DITILANG ASOY GEBOY… Plat Nomor Anda sedikit tidak sesuai ‘Standar Kepokisan’?? Hati-hati Pokis Pencari Kesalahan Berkeliaran di Sekitar Anda!


Hari Rabu, 10/11/10, sekitar pukul 10.11, di jalan raya Ujungberung-Cileunyi – sekitar kampus UIN Bandung.

Waktu itu gue lagi mengendarai sepeda motor gue, Vixion merah, dengan atribut kendaraan lengkap – pakai helm fullface, STNK, dan SIM C – dari alun-alun Ujungberung ke arah Cileunyi.

Sewaktu gue melintas sebelum melewati kampus UIN (dari arah alun-alun Ujungberung), ternyata sedang ada razia kendaraan oleh pokis. Karena merasa atribut kendaraan gue lengkap, gue santai aja melewati mereka terus berkendara ke arah bundaran Cileunyi. Dan memang, gue bahkan tidak dilirik oleh seorang pokis pun.

Setelah menyelesaikan sedikit urusan di sekitar kampus UIN, gue pun bermaksud kembali pulang ke rumah. Maka, gue pun memacu kendaraan ke arah alun-alun Ujungberung. Tepat setelah gue melewati kampus UIN, ternyata razia masih ada. Karena gue merasa tidak punya salah, maka gue menurunkan kecepatan kendaraan, dan pelan-pelan santai merayap menuju area razia pokis. Para pokis terlihat seperti berbaris di pinggir jalan, “berkonsentrasi” menatap dan scanning setiap pengendara motor yang melewati mereka – ibarat seorang ular yang sedang mengawasi mangsanya. Gue sih tetap bersikap santai – toh gue merasa tidak ada kesalahan.

Eh tidak dinyana, tidak diduga… ternyata salah seorang pokis kemudian melambaikan tangannya ke arah gue – bukan bermaksud “high five” atau menyapa gue – tapi tentu berniat menyuruh gue menepi untuk diperiksa SIM dan STNK.

Akhirnya gue dengan santai menepikan sepeda motor ke pinggir trotoar.

“Selamat pagi dek”, kata pokis.

Gue cuekin aja, gak gue jawab, sambil merogoh dompet dan mengeluarkan SIM-C dan STNK. Terus gue sodorkan ke pokis nya.
Pokis nya memerhatikan SIM dan STNK sejenak, terus katanya “Plat nomor anda tidak sesuai dengan ‘standar kepokisan’ ya. Jadi adek saya tilang”.

Terus dia ngeluarin surat tilang dari kantongnya, sambil menarik pulpen dari sepatu boot hitam nya (jrit, norak banget emang para pokis, masa pulpen ditaruh di sepatu boot?? Ckckck norak!)

Memang, gue telah mengganti plat nomor gue dengan model plat nomor lain yang lebih estetis dan lebih enak dilihat, tapi plat nomor gue SAMA SEKALI ngga gue aneh-anehin, masih terbaca dengan JELAS dari jauh. Ini cekidot foto plat nomor gue itu…

Plat Nomor Sepeda Motor

Jelas, gue ngga terima kalau harus ditilang karena ‘plat nomor yang tidak sesuai standar kepokisan’ – menurut gue kesalahan KECIL gituuuuhhh… Apa sih yang salah kalau kita pengen sepeda motor kita terlihat sedikit menarik?? Masa sih harus DIWAJIBKAN memasang plat nomor dari pokis (yang kita dapat waktu membuat STNK baru) yang cat nya sama sekali TIDAK RAPI itu?? Apabila plat nomor gue masih JELAS TERBACA dari jauh – ngga kayak plat nomor ALAY gituh. Gue pun membantah,

“Tapi pak, saya liat di jalanan banyak juga yang plat nomor nya aneh-aneh, jauh lebih ‘ngga standar’ daripada plat nomor saya ini pak??”

“Yaa, mereka belum dapat giliran kepergok kami saja. Personil kami kan terbatas dek, tidak mungkin semua kendaraan yang plat nomor nya menyimpang bisa kami tindak sekaligus”.

Busyet dah, NGELES lagi nih pokis, pikir gue. Pokis itu pun kemudian membuka selembar kertas *kucel dan terlipat-lipat!* yang isinya ternyata pasal-pasal pelanggaran lalu lintas. Terus dia nunjukin pasal ‘yang gue langgar’, kira-kira bunyinya gini “Setiap kendaraan harus menggunakan atribut kendaraan yang sesuai peraturan, termasuk plat nomor yang berlabel kepokisan dan diterbitkan oleh samsat bersangkutan.” *Gak tau deh apakah itu benar peraturan dari kepokisan – atau tuh pokis nge PRINT SENDIRI tuh peraturan.
Bla bla bla, perdebatan kami berlanjut, tapi akhirnya gue nyerah dah…

“Yaudah deh pak, silakan tilang aja deh” kata gue.

“Baik, kalau begitu silakan adek ambil SIM nya di pengadilan negeri jalan riau” katanya sambil mencoret-coret ‘kertas dewa’nya.

Oke deh pak, kata gue dalam hati – tetep gue cuekin tuh pokis.
“Nanti hari jumat tanggal 19 (november) pukul 8 pagi ya” lanjut si pokis.

Gue udah pasrah, dengan gaya sok cool sambil melipat tangan di dada memerhatikan si pokis menorehkan tinta nya.

Mau tilang gue, silakan! Asal jangan nyuruh gue buka celana aja…
“Tidak boleh datang terlambat dek, kalau terlambat, adek harus *bla bla bla*” (gue ngga perhatiin dah dia ngomong apa, pokoknya kira-kira intinya harus datang tepat waktu ke sidangnya)

Gue still diam aja, cuek bebek!

“Ehm… Jangan lupa bawa uang yang cukup ya dek , kira-kira uang dendanya sekitar Rp.50 ribu…”

Gue tetap cool. Dalam hati gue, Iya deh pak, ntar kalau kurang duitnya, saya gadai deh nih celana kolor gue!

Tapi tiba-tiba si pokis menatap gue, terus ngomong gini,
“Gimana adek bisa menghadiri persidangan hari jumat jam 8 PAGI atau tidak?” (intonasi kata ‘pagi’ ditekankan oleh si pokis).

Kata gue, “Ya harus bisa lah pak!”
Tapi pokis ngomong lagi gini “Ya kalau ngga mau repot, selesaikan DI SINI aja dek”

Gubrak!

Ternyata UUD juga nih pokis, alias “ujung-ujungnya ‘di sini’ aja” .
Kampret, emang benar kan dugaan gue, ternyata nih pokis emang niatnya MAU CARI-CARI KESALAHAN gue doank! Busyet dah, kalau kesalahan gue GEDE MAH, gue ridho deh ditilang berapa miliar juga. Misalnya ditilang gara-gara gue mengendarai sepeda motor ngga pake roda, atau ngga bawa STNK/SIM malah bawa kartu tanda anggota PITIMOSS. Boleh dah, gue ridho!

Tapi ini, busyet dah…

Terus gue bilang “Gak usah deh pak, saya sidang aja. Kebetulan saya belum pernah ikut sidang, pengen tau rasanya gimana…”
“Sidang itu repot dek, lebih baik adek selesaikan di sini saja”. Busyet, malah maksa lagi nih pokis.

“Udah pak, ga usah. Sidang aja pak”

Pokis itu diam bentar, terus melanjutkan nulisnya. Sret sret sroootttt! (duh yang terakhir mah bukan suara guratan pulpen, itu mah suara ingus gue…😛 )

“Yaudah ! Silakan tanda tangan di sini!” pokis berkata dengan jutek.
Yaudah gue tanda tangan,terus gue ambil surat tilang warna pink itu.

Terus gue starter motor gue, sebelum itu gue liat bet nama di seragam si pokis: FERY.

Gue teriak, “Ooh jadi nama bapak FERY yah??”
Si pokis menyahut dengan arogan, “Iya, kamu lihat saja di surat tilang itu ada nama lengkap saya!”

Gue Cuma ketawa dalam hati sambil memacu sepeda motor meninggalkan ‘area-X’ itu.

Hahahahaha…

Hallooww Pak Pokis FERY MANULLANG (supaya kedengaran keren, kita singkat dengan kata inisial “FM”) YANG TERHORMAT??

Aneh jika anda tidak sadar kalau kesalahan anda adalah “memaksa” saya (secara halus) untuk menyuap anda. Saya heran, apakah anda tidak membaca pasal yang bahkan ada di surat tilang yang anda hadiahkan pada saya, kalau anda lupa atau bahkan ngga pernah baca pasalnya, ini dengan baik hati saya perlihatkan untuk anda pasalnya (lihat pasal pertama)…

Pasal Peraturan pada Slip Tilang Lalu Lintas

Pasal Peraturan pada Slip Tilang Lalu Lintas

Dan FYI, ternyata setiap pokis berhak mendapatkan ‘uang terima kasih dari negara’ senilai Rp.10 ribu untuk setiap surat tilang yang masuk ke pengadilan. Artinya, ketika kita membayar denda tilang di sidang pengadilan, maka dari (misalnya) Rp.50 ribu yang kita setorkan ke kas negara, Rp.10 ribu rupiah masuk ke rekening pokis yang menilang kita. “Lumayan lah buat beli bakso”, begitu mungkin pikiran di dalam benak Pak Pokis FM YANG TERHORMAT.

Ckckck… Dasar Pokis… 

PESAN MORAL cerita:
Ketika harus melewati area razia pokis, JANGAN PERNAH MERASA bahwa kita bersih dan PASTI BEBAS dari kesalahan, karena yang namanya pokis lalu lintas sedang melakukan razia, mereka SELALU MENCARI-CARI KESALAHAN ANDA – sekecil apa pun kesalahan anda. Kalau perlu, sewaktu melewati razia – gak peduli apakah surat-surat kendaraan anda komplit, gak peduli apakah atribut kendaraan anda sudah sesuai aturan – tancap gas aja sewaktu melewati razia pokis. Semakin cepat anda melewati area razia, semakin kecil kemungkinan para pokis bisa menemukan kesalahan anda.

Mereka, para pokis lalu lintas, benar-benar menjalani profesi yang ‘LAME’. Mereka tidak punya penghasilan yang cukup baik, sehingga apabila mereka menginginkan pendapatan yang layak, mereka harus sedikit ‘KREATIF’. Dan kreativitas mereka disalurkan dengan cara mencari-cari kesalahan di area jalanan.

Sebenarnya tidak masalah apabila attitude para pokis lalu lintas cukup sopan dan mengayomi. Tapi ini?? Lagak mereka tengil, sok berkuasa, memaksa, dan sok hebat. Hah! Kalah jauh sama satpam di Toilet bank-bank. Coba liat satpam di bank, sedikit-sedikit senyum, sedikit-sedikit “silakan mas ganteng”, sedikit-sedikit “sini saya pijitin, sebelah mana yang pegal-pegal pak??”…

Sangat sopan bukan??

Lah ini pokis kita?? Itulah kenapa masyarakat ANTIPATI sama pokis. ATTITUDE alasannya.

*UPDATE TIPS:
Kalau akhirnya nasib menghendaki anda ditilang oleh polisi dan harus ke pengadilan, maka minta sang pokis untuk menahan STNK anda – jangan malah SIM anda yang ditahan!

Kenapa?

Karena ketika saat sidang di pengadilan, ruangan sidang para “pesakitan lalu lintas” yang ditahan antara SIM dengan STNK ternyata berbeda ruangan. Ruangan sidang SIM jauuuuhhhhhhh lebih banyak antrian dibandingkan Ruangan sidang STNK!

Sangat amat BERJUBEL sekali! Penuuhhh oleh manusia, berkeringat, di ruangan nan panas dan pengap, non-AC, dan tanpa Pengeras Suara! Betapa “canggih” nya fasilitas di pengadilan negara kita. Padahal kalau tung-itung, kalau di kota Bandung dalam seminggu ada 500 orang yang terkena tilang, dan kita ambil rata-rata tiap orang terkena denda Rp.50 ribu, maka seharusnya tiap bulan negara memeroleh pendapatan sekitar ( Rp.50 ribu x 500 orang x 4 minggu) = Rp.100 juta per bulan ! Itu kalau buat beli AC ruangan pengadilan dan Pengeras Suara (SPEAKER) bisa dapet berapa lusin ya????

Ckckckckckckc, jadi kemana sih larinya tuh uang denda??…. *geleng-geleng kepala saking takjubnya*

10 Tanggapan to “DITILANG ASOY GEBOY… Plat Nomor Anda sedikit tidak sesuai ‘Standar Kepokisan’?? Hati-hati Pokis Pencari Kesalahan Berkeliaran di Sekitar Anda!”

  1. blom ilang jg ya budaya di indonesia…

  2. wau sama bang dengan yang barusan aku alami. Otot-ototan, padahal Plat-ku standart eh cuma aku kasih stiker kecil doang.. Busyet dah akirnya ya Sidang…

  3. aku jg kna tilang,, gara2 plat no aza,, tempatnya jg sama,,, padahal ukuran sama, jelas,, eh,, dia minta 150rb,, busyet….,, cpet kaya tu pokis,, satu orang dminta segitu,, kalo 5org/hari z, jadi 750rb,, klo sbulan jadi brapa…???? tp aku lebih baik sidang,,, dariipada ngsih duit sgitu,, gk iklas,,, sumpah,,, mending klo masuk negara..!!

  4. stafarda Says:

    @rafaqo.
    yaa gitu deehh….hehe

    @victor.
    kckckckc emang mereka jago cari kesalahan yaa…haha

    @adi.
    busyet rakus amat tuh pokis ampe minta 150rb!! ckckckck paraahhh…

  5. saya jg kena tilang gara2 plat nomor depan kgk ada..
    tapi sbenernya emang bawaan motor g ada dudukan plat nomor depan..

  6. Kemarin aku juga terkena tilang gara gara platnomor kecil. Malah di mintai 100rb ya gila kali mending sidang aja. Emang bener POLISI itu kalo mati alias is deat itu jarang ada orang yang mau ziarah. Paling2 mayatnya di ojekin atau di becak in di naikin odong odong lebih pantas

  7. sepakat masbro… tapi gak semua polisi begitu kelakuannya sih, banyak juga yang baik… tapi lebi banyak yang BANGKE!!!

  8. Coba suruh nilang mobil (klasifikasi menengah ke atas) dengan alasan yang sama, kita liat berani apa ga tuh polisi?!
    Kalau saya sih selalu bawa pasal ttg peraturan lalu lintas (no 22 th 2009) di box motor kalau kemana2,,so klo ada polisi yang suka ngada2, unjukin aja pasalnya ada apa ga, pasti diem tu polisi.

  9. wah nice tips tuh mas…

    btw pasal 22 tahun 2009 pasal baru berarti ya?? isi pasalnya apa mas?

  10. Haha ceritanya seru,kocak dan bermakna tentunya, sekaligus menambah pengetahuan gua. Bermanfaat bgt dah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: