Only a Matter of Time


Only a matter of time.

Sebuah lagu dari band progressive metal terbaik sepanjang masa, sebuah band yang paling kufavoritkan melebihi band apa pun yang bergelimpangan di jagat musik raya. Band dengan gitaris jenius beraransemen melodic yang luar biasa. Lantunan dan perpaduan harmonis dari tangga nada metal dan jazzy fusion *menurut gw* disertai lirik-lirik yang sangat berbobot, puitis, dan dalam. Dream Theater.

A suited man smiled said,
“It’s just a matter of time.
You can have the world at your feet by tomorrow
just sign on this line.”
Hold tight… limelight!
Approaching the paramount
with the sun in our eyes

It’s just a matter of time. You can have the world at your feet, just sign on this line.

“Semua hanyalah masalah waktu. Kau akan memiliki seluruh dunia berada di bawah kaki kita, ikutilah jalan yang telah kamu tempuh.”

Luar biasa.

Bait pertama dari lagu ini sangat menggugah jiwaku. Ya, semuanya hanyalah masalah waktu. Konsisten dan teguh dalam menempuh jalan hidup yang telah kita putuskan. Itulah jalan hidup seorang ksatria sejati.

Seperti tulisanku di posting sebelumnya, aku punya cita-cita. Aku punya suatu mimpi. Mimpi yang bakal selalu aku pegang teguh sampai kapan pun. Bara api ini tidak akan pernah padam! Suatu saat, jika waktunya tiba, lihat saja, aku akan mengobarkan bara api itu menjadi pelita yang menerangi jalan hidupku, menjadi api unggun yang menghangatkan setiap langkahku, serta memanaskan, membakar, dan menghancurleburkan seluruh obstacle yang menghalangiku!

Mimpi itu akan selalu terpancang di pikiranku. Seperti diibaratkan oleh penulis novel “5 cm” Donny Dirgantara, insya allah mimpi itu akan selalu ada, tergantung 5 cm di depan mataku. Membuat segala pandanganku tertuju padanya. Ke mana pun tatapan ini tertuju, ke arah mana pun kepala ini menoleh, ke tempat mana saja kaki ini melangkah, mimpi itu akan selalu ada dan eksis 5 cm di depan mataku. Tetap akan selalu hidup, walaupun masih berbentuk bara api saat ini.

Para pendaki gunung dan penempuh rimba pasti tahu, bara api tidak akan pernah padam dan habis. Sekalinya suatu ranting (dikotil) terbakar dan menjadi bara api, selamanya dia memiliki potensi untuk menjadi besar. Dengan beberapa tiupan dari mulut atau angin yang berhembus, bara itu akan segera menjadi besar.

Itulah mimpi yang ada di pikiranku. Mimpi itu lah sang bara yang berasal dari ranting tumbuhan dikotil, mengendap di pikiranku. Hingga saatnya tiba.

Memiliki perusahaanku sendiri.

Itulah mimpiku yang paling hakiki.

Menjadi miliuner masa depan.

Dalam 10 tahun mendatang, saat itu akan tiba. Gong itu akan berdentang. Saat di mana aku melangkah meniupkan bara api ini.

Saat itu jika Allah memberiku waktu, usiaku akan 35 tahun.

Sambil tetap meniti karir di perusahaan, di usia itu aku akan mulai merintis perusahaan itu. Hingga kemudian saat umurku mencapai 40 tahun, keputusan krusial itu akan kuketokkan palunya.

Resign dari perusahaan, dan totalitas meniupkan angin sekencang-kencangnya menyalakan sang bara api perusahaan.

Kenapa harus 40 tahun? Saat kuceritakan pada sobatku, dia bertanya seperti itu. Entahlah, aku pun tidak tahu jawabannya. Yang jelas, aku percaya, usia 40 tahun adalah usia emas bagi seorang pria.

Apakah kalian pernah bertanya-tanya, kenapa Nabi Muhammad diangkat menjadi nabi di usia 40 tahun?

Aku pun seperti itu, mempertanyakan hal yang sama.

Walaupun aku bukan seorang yang patuh dan taat beribadah, tapi aku percaya bahwa Nabi Muhammad adalah teladan umat manusia.

Bukan, aku bukan sok religius! Aku sungguh-sungguh.

Sejak kecil, aku sangat suka membaca buku. Buku apapun pasti aku lahap sejak kelas 2 SD. Aku ingat benar, saat aku kelas 2 SD, omku yang bekerja di pemerintahan kota Bandung (dia alumni STPDN), membawa 2 kardus besar buku-buku perpustakaan – isinya bisa ratusan buku. Buku-buku pemerintah yang “tidak diperjualbelikan”. Entah dari mana om ku peroleh buku-buku itu, nyolong dari perpustakaan mana gw ga ngerti. Yang jelas, sejak umur segitulah aku mulai gemar membaca buku. Ratusan buku itu abis kulalap dalam 1 bulan.

Hobi itu terus berlanjut hingga SMA. Aku paling suka buku science popular. Astronomi, Fisika, Biologi, adalah jenis buku science yang aku senengi.

Saat aku SMA, aku mulai baca buku Harun Yahya. Dan saat itulah, aku semakin percaya kalau dunia ini diciptakan dengan maha sempurna dan maha teliti oleh Penciptanya. Dan penciptanya adalah yang menurunkan Nabi Muhammad menjadi rasul di muka bumi.

Serius. Aku ga sedang membual. Aku sungguh-sungguh percaya itu. Pasti ada sesuatu alasan yang kuat dan hebat kenapa Allah baru mengangkat Nabi Muhammad menjadi nabi pada usia itu.

Itulah kenapa aku percaya, pasti ada sesuatu di balik usia 40 tahun. Mungkin saat usia itulah, kematangan seorang pria dicapai. Saat di mana mental seorang pria telah teruji, pengalaman telah banyak dicicipi, dan jaringan pertemanan telah menyebar luas.

Saat di mana seorang pria telah memiliki jiwa dan mentalitas seorang ksatria sejati.

Tapi tentu saja kematangan mental hanya bisa diperoleh dengan catatan, pria itu  telah dengan konsisten berbuat dan mengambil konsekuensi dari keputusan yang dia ambil di usia-usianya sebelumnya. Bukan dengan cara berleha-leha dan mengongkangkan kakinya, bersandar di pundak orang lain.

Sejak aku berada di tingkat akhir kuliah, aku selalu bertekad dalam hati, aku harus merantau jauh dari orang tua dan tidak akan pernah meminta uang sepeser pun kepada orang tuaku apabila aku telah bekerja (https://anakmoeda.wordpress.com/2011/11/02/aku-seorang-elang/) Dan itu selalu berusaha kupegang teguh hingga saat ini.

Walaupun sesekali mamaku memberiku uang, aku tidak bisa menolaknya. Bukan karena aku ingin uang itu, tapi karena aku tidak ingin mamaku kecewa jika aku menolak pemberiannya.

Jadi kawan, tolong ingatkan aku, 15 tahun mendatang, jika aku belum mengambil keputusan itu, ingatkan aku untuk resign dari perusahaan. Walaupun aku tahu, tanpa kalian ingatkan pun, keputusan itu akan terjadi. Insya allah.

Agustus ini, usiaku tepat seperempat abad. 25 tahun sudah. Banyak yang bilang, Agustus adalah bulan hebat. Bulan ke-8. Bagi kepercayaan Tiongkok (bangsa tertua di dunia), ‘8’ adalah angka keberuntungan, tersusun dari lingkaran tanpa sudut akhir, terus membentuk satu siklus, dalam bahasa China angka ini memiliki arti tumbuh-berkembang pesat. Indonesia merdeka di bulan Agustus. Agustus pula adalah zodiaknya para Leo, singa yang merajai segala hewan.

Aku pun lahir di tahun 1988. Banyak angka 8 kan? Haha *maksa*. Tahun itu adalah tahunnya para Naga. Shio Naga. Suatu shio yang juga dipercaya bangsa Tiongkok adalah raja segala raja binatang. Shio Naga adalah tahun kelahirannya para pengusaha dan pemimpin hebat. Itu menurut kepercayaan bangsa Tiongkok (Chineese) lho, bukan kata gw. Gw sih diiyain aja, toh bagus buat kepercayaan diri mental. Haha.

Golongan darahku pun ‘O’. Menurut kepercayaan bangsa Jepang, anak-anak keturunan Raja Matahari, golongan darah ‘O’ adalah golongan darah milik para pemimpin besar. Bangsa Jepang sangat percaya pada pengkotakkan karakter manusia berdasarkan golongan darah. Pemimpin dan perdana menteri mereka selalu dipilih dari orang-orang bergolongan darah ‘O’. Haha.

Balik lagi ke laptop. Usiaku saat ini 25 tahun. Bukan saatnya lagi memang untuk berhura-hura. Hura-hura cukup diakhiri sampai aku wisuda. Setelah itu adalah masanya menatap masa depan.

Dan aku putuskan, sejak aku wisuda, aku harus belajar menjalani hidup dengan bekerja professional di perusahaan besar https://anakmoeda.wordpress.com/2012/08/27/baru-lulus-kuliah-mau-dibawa-kemana-hidup-lo/.

Aku percaya, masa bekerja di perusahaan (swasta yaah) adalah proses pematangan mental. Proses dalam bergulat keluar dari kepompong, untuk berubah menjadi kupu-kupu yang indah. Masa menjadi ulat adalah saat menjadi kanak-kanak (SD sd SMA) yang isinya hanya senang-senang saja, masa menjadi kepompong adalah di masa kuliah, saat di mana kita mulai sedikit meninggalkan kehura-huraan dan mulai agak ‘serius’ menjalani hidup (walaupun masih banyak sekali hura-huranya, haha). Dan masa setelah wisuda dan bekerja adalah masa kita mulai bergulat keluar dari kepompong menuju dunia nyata nan luas di luar sana.

Ada yang pernah dengar cerita kepompong? Alkisah ada seorang calon kupu-kupu yang berusaha keluar dengan susah-payah dari kepompongnya. Kemudian seorang anak kecil melihat usaha calon kupu-kupu itu, dan dia lalu merasa kasihan. Dia kemudian merobek kepompong itu dengan gunting, dengan maksud agar calon kupu-kupu bisa dengan mudah keluar dari kepompongnya dan terbang dengan indah mengepakkan sayap-sayapnya yang berwarna-warni.

Tapi apa yang terjadi? Ternyata setelah kepompongnya berhasil digunting, calon kupu-kupu malah jatuh ke tanah, menggelepak sesaat, kemudian mati. Sayap-sayapnya ternyata masih belum cukup kuat untuk terbang. Ternyata, saat kupu-kupu itu berjam-jam bergulat keluar dari kepomponglah, kupu-kupu itu berlatih menguatkan sayapnya.

Itulah yang menurutku hakikat manusia juga. Aku saat ini masih berusaha keluar dari kepompong yang membelungguku, berusaha keluar melihat dunia nan luas. Namun, aku harus bersabar, agar sayap-sayapku kuat terbang nantinya.

Masa aku bergulat keluar dari kepompong, memperkuat sayap-sayapku agar bisa terbang dengan indah nantinya, adalah masa-masa aku bekerja professional seperti yang saat ini aku jalani. Jika saatnya tiba nanti, saat usiaku 40 tahun, sayap-sayapku insya allah akan telah kuat sekuat-kuatnya untuk terbang melepaskan dari kepompong, merambah langit luas nan memukau di luar kepompong sana.

Aku sungguh beruntung. Entahlah. Dia sangat memberiku jalan, walaupun aku sering lupa pada-Nya. Walaupun aku selalu bermaksiat dan berbuat dosa.

Dari 8000 orang yang melamar menjadi Management Trainee di perusahaan tempatku bekerja saat ini, aku terpilih menjadi salah satu dari 18 Management Trainee. Dan bahkan, perusahaan yang menerimaku adalah berbasis bisnisnya, bukan berbasis tekniknya. Teman-teman seangkatan MT-ku seluruhnya memiliki background akademik bisnis. Ada yang dari SBM ITB, Management UI, UGM, Prasetya Mulya, Akuntansi Unpar, International Relation Unpad, Aussie, Scotland UK, dan sekolah bisnis Belanda.

Sedangkan aku? Anak teknik. Elektro pula. Jauh amat dari bau-bau bisnis. Tapi entahlah, kenapa aku bisa diterima, padahal pasti masih banyak ribuan calon lainnya yang berlatar belakang bisnis. Alhamdulillah.

Aku bersyukur ada di perusahaan multinasional ini. Ditempatkan di divisi Retail Marketing. Tempat di mana wawasanku benar-benar terbuka. Di sinilah di mana passion bisnisku menyatu dengan keseharian professionalitasku.

Berbeda dengan saat aku bekerja di XL Axiata, saat itu pasti setiap hari full selama 9 jam, aku pasti berada di head office. Lingkup pergaulan terkungkung, setiap hari berurusan dengan divisi yang itu-itu saja. Ketemu orang-orang yang sama. Orang-orang divisi product development, orang-orang marketing, orang-orang divisi IT, engineering… Ah!

Tapi di sini, aku bertemu dengan orang-orang terbaik di bidangnya. Perusahaan ini multinasional yang tumbuh dengan sangat cepat berkurva eksponensial, tidak menerima fresh graduate (kecuali dari program MT). Sehingga karyawannya seluruhnya berpengalaman di bidangnya masing-masing. Aku bisa menyerap banyak ilmu dan pengalaman mereka dengan keseharianku bekerja di sini. Mereka juga dengan senang hati memberiku saran apabila ada hasil kerjaku yang masih kurang memenuhi ekspektasi mereka.

Aku bekerja di Samsung Electronics Ind (SEIN)-Sales. Berbeda dengan SEIN-P (production) di Cikarang, yang berurusan dengan produksi alat elektronik (engineering) di pabrik, SEIN-S hanya berurusan dengan sales & marketing. SEIN-S seluruhnya mengenai jualan, marketing, jualan, marketing, dst., revenue, RoI (return of investment), Market Growth, Market Share, Retail Mapping, Selling-Out, Selling-In/Through, Rental Cost, MoU (letter of understanding/agreement), product knowledge, how to watch-out competitor, dsb.  

Negosiasi bisnis, meeting koordinasi dengan partner, project management, controlling vendor, analisis performance store, product strategy, marketing, dsb dsb adalah makanan sehari-hari. Setiap saat aku selalu bertemu dengan manusia, dengan orang-orang baru. Aku belajar bagaimana menghadapi dan menjaga hubungan baik dengan partner, mengendalikan contractor, bernegosiasi dengan pemilik toko, landlord (mall/land management), berusaha perform yang terbaik tanpa menjilat atasan dan boss, tight scheduling, berkoordinasi dengan para agent dan sales promotor toko-toko di seluruh Indonesia, banyak sekali aspek bisnis yang kupelajari di divisi dan perusahaan ini.

Berbeda dengan jika aku tetap bergelut di bidang teknik. Ah, pasti setiap hari aku berurusan dengan mesin. Komputer, jaringan, router, chip elektronika. Hmm, bagaimana bisa aku belajar bisnis jika tetap berkarir di dunia teknik. Aku berusaha blak-blakan lho.

Bahkan, karena ini adalah perusahaan multinasional berbasis sales & marketing, aku sering berurusan dengan perwakilan dari RHQ (regional head quarter) dari Singapura. Para kokoh-cici chineese singapura, bule-bule kantor RQH (berasal dari Australia, UK, Italy, Irlandia), orang Korea juga tentunya, sering sekali berkunjung ke kantor subsidiary Indonesia. Itu benar-benar melatih bahasa Inggrisku dengan baik. Memaksaku untuk berbicara dan bercakap dalam bahasa Inggris, meeting dalam bahasa Inggris, dan segala halnya dalam English.

Bekerja di sini seolah-olah adalah simulasi dari memiliki perusahaan sendiri. Dan nilai plusnya, aku sering melakukan business travel (untuk mengordinasikan toko-toko ekslusif Samsung) di seluruh Indonesia. Bandung, Bali, Manado, Surabaya, Jogja, Palembang… Bali bahkan aku sudah 2x datangi dalam waktu 2 bulan. Kalau Jabodetabek mah udah makanan sehari-hari lah. Jakarta, Tangerang, Bekasi, sering sekali aku gilir, sampai-sampai sekarang aku sudah hafal sebagian besar rute jalanannya. Semoga dalam waktu dekat bisa training ke Singapura & Korea Selatan. Amin.

Selain menyerap banyak ilmu di perusahaan ini, Juli tahun depan pun aku bertekad untuk segera kuliah S2 mengambil magister bisnis/management, jika tidak di Prasetya Mulya, ya di MBA ITB. Aku sebenarnya berminat sekali mengambil S2 MM di Prasmul, sayang kampusnya jauh sekali di Cilandak, kantorku di daerah Sudirman. Bisa gila aku kalau setiap Senin, Rabu, Jumat harus pulang dari kantor untuk kuliah sore jam6 magrib. Macetnya itu loh, Jakarta tau sendiri lah… Apalagi jam pulang kantor… Jadi aku beralih, sangat berhasrat kuliah MBA di ITB saja, dekat sih di daerah Patra Kuningan. Abis pulang kantor, 15 menit bisa langsung sampe kampus, kuliah di sana. Apalagi kalau fly-over tanah abang-kasablanka udah jadi. Hmmm sedaaap…. Lagipula program MBA ITB ini hanya satu-satunya di Indonesia, yang lainnya bergelar beda, Magister Management (MM), dan kultur akademiknya pasti sudah familiar kualami semenjak kuliah di Bandung dulu. Bisa jadi nilai plus untukku yang bertekad lulus cumlaude untuk S2 ini. Ga akan kubiarkan wisuda kedua kalinya di Sabuga ini biasa-biasa aja seperti wisuda S1 ku dulu.

Sayang, harus menunggu Juli tahun depan. Karena syaratnya harus berpengalaman kerja minimal 2 tahun. Coba kalau 1 tahun aja, sekarang pasti udah aku ambil program MBA-nya.

Kemudian, setelah lulus MBA di usia 28 tahun, usia 29 tahun aku berencana married. Insya allah dengan pacarku saat ini, Amin. Saat itu, insya allah dia sudah lulus beasiswa dari bank BCA, meneruskan ke program esktensi sarjana ekonomi di Trisakti, lulus ikatan dinas BCA, dan boleh mulai married.

Ya, it’s only a matter of time.  You can have the world at your feet by tomorrow, just sign on this line. “Ini hanyalah soal waktu. Kamu akan memiliki dunia berada di bawah kakimu suatu saat nanti, yang perlu kamu lakukan adalah jalani jalan yang telah kau tempuh”

Hold tight… limelight! Approaching the paramount with the sun in our eyes “Berpeganganlah dengan kuat, jadilah pusat perhatian! Dekatilah puncak itu dengan matahari terpancar dari matamu”

You can deviate from the commonplace, only to fall back in line. “Kamu dapat menyimpang dari tempat yang biasa, hanya untuk jatuh kembali ke tempat yang sama”

I understand mine’s a risky plan and your system can’t miss. But is security after all a cause or symptom of happiness? “AKu mengerti pilihanku adalah rencana yang penuh risiko, dan sistem yang kamu miliki tak akan pernah gagal. Tapi apakah rasa aman, pada akhirnya bisa menghasilkan kebahagiaan?”

Brave, yet afraid, his eyes on horizon in a steady-set gaze. A mariner soon from an open cocoon, takes a moment to summon his courage, to stifle his grave apprehension and trembling, approaches the surf. “Dengan berani, namun disertai rasa takut, matanya berada di horizon dalam tatapan yang diam. Pelaut itu segera keluar dari kepompongnya, diam sebentar untuk mengumpulkan keberaniannya, mengubur segala ketakutan dan rasa gemetarnya, untuk berjalan menuju ombak.

Even when plans fall to pieces, I can still find the courage with promise I’ve found in my faith, “Bahkan saat seluruh rencana gagal berkeping-keping, aku akan tetap menemukan keberanian disertai janji yang kutanamkan dalam kepercayaanku”

And if spirit’s a sign… Then it’s only a matter of time… Only a matter of time… “Dan apabila semangat adalah pertandanya… Maka ini hanyalah soal waktu… Hanyalah waktu…”

– Only a Matter of Time, a song from Dream Theater –Image

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: