Gila.


Saya bingung mau nulis apa.
Asli bingung.

Banyak hal bergelayut di pikiran saya, tapi terlalu random untuk ditaruh di dalam suatu posting yang runut.

Gila.

Satu kata itu aja barangkali kesimpulannya. Moga-moga mewakili semuanya.

Gila.

Emang gila.

Jadi manusia dewasa itu susah sekali ya.

Bingung sekali rasanya saya harus ambil step apa sekarang untuk kehidupan saya.

Quarter Life Crisis, kata orang-orang bilang.

Geblek.

Gila.

Bingung saya.

Pengen nikah… Pengeennn banget… Tapi nggak ada calonnya. Pacar saya gak mau dinikahin segera. Alasannya masih terlalu muda katanya, beda usia denganku 6 tahun (she is 21 yo now). Lama-lama luntur juga nih rasa sayangku ke dia.

Saya harus nikah cepet. Karena kalau tidak, akan makin terjerumus dalam kemaksiatan. Maklum, adek kecil ku udah meronta-ronta dari dulu. Daripada nambah dosa, mending aku harus segera cari calon yang jelas.

Pengennya sih orang Jawa, atau Palembang suku asliku. Atau Minang boleh juga. Hmmm…

Gila.

Udah bosen saya kerja. Menyesal juga pindah ke perusahaan yang baru ini. Walaupun gaji, jabatan meningkat… Tapi tantangannya kurang. Amat kurang. I work my every day soulless. Padahal kita kan bekerja juga untuk berkarya.

Hmmm…

Mungkin saya bekerja sampai awal tahun depan saja dech. Selanjutnya mau S2 aja deh ambil fulltime MBA di Jogja.
Siapa tau ketemu jodoh orang Jawa di sana…. Haha (ngarep.com)

Gila.

Temen-temen deket gw hampir semuanya udah pada married semua. Banyak juga yang udah berbuntut. Gue kapan ya???
Hmmm… Pengen juga punya Gustaf Jr. yang bakal gw bawa ke alam bebas dan belajar Taekwondo.

Gila.

Tinggal di Makassar emang gila. Ga betah saya di sini. Texas banget kota dan orang-orangnya. Kotanya panas, gak teratur dan gak terawat. Debu hampir di mana-mana.
Keramahan manusinya kurang. Nada default tinggi. Aksen bicara aneh, dengan partikel kata yang menggelikan (ji, mi, ko, ki, di, fuck them all). Attitude pengendara di jalanan nol besar. Pelayanan di cafe dan kedai yang buruk. Biaya hidup tinggi (lebih tinggi daripada Jakarta). Makanan sehari-hari nggak ada yang enak di lidah. Lack of vegetables. High in price.
Tukang-tukang parkir yang tidak membantu sama sekali. A bunch of stupid temperamental people who lives together in a place they called city. Mereka harusnya sering-sering merantau ke Jawa supaya tidak berpikiran naif dan sempit.

Tapi tentu tidak semuanya. Ada juga yang baik dan ramah…

Tapi cuma sedikit.

Kampret.

Sayang sekali keindahan alam Sulawesi dan peran vital kota perdagangan strategis seperti ini harus diisi orang-orang seperti itu.

Hmm….

Tapi, Ah, acuhkan saja kata-kata saya.

Namanya juga orang stress. Yang bingung mau dibawa ke mana hidupnya.

Quarter Life Crisis. Anggak saja seperti itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: