak dan cara pikir setiap manusia – sehingga mereka tetap menjalani hidup yang dari lubuk hati mereka yang terdalam tidak mereka sukai.

Ada juga orang yang terlalu takut keluar dari zona nyamannya sendiri.

Mungkin sebagai contoh, para pegawai yang menderita sewaktu bekerja di bawah bos nya yang tidak cocok dengannya, tetap memaksakan diri untuk bekerja di perusahaan itu. Mereka tidak berani mengundurkan diri dengan alasan takut tidak dapat mendapat penghasilan yang baik jika mereka berhenti bekerja dari sana…

Begitu banyak manusia yang tidak menikmati hidupnya. Atau, menyalah artikan arti “menikmati hidup”.

Mungkin juga orang itu adalah Gue Sendiri.

Menurutku, kita sebagai manusia tidak boleh melupakan tujuan hidup kita, yaitu untuk Hidup Bahagia dan akhirnya Mati Masuk Surga. Gue sendiri pun belum tau caranya seperti apa untuk menikmati hidup itu.

Tapi gue punya satu pedoman untuk tetap menikmati hidup, yaitu apabila ada aktivitas yang dalam lubuk hati terdalam tidak kita sukai, BERHENTI melakukan itu. Lakukan hal lain yang memang memberi kenikmatan dan rasa plong, lega, dan nyaman yang merasuk dalam tubuh kita.

Contoh: melakukan hobi kita dengan passion. Karena namanya hobi, yaa pastinya itu aktivitas yang kita nikmati. Kalau bisa, usahakan cari uang dari hobi kita itu. Besar uang yang kita peroleh dari hobi kita itu gak terlalu penting, yang penting hidup kita bahagia karena kita menikmati apa yang kita lakuin. Dan kalau kita udah menikmati, bukan gak mungkin justru kita jadi sukses karena hobi kita itu… Contoh Purwacaraka yang seorang lulusan Teknik Mesin ITB, eh setelah lulus sarjana dia malah banting setir jadi musisi. Dan toh akhirnya dia sukses juga kan… Dan lebih penting lagi, hidupnya pasti senang dan bahagia karena dia ngelakuin hal yang emang dia nikmati (btw sori gak ada maksud menggurui lho, gue Cuma sharing impuls yang berseliweran di otak gue)…

Gimana kalau kita tidak punya hobi???

Hahahahaha… Itu namanya kita belum mampu keluar dari zona nyaman kita. Kita terlalu larut dalam kehidupan monoton yang kita lakukan, dan kita malas keluar dari zona nyaman kita itu…

Hehe just my ten cent (bosen two cent mulu…😛 )

Seperti yang sedang gue rasakan, walaupun gue sekarang adalah mahasiswa teknik telekomunikasi (elektro arus lemah), gue rasa bahwa gue tidak cocok menjadi seorang engineer. Otak ku cekak (walaupun GPA gue tidak jelek-jelek amat), tidak secemerlang teman-teman sejurusanku yang lain, yang begitu paham rumus dan dengan mudahnya memetakan suatu konsep abstrak dalam bidang teknik. Kalo ujian aja gue sering bawa contekan berisi rumus-rumus (uups… pengakuan dosa ini mah). Gue pun tidak begitu cocok dengan kultur dan gaya pergaulan para (calon) engineer itu yang (menurutku) kaku, cenderung boring, tidak lepas, dan serius.

Hmmmm….. Moga-moga gue bisa lepas dari dunia engineer ini, dan mungkin beralih ke bidang lain yang lebih dinamis, dan santai😛

Yah, tapi sekali lagi, everybody’s unique. Hal yang menurut gue baik dan nikmat, belum tentu seperti itu buat orang lain. Sebaliknya, hal yang bagi orang lain begitu indah, bisa saja sangat membosankan bagiku.

Yah, intinya sih menurut gue yaitu lakuin hal-hal yang emang kita nikmati. Tapi jangan sampai menyalahkan artikan dan kebablasan dalam “menikmati hidup”. Percaya dengan kata hati kita.

Hahahahaha… Sori kalo omongan ngelantur kayak gini, ini emang efek zat halusinogen yang membuat kita mampu masuk ke dalam deep thinking zone.

Tapi nikmat juga seperti ini, dan gue suka, inspirasi dan pemikiran esensial mengalir dengan lancar karena unconscious mind kita lah yang berbicara dalam kondisi otak seperti ini. Tidak ada lagi pengaruh pikiran sadar yang memfilter berbagai sugesti yang bahkan tidak mampu kuresapi dalam keadaan normal. Mungkin karena itulah banyak seniman besar yang dapat menghasilkan masterpiece saat berada dalam pengaruh halusinogen.

Sekali lagi, sori klo ada yang ngga sreg di postingan gue ini. I’ve told u, everybody’s unique. ..
Perhaps we can always enjoy our every second in life…

3 Tanggapan to “Arti Hidup… Enjoy The Life ???”

  1. enjoy tapi yaaa bertanggungjawab hehahea

  2. You made some good points there. I did a search on the topic and found most people will agree with
    your blog.

  3. mantap deh bro…sesuai dengan buku “enjoy of not working” karangan erny zelinski yang pernah gue baca……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: