Terima kasih XL Axiata!


Bulan ini, akhir Maret 2013 adalah genap bulan ke-9 sejak gw memiliki ‘Real Occupation’ sejak lulus kuliah di April 2012. Ini perusahaan pertama tempat gw bekerja.

Di XL, budaya kerjanya sangat muda (young) dan energik. Rata-rata orang yang bekerja di XL mungkin (secara gw belum pernah survei langsung database perusahaan) 50% berada di bawah usia 30 tahun. 30% berada di usia antara 30-35 tahun. Dan 10% antara 35-40 tahun, dan sisanya 10% di atas 40 tahun (termasuk sang CEO Pak Hasnul yang juga alumni Elektro ITB *sok bangga* wkwkw).

Sekali lagi, data-data itu hasil perkiraan dan penerawangan gw doank. Jangan dipercaya banget. Hahaha

Intinya. Benar-benar muda, dan energik budaya di sini.

Juga penuh transformasi.

Bayangkan, pada akhir tahun 2012, top management XL memutuskan bahwa untuk menguasai pasar telekomunikasi Indonesia, XL harus bertransformasi menjadi perusahaan yang berfokus di EMC (emerging middle class) yaitu EMC adalah golongan konsumen XL muda yang berusia 20-28 tahun – yang merupakan konsumen potensial XL.

Untuk mencapai itu, XL harus memulai dari karyawannya terlebih dahulu. Karyawan-karyawan XL harus menyerap semangat dan jiwa EMC/anak muda itu. Dan itu harus dimulai dengan memahami dan menjadi anak muda itu. Dan akhirnya, perubahan budaya besar-besaran di XL di mulai.

Dalam bekerja, karyawan XL diharuskan menggunakan dresscode kerja yang sangat anak muda – boleh menggunakan kaos/t-shirt, jeans, dan sepatu gaya apa pun. Jarang ada yang pakai kemeja formal. Paling banter pake kemeja santai. Kebanyakan pake casual polo dan t-shirt band. Wkwkwkwkw.

Seru bangeettttt kerja di sini!!! Kerja berasa kuliah! Hahahaha. Nuansa anak muda pun tercipta. Apalagi desain interior di kantor pusat pun sangat berwarna-warni. Seru.

Di XL, gw ditempatin di departemen Product Development (PD). Yaitu semacem project coordination office-nya XL.

Awal gw masuk kerja di departemen ini (awal Agustus 2012) terus terang gw nervous, grogi. Apalagi waktu pertama kali masuk ke lantai-18 dan diajak berkeliling kenalan dengan orang-orang di PD (sekitaran 50 orang PD). Gila, besok paginya gw sempet ada rasa gak mau masuk kerja aja dah. Nervous! Hahaha.

Maklum, pertama kali bekerja bro😛

Di sinilah gw belajar untuk membuat presentasi (slide show) yang informatif dan harus mampu dipahami orang lain. Cukup sulit awalnya, terutama saat harus membuat slide yang berhubungan dengan skema mekanisme dan sistem teknical, juga saat mendeksripsikan ‘subscriber experience’. Tapi lama-lama gw jadi belajar dan berusaha membuat slide yang baik. Itu akhirnya menjadi skill yang penting untuk dikuasai.

Di sini juga gw belajar cara melobi, cara mempush pihak lain agar mampu memenuhi jadwal/timeline yang disepakati. Cara berkomunikasi yang baik yang gw pelajari – terutama tata cara berkomunikasi via email dan phone – juga berkomunikasi langsung tentunya. Dan itu pula akhirnya menjadi skill yang berharga yang gw dapat di sini.

Pula belajar cara menggerakan (memotivasi) orang lain di departemen yg berbeda untuk melakukan trouble shooting dari permasalahan yang ditemukan di tengah project. Di divisi gw, kita tidak pernah hands-on langsung dengan perangkat/mekanisme apa pun. Tugas kita adalah menggerakkan tim lain (di departemen lain) yang memiliki otoritas untuk mengakses mekanisme tersebut, agar mampu menjalan target & project dari user/business owner.

Jadi intinya di departemen gw adalah, gimana pinter-pinternya mengkoordinir banyak tim dari banyak departemen berbeda, agar project bisa accomplished.

Di sini lah gw menyadari kelemahan-kelemahan gw.

Gw menyadari bahwa gw orangnya males untuk memfollow up komunikasi – termasuk ketemu langsung maupun by phone. Padahal agar tindak lanjut cepat, seseorang itu harus difollow up via phone. Tapi lama-lama gw belajar hal itu, dan perlahan mampu untuk berkomunikasi (baik langsung maupun by phone) dengan efektif dan berprogress.

Gw juga menyadari kalau gw orangnya suka menunda-nunda. Proyekan gw sering delay karena gw sering menunda progress sesuatu project. Untunglah berkat senior-senior di tim gw, gw belajar bagaimana melakukan follow up dengan tanggap dan cepat. Mereka sekali mendapat problem, langsung menghubungi orang yang terkait untuk dilakukan fixing. Sementara gw, bakal berjalan keluar cubicle, buat kopi dulu, ke WC dulu lah pipis atau BAB, atau browsing-browsing di HP. Wkwkwkwkw kacau. Faktor jaman kuliah kale :p
Gw belajar mengenai hal ketanggapan itu.

Kemudian gw pun mendeteksi bahwa emosi gw masih labil. Gw seringkali terpancing emosi saat bekerja – terutama ketika berhadapan dengan pihak lain yang tidak koordinatif, atau bergaya bicara yang sedikit arogan. Saat itulah emosi gw terpancing dan akhirnya membalas dengan arogan pula. Akibatnya konfliklah yang terjadi.

Gw sadar dan kemudian perlahan menyesuaikan untuk mengontrol emosi. Gw harus lebih sabar, dan berusaha menempatkan diri pada posisi pihak lain itu. Dan ternyata, memang apabila kita mengimaginasikan diri kita pada posisi orang lain, kita bakal lebih toleran dan mampu untuk mengontrol emosi dengan baik. Kita harus paham, mungkin di departemen lain budayanya berbeda dengan departemen tempat kita berada. Di sana mereka mungkin punya banyak workload dan KPI yang padat, atau mungkin boss yang galak.

Di XL, yang adalah perusahaan besar, gw belajar bahwa seluruh work flow memiliki prosedur. Dan prosedur itu harus ditaati. Dan prosedur itu yang kadang-kadang pernah gw tabrak begitu saja – dan akhirnya ditegur senior bahkan ditertawakan massal oleh senior-senior di tim gw. Wkwkwk

Berbeda dengan perusahaan kecil mungkin, yang hanya sedikit prosedur – yang penting melakukan pekerjaan secara efektif dan rapid.

Tapi di perusahaan besar (perusahaan dengan karyawan lebih dari 1000 orang), tiap orang sudah punya jobdesc masing-masing – yang seringkali amat detail dan itu-itu saja (terkotak-kotakkan). Gw belajar bahwa hal itu common terjadi di perusahaan besar – dan memang harus seperti itu.

Gw juga belajar bahwa kunci kesuksesan menjadi seorang eksekutif adalah:
“TULUS membantu pekerjaan pihak lain di perusahaan”.

Pihak lain itu macem-macem, bisa manager, rekan setim, atau orang lain di departemen yang berbeda. Dengan ikhlas dan tulus berniat membantu, akan dengan sendirinya menciptakan mindset yang menghasilkan totalitas dalam bekerja.

Dengan tulus membantu kerjaan boss dan juga mengabdi pada mereka, itu lah kunci kemajuan karir kita.

Kemudian yg gw pelajari lagi, bekerja totalitas tidak harus diniatkan untuk dilihat orang lain. Justru kalau niatnya pengen ‘eksis, jatohnya malah bakal dilihat orang lain semacem ‘creep’ alias penjilat. Hal kayak gitu malah jadi bumerang.

Ga perlu niat pengen dilihat bahwa kita hebat, tapi dengan bekerja total dengan sendirinya orang lain bakal mengendus bakat kita. Kata orang, berlian di lumpur walaupun tidak terlihat saat ini, namun dia tetap berharga tinggi, dan suatu saat akan ditemukan dan diasah menjadi batu permata yang berkilauan.

Di tim gw, diisi oleh orang-orang yang hebat dan penuh inspirasi – yang sangat menginspire fresh graduate seperti gw ini.

Gw belajar dari mentor gw, Mas Romi, yang bawaannya kalem dan tenang. Yang mampu memfollow up suatu ACK NOT-OK dari tim Service Assurance dengan tenang namun efektif menggunakan pendekatan personal. Sangat nice guy.

Bli Epo yang cool, asik, baik hati, pleiboy, punya simpenan tante-tante (wkwkwkwk piss bli!), dan kayanya yang paling nyambung (setipe) ama gw. Hahaha.

Gw belajar cara bercanda di kantor dari Bli Iswara yang ngga pernah berhenti bikin gw ngakak dengan spontanitas dan candaannya. Gilak, ga ada matinya bikin perut orang sakit tuh orang. Hahahahaha

Duo Bli dari Bali itu memang gila-gila emang. Hahahaha

Juga dengan mas Michael yang becandaannya kreatif (selalu!) dan orisinal.

Belajar juga dari Mas Rufus yang enak banget jadi tempat bertanya, sangat sistematis kalau menjelaskan konsep teknis dan prosedur work flow di XL. Apalagi ditambah dengan hobi yang sama yaitu sama-sama suka musik (metal) dan juga cerita-ceritanya tentang politik, perang abad pertengahan, agama, sosial, pokoknya semua pengetahuan politik dari jaman pertengahan sampe modern doi tau! Hahahaha, lumayan bener-bener nambah pengetahuan gw :p

Tita yang baik hati dan alim, tapi asyiik. Maaf sering ngabisin tissue lo pas gw kena pilek.

Kakak Carla yang sangaat ceria, cerewet, tapi seruuu. Terus terang, doi kece dan asik banget orangnya. Tipe gw banget pokoknya. Sayang udah punya Kenza. Haha

Mbak Helen yang galak. Hahaha. Tapi baik hati dan suka meres susu. Wkwkwk

Di sini gw juga mengobservasi bahwa ada perbedaan gaya bekerja antara eksekutif papan atas di XL dan karyawan biasanya.

‘Karyawan biasa’ CIRI UTAMAnya adalah cenderung MENGHINDARI PEKERJAAN (kurang senang saat ada workload baru dipercayakan untuk mereka kerjakan).

Mereka juga ‘kurang perfeksionis’ – dalam arti kurang ‘Take Ownership’ dan total dalam melakukan pekerjaan mereka.

Mungkin itu yang membuat mereka tetap menjadi karyawan biasa.

Para eksekutif papan atas (boss-boss) di XL – minimal setingkat manager – memiliki gaya bekerja yang hebat. Dari cara bicara mereka, sangat terlihat bahwa mereka cerdas. Mereka juga sangat cepat dalam menangkap dan mengolah suatu informasi, kemudian berpendapat dalam rapat.

Mereka juga seluruhnya pekerja keras, dan detail (juga perfeksionis) dalam bekerja. Juga ahli dan berpengalaman di bidangnya.

Itu ciri khas orang-orang di XL untuk level manager (dan General Manager/GM).

Untuk level Vice President (VP), gw lihat mereka orang-orangnya KREATIF dan VISIONER. Mereka (VP-VP) itu terlihat energik dan lincah. Mereka sangat antusias ketika berdiskusi untuk topik yang berhubungan dengan ‘visi’. Mereka mampu menggali ide-ide yang berhubungan dengan masa depan industri telekomunikasi, dan berimaginasi mengenai kemungkinan penerapan ide-ide tersebut.

Misalnya aja, VP di departemen gw. Suatu saat, operator telco ‘3’ dari hutchison mengancam XL dengan data internet service nya yang rapid merangkul banyak pasar telco di bidang data.

Saat itu, gw yang tergolong EMC (anak muda berusia di bawah 24 tahun) dan beberapa temen lainnya diajak diskusi tentang apa sih keunggulan ‘3’ dibanding XL. Dan kita brainstorming dan melakukan riset – salah satunya dengan mencoba langsung (self experience) service data internet ‘3’. Kita telaah kelebihan ‘3’ dibanding operator telco lain. Kemudian kita buat di slide powerpoint dan kita presentasikan di hadapan VP. Sang VP sangat antusias menanggapi presentasi kami.

Dan sangat terlihat jelas bahwa sang VP itu kreatif dan visioner. Dia bahkan mengundang kita ke focus discussion yang dihadiri orang-orang dari BCG (Boston Consulting Group) untuk melakukan komparasi antara produk XL dengan operator lain.

Gila, itu gen para eksekutif papan atas yang gw observasi.

Gw juga mengobservasi boss langsung (manager) gw, yaitu Mbak Ingrid.

Dia orang jenius, cepat mengolah informasi, pekerja keras, perfeksionis, taat prosedur, tegas, tapi juga mampu melihat jauh ke depan tapi detail.

Dia tahu apa progress seluruh project yang dikerjakan anak buahnya. Dia yang membentengi kami dari buruan tim marketing yang pengen project mereka cepat kelar. Dia yang udah hadir di cubiclenya jam setengah 8 pagi, dan pulang paling telat di antara yang lain (paling cepet jam 8 malem). Dia yang masih ngirim email kerjaan di jam 12 malem dan 3 subuh – juga di saat weekend. Saat weekend, di mana banyak orang berpikir bahwa weekend adalah saatnya melupakan seluruh pekerjaan.

Haram menyentuh urusan kantor saat weekend! Tapi mbak ingrid beda.

Gak ngerti lagi gw gimana otaknya bisa ngga meledak.

Akhirnya gw tahu alasannya – alasan kenapa dia sangat pekerja keras. Ada suatu momen di mana gw talking one-on-one dengannya. Dan dia bilang “Once I have committed to something, I will strict to that. Once I signed contract with XL, I will struggle to do the best for XL which has paid me”.

Itu lah kuncinya. Dia berkomitmen. Berkomitmen dengan perusahaan yang sudah membayarnya, sehingga dia berusaha sekuat tenaga – ‘do the best’ untuk memajukan perusahaan.

Dia juga paham bagaimana menggunakan trik psikologis di kantor. Dia pernah bilang “Once something is in chaos, you just offer some solution – which will give benefit for your team. Others will follow your solution. And you have set the environtment! Environtment which will give winning to your team”

Tapi dia juga ekstrovert, ceria, suka bercerita, dan sering bawain makanan enak untuk anak-anak buahnya. Mantap!

Kelemahannya adalah dia terlalu strict. Dan terlalu perfectionist.

*hadeuh capek ngetik euy. Udah jam setengah 1 malem. Sedangkan besok pagi gw mau touring dari Jakarta ke Bandung bareng cewek gw – maklum mumpung longweekend :p hehehehe*

#udahahntarlanjutlagiceritanya#

*sleep mode* *bye!*

7 Tanggapan to “Terima kasih XL Axiata!”

  1. hi anak Muda seeeeeeeep
    gw juga masih amburadul disini
    ah keren tulisan lu ini

    seeep anak muda

  2. Thanx Gus. Seneng jg cerita & ngajarin junior yg apresiatif🙂
    You’re lucky bisa mengecap kerja di XL sbg fresh graduate. Jadi inget dulu gw baru lulus keterima kerja di kantor ruko dgn gaji kecil. Kata boss nya waktu itu : “Kamu blm ada gunanya buat saya. Itung2 kamu saya ajarin dan saya kasih duit jajan!” hahaha
    Semoga sukses di sana yah.

  3. saya udah pindah dari XL sejak bulan April 2013 mbak. Sekarang bekerja sebagai marketing executive di perusahaan handphone.

  4. Stafarda boleh tau alamt emailnya? Thanks ya

  5. ooh alamat email saya di viva_arda@yahoo.co.id🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: