2013 in review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2013 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

The concert hall at the Sydney Opera House holds 2,700 people. This blog was viewed about 32,000 times in 2013. If it were a concert at Sydney Opera House, it would take about 12 sold-out performances for that many people to see it.

Click here to see the complete report.

Advertisements

Only a Matter of Time

Only a matter of time.

Sebuah lagu dari band progressive metal terbaik sepanjang masa, sebuah band yang paling kufavoritkan melebihi band apa pun yang bergelimpangan di jagat musik raya. Band dengan gitaris jenius beraransemen melodic yang luar biasa. Lantunan dan perpaduan harmonis dari tangga nada metal dan jazzy fusion *menurut gw* disertai lirik-lirik yang sangat berbobot, puitis, dan dalam. Dream Theater.

A suited man smiled said,
“It’s just a matter of time.
You can have the world at your feet by tomorrow
just sign on this line.”
Hold tight… limelight!
Approaching the paramount
with the sun in our eyes

It’s just a matter of time. You can have the world at your feet, just sign on this line.

“Semua hanyalah masalah waktu. Kau akan memiliki seluruh dunia berada di bawah kaki kita, ikutilah jalan yang telah kamu tempuh.”

Luar biasa.

Bait pertama dari lagu ini sangat menggugah jiwaku. Ya, semuanya hanyalah masalah waktu. Konsisten dan teguh dalam menempuh jalan hidup yang telah kita putuskan. Itulah jalan hidup seorang ksatria sejati.

Seperti tulisanku di posting sebelumnya, aku punya cita-cita. Aku punya suatu mimpi. Mimpi yang bakal selalu aku pegang teguh sampai kapan pun. Bara api ini tidak akan pernah padam! Suatu saat, jika waktunya tiba, lihat saja, aku akan mengobarkan bara api itu menjadi pelita yang menerangi jalan hidupku, menjadi api unggun yang menghangatkan setiap langkahku, serta memanaskan, membakar, dan menghancurleburkan seluruh obstacle yang menghalangiku!

Mimpi itu akan selalu terpancang di pikiranku. Seperti diibaratkan oleh penulis novel “5 cm” Donny Dirgantara, insya allah mimpi itu akan selalu ada, tergantung 5 cm di depan mataku. Membuat segala pandanganku tertuju padanya. Ke mana pun tatapan ini tertuju, ke arah mana pun kepala ini menoleh, ke tempat mana saja kaki ini melangkah, mimpi itu akan selalu ada dan eksis 5 cm di depan mataku. Tetap akan selalu hidup, walaupun masih berbentuk bara api saat ini.

Para pendaki gunung dan penempuh rimba pasti tahu, bara api tidak akan pernah padam dan habis. Sekalinya suatu ranting (dikotil) terbakar dan menjadi bara api, selamanya dia memiliki potensi untuk menjadi besar. Dengan beberapa tiupan dari mulut atau angin yang berhembus, bara itu akan segera menjadi besar.

Itulah mimpi yang ada di pikiranku. Mimpi itu lah sang bara yang berasal dari ranting tumbuhan dikotil, mengendap di pikiranku. Hingga saatnya tiba.

Memiliki perusahaanku sendiri.

Itulah mimpiku yang paling hakiki.

Menjadi miliuner masa depan.

Dalam 10 tahun mendatang, saat itu akan tiba. Gong itu akan berdentang. Saat di mana aku melangkah meniupkan bara api ini.

Saat itu jika Allah memberiku waktu, usiaku akan 35 tahun.

Sambil tetap meniti karir di perusahaan, di usia itu aku akan mulai merintis perusahaan itu. Hingga kemudian saat umurku mencapai 40 tahun, keputusan krusial itu akan kuketokkan palunya.

Resign dari perusahaan, dan totalitas meniupkan angin sekencang-kencangnya menyalakan sang bara api perusahaan.

Kenapa harus 40 tahun? Saat kuceritakan pada sobatku, dia bertanya seperti itu. Entahlah, aku pun tidak tahu jawabannya. Yang jelas, aku percaya, usia 40 tahun adalah usia emas bagi seorang pria.

Apakah kalian pernah bertanya-tanya, kenapa Nabi Muhammad diangkat menjadi nabi di usia 40 tahun?

Aku pun seperti itu, mempertanyakan hal yang sama.

Walaupun aku bukan seorang yang patuh dan taat beribadah, tapi aku percaya bahwa Nabi Muhammad adalah teladan umat manusia.

Bukan, aku bukan sok religius! Aku sungguh-sungguh.

Sejak kecil, aku sangat suka membaca buku. Buku apapun pasti aku lahap sejak kelas 2 SD. Aku ingat benar, saat aku kelas 2 SD, omku yang bekerja di pemerintahan kota Bandung (dia alumni STPDN), membawa 2 kardus besar buku-buku perpustakaan – isinya bisa ratusan buku. Buku-buku pemerintah yang “tidak diperjualbelikan”. Entah dari mana om ku peroleh buku-buku itu, nyolong dari perpustakaan mana gw ga ngerti. Yang jelas, sejak umur segitulah aku mulai gemar membaca buku. Ratusan buku itu abis kulalap dalam 1 bulan.

Hobi itu terus berlanjut hingga SMA. Aku paling suka buku science popular. Astronomi, Fisika, Biologi, adalah jenis buku science yang aku senengi.

Saat aku SMA, aku mulai baca buku Harun Yahya. Dan saat itulah, aku semakin percaya kalau dunia ini diciptakan dengan maha sempurna dan maha teliti oleh Penciptanya. Dan penciptanya adalah yang menurunkan Nabi Muhammad menjadi rasul di muka bumi.

Serius. Aku ga sedang membual. Aku sungguh-sungguh percaya itu. Pasti ada sesuatu alasan yang kuat dan hebat kenapa Allah baru mengangkat Nabi Muhammad menjadi nabi pada usia itu.

Itulah kenapa aku percaya, pasti ada sesuatu di balik usia 40 tahun. Mungkin saat usia itulah, kematangan seorang pria dicapai. Saat di mana mental seorang pria telah teruji, pengalaman telah banyak dicicipi, dan jaringan pertemanan telah menyebar luas.

Saat di mana seorang pria telah memiliki jiwa dan mentalitas seorang ksatria sejati.

Tapi tentu saja kematangan mental hanya bisa diperoleh dengan catatan, pria itu  telah dengan konsisten berbuat dan mengambil konsekuensi dari keputusan yang dia ambil di usia-usianya sebelumnya. Bukan dengan cara berleha-leha dan mengongkangkan kakinya, bersandar di pundak orang lain.

Sejak aku berada di tingkat akhir kuliah, aku selalu bertekad dalam hati, aku harus merantau jauh dari orang tua dan tidak akan pernah meminta uang sepeser pun kepada orang tuaku apabila aku telah bekerja (https://anakmoeda.wordpress.com/2011/11/02/aku-seorang-elang/) Dan itu selalu berusaha kupegang teguh hingga saat ini.

Walaupun sesekali mamaku memberiku uang, aku tidak bisa menolaknya. Bukan karena aku ingin uang itu, tapi karena aku tidak ingin mamaku kecewa jika aku menolak pemberiannya.

Jadi kawan, tolong ingatkan aku, 15 tahun mendatang, jika aku belum mengambil keputusan itu, ingatkan aku untuk resign dari perusahaan. Walaupun aku tahu, tanpa kalian ingatkan pun, keputusan itu akan terjadi. Insya allah.

Agustus ini, usiaku tepat seperempat abad. 25 tahun sudah. Banyak yang bilang, Agustus adalah bulan hebat. Bulan ke-8. Bagi kepercayaan Tiongkok (bangsa tertua di dunia), ‘8’ adalah angka keberuntungan, tersusun dari lingkaran tanpa sudut akhir, terus membentuk satu siklus, dalam bahasa China angka ini memiliki arti tumbuh-berkembang pesat. Indonesia merdeka di bulan Agustus. Agustus pula adalah zodiaknya para Leo, singa yang merajai segala hewan.

Aku pun lahir di tahun 1988. Banyak angka 8 kan? Haha *maksa*. Tahun itu adalah tahunnya para Naga. Shio Naga. Suatu shio yang juga dipercaya bangsa Tiongkok adalah raja segala raja binatang. Shio Naga adalah tahun kelahirannya para pengusaha dan pemimpin hebat. Itu menurut kepercayaan bangsa Tiongkok (Chineese) lho, bukan kata gw. Gw sih diiyain aja, toh bagus buat kepercayaan diri mental. Haha.

Golongan darahku pun ‘O’. Menurut kepercayaan bangsa Jepang, anak-anak keturunan Raja Matahari, golongan darah ‘O’ adalah golongan darah milik para pemimpin besar. Bangsa Jepang sangat percaya pada pengkotakkan karakter manusia berdasarkan golongan darah. Pemimpin dan perdana menteri mereka selalu dipilih dari orang-orang bergolongan darah ‘O’. Haha.

Balik lagi ke laptop. Usiaku saat ini 25 tahun. Bukan saatnya lagi memang untuk berhura-hura. Hura-hura cukup diakhiri sampai aku wisuda. Setelah itu adalah masanya menatap masa depan.

Dan aku putuskan, sejak aku wisuda, aku harus belajar menjalani hidup dengan bekerja professional di perusahaan besar https://anakmoeda.wordpress.com/2012/08/27/baru-lulus-kuliah-mau-dibawa-kemana-hidup-lo/.

Aku percaya, masa bekerja di perusahaan (swasta yaah) adalah proses pematangan mental. Proses dalam bergulat keluar dari kepompong, untuk berubah menjadi kupu-kupu yang indah. Masa menjadi ulat adalah saat menjadi kanak-kanak (SD sd SMA) yang isinya hanya senang-senang saja, masa menjadi kepompong adalah di masa kuliah, saat di mana kita mulai sedikit meninggalkan kehura-huraan dan mulai agak ‘serius’ menjalani hidup (walaupun masih banyak sekali hura-huranya, haha). Dan masa setelah wisuda dan bekerja adalah masa kita mulai bergulat keluar dari kepompong menuju dunia nyata nan luas di luar sana.

Ada yang pernah dengar cerita kepompong? Alkisah ada seorang calon kupu-kupu yang berusaha keluar dengan susah-payah dari kepompongnya. Kemudian seorang anak kecil melihat usaha calon kupu-kupu itu, dan dia lalu merasa kasihan. Dia kemudian merobek kepompong itu dengan gunting, dengan maksud agar calon kupu-kupu bisa dengan mudah keluar dari kepompongnya dan terbang dengan indah mengepakkan sayap-sayapnya yang berwarna-warni.

Tapi apa yang terjadi? Ternyata setelah kepompongnya berhasil digunting, calon kupu-kupu malah jatuh ke tanah, menggelepak sesaat, kemudian mati. Sayap-sayapnya ternyata masih belum cukup kuat untuk terbang. Ternyata, saat kupu-kupu itu berjam-jam bergulat keluar dari kepomponglah, kupu-kupu itu berlatih menguatkan sayapnya.

Itulah yang menurutku hakikat manusia juga. Aku saat ini masih berusaha keluar dari kepompong yang membelungguku, berusaha keluar melihat dunia nan luas. Namun, aku harus bersabar, agar sayap-sayapku kuat terbang nantinya.

Masa aku bergulat keluar dari kepompong, memperkuat sayap-sayapku agar bisa terbang dengan indah nantinya, adalah masa-masa aku bekerja professional seperti yang saat ini aku jalani. Jika saatnya tiba nanti, saat usiaku 40 tahun, sayap-sayapku insya allah akan telah kuat sekuat-kuatnya untuk terbang melepaskan dari kepompong, merambah langit luas nan memukau di luar kepompong sana.

Aku sungguh beruntung. Entahlah. Dia sangat memberiku jalan, walaupun aku sering lupa pada-Nya. Walaupun aku selalu bermaksiat dan berbuat dosa.

Dari 8000 orang yang melamar menjadi Management Trainee di perusahaan tempatku bekerja saat ini, aku terpilih menjadi salah satu dari 18 Management Trainee. Dan bahkan, perusahaan yang menerimaku adalah berbasis bisnisnya, bukan berbasis tekniknya. Teman-teman seangkatan MT-ku seluruhnya memiliki background akademik bisnis. Ada yang dari SBM ITB, Management UI, UGM, Prasetya Mulya, Akuntansi Unpar, International Relation Unpad, Aussie, Scotland UK, dan sekolah bisnis Belanda.

Sedangkan aku? Anak teknik. Elektro pula. Jauh amat dari bau-bau bisnis. Tapi entahlah, kenapa aku bisa diterima, padahal pasti masih banyak ribuan calon lainnya yang berlatar belakang bisnis. Alhamdulillah.

Aku bersyukur ada di perusahaan multinasional ini. Ditempatkan di divisi Retail Marketing. Tempat di mana wawasanku benar-benar terbuka. Di sinilah di mana passion bisnisku menyatu dengan keseharian professionalitasku.

Berbeda dengan saat aku bekerja di XL Axiata, saat itu pasti setiap hari full selama 9 jam, aku pasti berada di head office. Lingkup pergaulan terkungkung, setiap hari berurusan dengan divisi yang itu-itu saja. Ketemu orang-orang yang sama. Orang-orang divisi product development, orang-orang marketing, orang-orang divisi IT, engineering… Ah!

Tapi di sini, aku bertemu dengan orang-orang terbaik di bidangnya. Perusahaan ini multinasional yang tumbuh dengan sangat cepat berkurva eksponensial, tidak menerima fresh graduate (kecuali dari program MT). Sehingga karyawannya seluruhnya berpengalaman di bidangnya masing-masing. Aku bisa menyerap banyak ilmu dan pengalaman mereka dengan keseharianku bekerja di sini. Mereka juga dengan senang hati memberiku saran apabila ada hasil kerjaku yang masih kurang memenuhi ekspektasi mereka.

Aku bekerja di Samsung Electronics Ind (SEIN)-Sales. Berbeda dengan SEIN-P (production) di Cikarang, yang berurusan dengan produksi alat elektronik (engineering) di pabrik, SEIN-S hanya berurusan dengan sales & marketing. SEIN-S seluruhnya mengenai jualan, marketing, jualan, marketing, dst., revenue, RoI (return of investment), Market Growth, Market Share, Retail Mapping, Selling-Out, Selling-In/Through, Rental Cost, MoU (letter of understanding/agreement), product knowledge, how to watch-out competitor, dsb.  

Negosiasi bisnis, meeting koordinasi dengan partner, project management, controlling vendor, analisis performance store, product strategy, marketing, dsb dsb adalah makanan sehari-hari. Setiap saat aku selalu bertemu dengan manusia, dengan orang-orang baru. Aku belajar bagaimana menghadapi dan menjaga hubungan baik dengan partner, mengendalikan contractor, bernegosiasi dengan pemilik toko, landlord (mall/land management), berusaha perform yang terbaik tanpa menjilat atasan dan boss, tight scheduling, berkoordinasi dengan para agent dan sales promotor toko-toko di seluruh Indonesia, banyak sekali aspek bisnis yang kupelajari di divisi dan perusahaan ini.

Berbeda dengan jika aku tetap bergelut di bidang teknik. Ah, pasti setiap hari aku berurusan dengan mesin. Komputer, jaringan, router, chip elektronika. Hmm, bagaimana bisa aku belajar bisnis jika tetap berkarir di dunia teknik. Aku berusaha blak-blakan lho.

Bahkan, karena ini adalah perusahaan multinasional berbasis sales & marketing, aku sering berurusan dengan perwakilan dari RHQ (regional head quarter) dari Singapura. Para kokoh-cici chineese singapura, bule-bule kantor RQH (berasal dari Australia, UK, Italy, Irlandia), orang Korea juga tentunya, sering sekali berkunjung ke kantor subsidiary Indonesia. Itu benar-benar melatih bahasa Inggrisku dengan baik. Memaksaku untuk berbicara dan bercakap dalam bahasa Inggris, meeting dalam bahasa Inggris, dan segala halnya dalam English.

Bekerja di sini seolah-olah adalah simulasi dari memiliki perusahaan sendiri. Dan nilai plusnya, aku sering melakukan business travel (untuk mengordinasikan toko-toko ekslusif Samsung) di seluruh Indonesia. Bandung, Bali, Manado, Surabaya, Jogja, Palembang… Bali bahkan aku sudah 2x datangi dalam waktu 2 bulan. Kalau Jabodetabek mah udah makanan sehari-hari lah. Jakarta, Tangerang, Bekasi, sering sekali aku gilir, sampai-sampai sekarang aku sudah hafal sebagian besar rute jalanannya. Semoga dalam waktu dekat bisa training ke Singapura & Korea Selatan. Amin.

Selain menyerap banyak ilmu di perusahaan ini, Juli tahun depan pun aku bertekad untuk segera kuliah S2 mengambil magister bisnis/management, jika tidak di Prasetya Mulya, ya di MBA ITB. Aku sebenarnya berminat sekali mengambil S2 MM di Prasmul, sayang kampusnya jauh sekali di Cilandak, kantorku di daerah Sudirman. Bisa gila aku kalau setiap Senin, Rabu, Jumat harus pulang dari kantor untuk kuliah sore jam6 magrib. Macetnya itu loh, Jakarta tau sendiri lah… Apalagi jam pulang kantor… Jadi aku beralih, sangat berhasrat kuliah MBA di ITB saja, dekat sih di daerah Patra Kuningan. Abis pulang kantor, 15 menit bisa langsung sampe kampus, kuliah di sana. Apalagi kalau fly-over tanah abang-kasablanka udah jadi. Hmmm sedaaap…. Lagipula program MBA ITB ini hanya satu-satunya di Indonesia, yang lainnya bergelar beda, Magister Management (MM), dan kultur akademiknya pasti sudah familiar kualami semenjak kuliah di Bandung dulu. Bisa jadi nilai plus untukku yang bertekad lulus cumlaude untuk S2 ini. Ga akan kubiarkan wisuda kedua kalinya di Sabuga ini biasa-biasa aja seperti wisuda S1 ku dulu.

Sayang, harus menunggu Juli tahun depan. Karena syaratnya harus berpengalaman kerja minimal 2 tahun. Coba kalau 1 tahun aja, sekarang pasti udah aku ambil program MBA-nya.

Kemudian, setelah lulus MBA di usia 28 tahun, usia 29 tahun aku berencana married. Insya allah dengan pacarku saat ini, Amin. Saat itu, insya allah dia sudah lulus beasiswa dari bank BCA, meneruskan ke program esktensi sarjana ekonomi di Trisakti, lulus ikatan dinas BCA, dan boleh mulai married.

Ya, it’s only a matter of time.  You can have the world at your feet by tomorrow, just sign on this line. “Ini hanyalah soal waktu. Kamu akan memiliki dunia berada di bawah kakimu suatu saat nanti, yang perlu kamu lakukan adalah jalani jalan yang telah kau tempuh”

Hold tight… limelight! Approaching the paramount with the sun in our eyes “Berpeganganlah dengan kuat, jadilah pusat perhatian! Dekatilah puncak itu dengan matahari terpancar dari matamu”

You can deviate from the commonplace, only to fall back in line. “Kamu dapat menyimpang dari tempat yang biasa, hanya untuk jatuh kembali ke tempat yang sama”

I understand mine’s a risky plan and your system can’t miss. But is security after all a cause or symptom of happiness? “AKu mengerti pilihanku adalah rencana yang penuh risiko, dan sistem yang kamu miliki tak akan pernah gagal. Tapi apakah rasa aman, pada akhirnya bisa menghasilkan kebahagiaan?”

Brave, yet afraid, his eyes on horizon in a steady-set gaze. A mariner soon from an open cocoon, takes a moment to summon his courage, to stifle his grave apprehension and trembling, approaches the surf. “Dengan berani, namun disertai rasa takut, matanya berada di horizon dalam tatapan yang diam. Pelaut itu segera keluar dari kepompongnya, diam sebentar untuk mengumpulkan keberaniannya, mengubur segala ketakutan dan rasa gemetarnya, untuk berjalan menuju ombak.

Even when plans fall to pieces, I can still find the courage with promise I’ve found in my faith, “Bahkan saat seluruh rencana gagal berkeping-keping, aku akan tetap menemukan keberanian disertai janji yang kutanamkan dalam kepercayaanku”

And if spirit’s a sign… Then it’s only a matter of time… Only a matter of time… “Dan apabila semangat adalah pertandanya… Maka ini hanyalah soal waktu… Hanyalah waktu…”

– Only a Matter of Time, a song from Dream Theater –Image

 

 

Terima kasih XL Axiata!

Bulan ini, akhir Maret 2013 adalah genap bulan ke-9 sejak gw memiliki ‘Real Occupation’ sejak lulus kuliah di April 2012. Ini perusahaan pertama tempat gw bekerja.

Di XL, budaya kerjanya sangat muda (young) dan energik. Rata-rata orang yang bekerja di XL mungkin (secara gw belum pernah survei langsung database perusahaan) 50% berada di bawah usia 30 tahun. 30% berada di usia antara 30-35 tahun. Dan 10% antara 35-40 tahun, dan sisanya 10% di atas 40 tahun (termasuk sang CEO Pak Hasnul yang juga alumni Elektro ITB *sok bangga* wkwkw).

Sekali lagi, data-data itu hasil perkiraan dan penerawangan gw doank. Jangan dipercaya banget. Hahaha

Intinya. Benar-benar muda, dan energik budaya di sini.

Juga penuh transformasi.

Bayangkan, pada akhir tahun 2012, top management XL memutuskan bahwa untuk menguasai pasar telekomunikasi Indonesia, XL harus bertransformasi menjadi perusahaan yang berfokus di EMC (emerging middle class) yaitu EMC adalah golongan konsumen XL muda yang berusia 20-28 tahun – yang merupakan konsumen potensial XL.

Untuk mencapai itu, XL harus memulai dari karyawannya terlebih dahulu. Karyawan-karyawan XL harus menyerap semangat dan jiwa EMC/anak muda itu. Dan itu harus dimulai dengan memahami dan menjadi anak muda itu. Dan akhirnya, perubahan budaya besar-besaran di XL di mulai.

Dalam bekerja, karyawan XL diharuskan menggunakan dresscode kerja yang sangat anak muda – boleh menggunakan kaos/t-shirt, jeans, dan sepatu gaya apa pun. Jarang ada yang pakai kemeja formal. Paling banter pake kemeja santai. Kebanyakan pake casual polo dan t-shirt band. Wkwkwkwkw.

Seru bangeettttt kerja di sini!!! Kerja berasa kuliah! Hahahaha. Nuansa anak muda pun tercipta. Apalagi desain interior di kantor pusat pun sangat berwarna-warni. Seru.

Di XL, gw ditempatin di departemen Product Development (PD). Yaitu semacem project coordination office-nya XL.

Awal gw masuk kerja di departemen ini (awal Agustus 2012) terus terang gw nervous, grogi. Apalagi waktu pertama kali masuk ke lantai-18 dan diajak berkeliling kenalan dengan orang-orang di PD (sekitaran 50 orang PD). Gila, besok paginya gw sempet ada rasa gak mau masuk kerja aja dah. Nervous! Hahaha.

Maklum, pertama kali bekerja bro 😛

Di sinilah gw belajar untuk membuat presentasi (slide show) yang informatif dan harus mampu dipahami orang lain. Cukup sulit awalnya, terutama saat harus membuat slide yang berhubungan dengan skema mekanisme dan sistem teknical, juga saat mendeksripsikan ‘subscriber experience’. Tapi lama-lama gw jadi belajar dan berusaha membuat slide yang baik. Itu akhirnya menjadi skill yang penting untuk dikuasai.

Di sini juga gw belajar cara melobi, cara mempush pihak lain agar mampu memenuhi jadwal/timeline yang disepakati. Cara berkomunikasi yang baik yang gw pelajari – terutama tata cara berkomunikasi via email dan phone – juga berkomunikasi langsung tentunya. Dan itu pula akhirnya menjadi skill yang berharga yang gw dapat di sini.

Pula belajar cara menggerakan (memotivasi) orang lain di departemen yg berbeda untuk melakukan trouble shooting dari permasalahan yang ditemukan di tengah project. Di divisi gw, kita tidak pernah hands-on langsung dengan perangkat/mekanisme apa pun. Tugas kita adalah menggerakkan tim lain (di departemen lain) yang memiliki otoritas untuk mengakses mekanisme tersebut, agar mampu menjalan target & project dari user/business owner.

Jadi intinya di departemen gw adalah, gimana pinter-pinternya mengkoordinir banyak tim dari banyak departemen berbeda, agar project bisa accomplished.

Di sini lah gw menyadari kelemahan-kelemahan gw.

Gw menyadari bahwa gw orangnya males untuk memfollow up komunikasi – termasuk ketemu langsung maupun by phone. Padahal agar tindak lanjut cepat, seseorang itu harus difollow up via phone. Tapi lama-lama gw belajar hal itu, dan perlahan mampu untuk berkomunikasi (baik langsung maupun by phone) dengan efektif dan berprogress.

Gw juga menyadari kalau gw orangnya suka menunda-nunda. Proyekan gw sering delay karena gw sering menunda progress sesuatu project. Untunglah berkat senior-senior di tim gw, gw belajar bagaimana melakukan follow up dengan tanggap dan cepat. Mereka sekali mendapat problem, langsung menghubungi orang yang terkait untuk dilakukan fixing. Sementara gw, bakal berjalan keluar cubicle, buat kopi dulu, ke WC dulu lah pipis atau BAB, atau browsing-browsing di HP. Wkwkwkwkw kacau. Faktor jaman kuliah kale :p
Gw belajar mengenai hal ketanggapan itu.

Kemudian gw pun mendeteksi bahwa emosi gw masih labil. Gw seringkali terpancing emosi saat bekerja – terutama ketika berhadapan dengan pihak lain yang tidak koordinatif, atau bergaya bicara yang sedikit arogan. Saat itulah emosi gw terpancing dan akhirnya membalas dengan arogan pula. Akibatnya konfliklah yang terjadi.

Gw sadar dan kemudian perlahan menyesuaikan untuk mengontrol emosi. Gw harus lebih sabar, dan berusaha menempatkan diri pada posisi pihak lain itu. Dan ternyata, memang apabila kita mengimaginasikan diri kita pada posisi orang lain, kita bakal lebih toleran dan mampu untuk mengontrol emosi dengan baik. Kita harus paham, mungkin di departemen lain budayanya berbeda dengan departemen tempat kita berada. Di sana mereka mungkin punya banyak workload dan KPI yang padat, atau mungkin boss yang galak.

Di XL, yang adalah perusahaan besar, gw belajar bahwa seluruh work flow memiliki prosedur. Dan prosedur itu harus ditaati. Dan prosedur itu yang kadang-kadang pernah gw tabrak begitu saja – dan akhirnya ditegur senior bahkan ditertawakan massal oleh senior-senior di tim gw. Wkwkwk

Berbeda dengan perusahaan kecil mungkin, yang hanya sedikit prosedur – yang penting melakukan pekerjaan secara efektif dan rapid.

Tapi di perusahaan besar (perusahaan dengan karyawan lebih dari 1000 orang), tiap orang sudah punya jobdesc masing-masing – yang seringkali amat detail dan itu-itu saja (terkotak-kotakkan). Gw belajar bahwa hal itu common terjadi di perusahaan besar – dan memang harus seperti itu.

Gw juga belajar bahwa kunci kesuksesan menjadi seorang eksekutif adalah:
“TULUS membantu pekerjaan pihak lain di perusahaan”.

Pihak lain itu macem-macem, bisa manager, rekan setim, atau orang lain di departemen yang berbeda. Dengan ikhlas dan tulus berniat membantu, akan dengan sendirinya menciptakan mindset yang menghasilkan totalitas dalam bekerja.

Dengan tulus membantu kerjaan boss dan juga mengabdi pada mereka, itu lah kunci kemajuan karir kita.

Kemudian yg gw pelajari lagi, bekerja totalitas tidak harus diniatkan untuk dilihat orang lain. Justru kalau niatnya pengen ‘eksis, jatohnya malah bakal dilihat orang lain semacem ‘creep’ alias penjilat. Hal kayak gitu malah jadi bumerang.

Ga perlu niat pengen dilihat bahwa kita hebat, tapi dengan bekerja total dengan sendirinya orang lain bakal mengendus bakat kita. Kata orang, berlian di lumpur walaupun tidak terlihat saat ini, namun dia tetap berharga tinggi, dan suatu saat akan ditemukan dan diasah menjadi batu permata yang berkilauan.

Di tim gw, diisi oleh orang-orang yang hebat dan penuh inspirasi – yang sangat menginspire fresh graduate seperti gw ini.

Gw belajar dari mentor gw, Mas Romi, yang bawaannya kalem dan tenang. Yang mampu memfollow up suatu ACK NOT-OK dari tim Service Assurance dengan tenang namun efektif menggunakan pendekatan personal. Sangat nice guy.

Bli Epo yang cool, asik, baik hati, pleiboy, punya simpenan tante-tante (wkwkwkwk piss bli!), dan kayanya yang paling nyambung (setipe) ama gw. Hahaha.

Gw belajar cara bercanda di kantor dari Bli Iswara yang ngga pernah berhenti bikin gw ngakak dengan spontanitas dan candaannya. Gilak, ga ada matinya bikin perut orang sakit tuh orang. Hahahahaha

Duo Bli dari Bali itu memang gila-gila emang. Hahahaha

Juga dengan mas Michael yang becandaannya kreatif (selalu!) dan orisinal.

Belajar juga dari Mas Rufus yang enak banget jadi tempat bertanya, sangat sistematis kalau menjelaskan konsep teknis dan prosedur work flow di XL. Apalagi ditambah dengan hobi yang sama yaitu sama-sama suka musik (metal) dan juga cerita-ceritanya tentang politik, perang abad pertengahan, agama, sosial, pokoknya semua pengetahuan politik dari jaman pertengahan sampe modern doi tau! Hahahaha, lumayan bener-bener nambah pengetahuan gw :p

Tita yang baik hati dan alim, tapi asyiik. Maaf sering ngabisin tissue lo pas gw kena pilek.

Kakak Carla yang sangaat ceria, cerewet, tapi seruuu. Terus terang, doi kece dan asik banget orangnya. Tipe gw banget pokoknya. Sayang udah punya Kenza. Haha

Mbak Helen yang galak. Hahaha. Tapi baik hati dan suka meres susu. Wkwkwk

Di sini gw juga mengobservasi bahwa ada perbedaan gaya bekerja antara eksekutif papan atas di XL dan karyawan biasanya.

‘Karyawan biasa’ CIRI UTAMAnya adalah cenderung MENGHINDARI PEKERJAAN (kurang senang saat ada workload baru dipercayakan untuk mereka kerjakan).

Mereka juga ‘kurang perfeksionis’ – dalam arti kurang ‘Take Ownership’ dan total dalam melakukan pekerjaan mereka.

Mungkin itu yang membuat mereka tetap menjadi karyawan biasa.

Para eksekutif papan atas (boss-boss) di XL – minimal setingkat manager – memiliki gaya bekerja yang hebat. Dari cara bicara mereka, sangat terlihat bahwa mereka cerdas. Mereka juga sangat cepat dalam menangkap dan mengolah suatu informasi, kemudian berpendapat dalam rapat.

Mereka juga seluruhnya pekerja keras, dan detail (juga perfeksionis) dalam bekerja. Juga ahli dan berpengalaman di bidangnya.

Itu ciri khas orang-orang di XL untuk level manager (dan General Manager/GM).

Untuk level Vice President (VP), gw lihat mereka orang-orangnya KREATIF dan VISIONER. Mereka (VP-VP) itu terlihat energik dan lincah. Mereka sangat antusias ketika berdiskusi untuk topik yang berhubungan dengan ‘visi’. Mereka mampu menggali ide-ide yang berhubungan dengan masa depan industri telekomunikasi, dan berimaginasi mengenai kemungkinan penerapan ide-ide tersebut.

Misalnya aja, VP di departemen gw. Suatu saat, operator telco ‘3’ dari hutchison mengancam XL dengan data internet service nya yang rapid merangkul banyak pasar telco di bidang data.

Saat itu, gw yang tergolong EMC (anak muda berusia di bawah 24 tahun) dan beberapa temen lainnya diajak diskusi tentang apa sih keunggulan ‘3’ dibanding XL. Dan kita brainstorming dan melakukan riset – salah satunya dengan mencoba langsung (self experience) service data internet ‘3’. Kita telaah kelebihan ‘3’ dibanding operator telco lain. Kemudian kita buat di slide powerpoint dan kita presentasikan di hadapan VP. Sang VP sangat antusias menanggapi presentasi kami.

Dan sangat terlihat jelas bahwa sang VP itu kreatif dan visioner. Dia bahkan mengundang kita ke focus discussion yang dihadiri orang-orang dari BCG (Boston Consulting Group) untuk melakukan komparasi antara produk XL dengan operator lain.

Gila, itu gen para eksekutif papan atas yang gw observasi.

Gw juga mengobservasi boss langsung (manager) gw, yaitu Mbak Ingrid.

Dia orang jenius, cepat mengolah informasi, pekerja keras, perfeksionis, taat prosedur, tegas, tapi juga mampu melihat jauh ke depan tapi detail.

Dia tahu apa progress seluruh project yang dikerjakan anak buahnya. Dia yang membentengi kami dari buruan tim marketing yang pengen project mereka cepat kelar. Dia yang udah hadir di cubiclenya jam setengah 8 pagi, dan pulang paling telat di antara yang lain (paling cepet jam 8 malem). Dia yang masih ngirim email kerjaan di jam 12 malem dan 3 subuh – juga di saat weekend. Saat weekend, di mana banyak orang berpikir bahwa weekend adalah saatnya melupakan seluruh pekerjaan.

Haram menyentuh urusan kantor saat weekend! Tapi mbak ingrid beda.

Gak ngerti lagi gw gimana otaknya bisa ngga meledak.

Akhirnya gw tahu alasannya – alasan kenapa dia sangat pekerja keras. Ada suatu momen di mana gw talking one-on-one dengannya. Dan dia bilang “Once I have committed to something, I will strict to that. Once I signed contract with XL, I will struggle to do the best for XL which has paid me”.

Itu lah kuncinya. Dia berkomitmen. Berkomitmen dengan perusahaan yang sudah membayarnya, sehingga dia berusaha sekuat tenaga – ‘do the best’ untuk memajukan perusahaan.

Dia juga paham bagaimana menggunakan trik psikologis di kantor. Dia pernah bilang “Once something is in chaos, you just offer some solution – which will give benefit for your team. Others will follow your solution. And you have set the environtment! Environtment which will give winning to your team”

Tapi dia juga ekstrovert, ceria, suka bercerita, dan sering bawain makanan enak untuk anak-anak buahnya. Mantap!

Kelemahannya adalah dia terlalu strict. Dan terlalu perfectionist.

*hadeuh capek ngetik euy. Udah jam setengah 1 malem. Sedangkan besok pagi gw mau touring dari Jakarta ke Bandung bareng cewek gw – maklum mumpung longweekend :p hehehehe*

#udahahntarlanjutlagiceritanya#

*sleep mode* *bye!*

Baru Lulus Kuliah? Mau Dibawa Kemana Hidup Lo??

Note: TULISAN INI DIBUAT UNTUK SHARING – KARENA GW YAKIN, PASTI BANYAK PARA LULUSAN KAMPUS MUDA DI LUAR SANA YANG BINGUNG AKAN DIBAWA KE MANA HIDUPNYA SETELAH LULUS.
DAN TULISAN INI BANYAK BERCERITA SECARA PERSONAL, KARENA BERDASARKAN PEMIKIRAN DAN PENGALAMAN PRIBADI GW SENDIRI.

Pada saat menjelang gw diwisuda – setelah 5,5 tahun menjadi mahasiswa (hampir) abadi di kampus – gw masih bingung, mau dibawa hidup gw setelah gw lulus dari kampus gajah ini?

Terus terang, pada dasar lubuk hati gw yang terdalam, gw enggan untuk melepas status sebagai mahasiswa.
Kenapa? Sebagai mahasiswa, gw bisa bebas-sebebasnya berekspresi, masih bebas dari tuntutan kewajiban untuk bertanggung jawab sepenuhnya atas diri gw, masih bebas traveling ke mana pun gw mau, bebas melakukan apa saja yang gw suka, bebas melakukan hobi-hobi gw yang bejibun – dan tetap mendapat uang saku dari orang tua…

Haha, memang terkesan kekanak-kanakan, tapi why not?? Alhamdulillah keluarga gw bukan orang yang susah, jadi gw memang gak ada tuntutan untuk cepat-cepat lulus. Selain itu, kenapa harus cepat-cepat lulus, kalo gw memang menikmati kehidupan gw di kampus??

Tapi jujur, yang gw nikmati di kampus bukanlah kehidupan akademisnya (kuliah, praktikum, tugas, dll), tapi justru kehidupan ekstra kurikulernya. Gw senang sekali ikut berbagai macam Unit Kegiatan Mahasiswa – wah banyak sekali komunitas-komunitas (termasuk organisasi kemahasiswaan) yang gw ikutin. Ada belasan unit/komunitas kampus yang gw aktif ikuti kegiatannya – tapi hanya kegiatan dan kegiatan kumpul-kumpulnya, kalau rapat-rapat serius rasanya males buat partisipasi. Hahaha.

Gw sangat menikmati ikut kegiatan-kegiatan itu.

Gw pikir, lebih baik berlama-lama sepuasnya menikmati hidup selagi masih menjadi mahasiswa, melakukan apa pun yang masih ingin berhasrat untuk kita lakukan, daripada setelah lulus kuliah tidak ikhlas, berkeluh-kesah akan pekerjaan yang memberatkan, dan selalu berpikir lebih enak menjadi mahasiswa…

Mending puas-puasin menjadi mahasiswa selagi kebebasan ada di tangan kita, kemudian setelah segala hasrat terpuaskan, baru TOTALITAS memasuki dunia nyata (yang katanya keras dan kejam). Naik gununglah, travelinglah, berorganisasilah, nongkrong-nongkrong lah sepuasnya, ikutin segala kegiatan (yang positif tentunya) di kampus.

Kecuali menjadi Gamers yaa, menurut gw itu adalah hal paling MEMBUANG WAKTU dan NYAMPAH untuk dilakukan.

Jangan lakukan itu.

Setelah gw puas menjalani 5 tahun lebih kehidupan kampus, gw mulai tidak betah. Teman-teman sepermainan gw mulai banyak yang hilang dari kampus. Teman main gw udah gak sebanyak dulu lagi. Gw mulai merasa agak kesepian. Teman-teman main gw kebanyakan adik-adik angkatan gw, ada yang bahkan beda angkatan sampe 5 tahun di bawah gw!

Gw mendengar dari obrolan (dan tweet-tweet) teman-teman gw yang mulai memasuki dunia kerja. Gw mulai iri. Gw mulai sangat berhasrat untuk lulus, gw ingin merasakan pula kehidupan dunia kerja yang sepertinya penuh tantangan. Hati gw mulai memberontak.

PEER-PRESSURE memang signifikan perannya ya! 😀

Teman-teman gw sudah banyak yang kuliah lagi di luar negeri, ada pula yang menjadi karyawan professional yang mereka bercerita tentang negosiasi, presentasi, penjualan mereka, bos-bos mereka, gaji mereka… Nampaknya mereka mengalami banyak hal menarik di luar sana.

Sedangkan gw masih saja di ITB, berkutat dengan kehidupan di Bandung. Masih nongkrong dan jalan-jalan saja, bersama adik-adik kelas, yang bahkan angkatannya berbeda 5 tahun dengan gw!

Barulah gw BERTEKAD untuk lulus. Gw inget banget, wisuda ITB Oktober 2011. Saat itu wish-night HME ITB, gw liat seremoni-seremoni yang diadain anak-anak himpunan. Terus saat gw juga bertugas sebagai protokoler wisuda di SABUGA yang prosesinya begitu indah, gw berjanji dalam hati “Gw harus lulus April 2012! Apapun yang terjadi!”

Sejak saat itu, gw mulai mengerjakan TA gw (sebelumnya sama sekali gak pernah gw sentuh TA gw itu). Gw mulai mengajak teman-teman seperjuangan gw di jurusan (terutama yang satu dosen bimbingan) & di KMPA: terutama Alam & Maman untuk mengerjakan bareng TA.

Sering sekali kami bertiga pergi ke kafe (mostly di Gampoeng Aceh, Dago) untuk begadang sampe pagi, duduk dalam satu meja kafe mengerjakan TA bersama-sama. Walaupun TA kami sama sekali berbeda topic (tentu saja, karena kami juga berbeda jurusan!) tapi kegiatan itu benar-benar saling membantu kami – terutama aspek teknis dalam hal edit mengedit file word/excel TA kami. Hahaha.

Dan akhirnya, kami bertiga lulus dan WISUDA bareng di Sabuga ITB, tanggal 14 April 2012. Alam, Maman, lo benar-benar sahabat terbaik gw… Sampe awal masuk kuliah, mendaki banyak gunung dan hutan bareng, 6 tahun bersahabat dan berbagi suka-duka, hingga lulus kuliah pun barengan! 😀

Setelah sidang TA (gw inget banget, awal Maret 2012), gw mulai berpikir, scenario apa yang paling baik buat diri gw setelah gw wisuda?

Ada beberapa skenario yg ada di benak gw… Semuanya gw timbang dengan masak-masak…

Skenario #1, apakah mengambil S2?

Gw pikir, tentu tidak! Gw kuliah S1 saja sudah malas rasanya, apalagi mau lanjut kuliah S2??
Gw memang berhasrat untuk kuliah lagi, tapi jika dan hanya jika mengambil MBA (master of business administration).

Tapi tidak langsung setelah gw lulus. Gw pengen mendalami kehidupan dunia kerja professional yang sesungguhnya, kemudian barulah setelah mengetahui apa sih yang sebenarnya terjadi di dunia kerja, setelah itu mengambil MBA adalah pilihan yang terbaik.

Bayangkan bedanya, belajar dengan hanya MENGETAHUI TEORI, TEORI , dan TEORI… Dibandingkan dengan terlebih dahulu MEMAHAMI PRAKTEK langsung yang terjadi di dunia nyata, kemudian dilanjutkan dengan MEMPELAJARI TEORI yang seharusnya.

Skenario seperti itu sangatlah POWERFUL!

Jadi, Skenario #1 dicoret dari kemungkinan hidup yang gw jalanin setelah wisuda.

Skenario #2, Menikah.

OH MEN. This is definitely out of the box! Out!

Skenario #3, Entrepreneur.

Ya, menjadi entrepreneur memang menggelayuti benak gw. Kebebasan berekspresi. Kebebasan waktu dan perasaan. Tantangan untuk berkembang dengan kemampuan sendiri. Wah ini benar-benar menggiurkan hati gw!

Tapi, gw pikir, tidak untuk saat ini.

Menjadi entrepreneur butuh modal yang besar. Gw berbicara bukan hanya tentang Modal Uang. Tapi juga Modal Mental, Modal Pengetahuan, Modal Social Link, dan tentu saja PENGALAMAN.

Tanpa itu, sama saja seperti mati konyol.

Butuh mental yang seperti baja untuk bisa langsung sukses menjadi entrepreneur. Kecuali kalo lo mau buka usaha jual mie ayam pinggir jalan. Itu saja banyak tantangannya. Sogokan untuk preman jalanan, persaingan dengan tukang mie ayam lain, digusur Satpol PP, dsb. Apalagi usaha yang modalnya puluhan/ratusan juta…

Kecuali lo anak SBM yang bisa pinjem duit bokap lo yang bejibun buat mendirikan usaha.

Atau lo punya kemampuan membuat business plan dan bisa presentasi yang memukau untuk menarik investor.

Atau lo udah berpengalaman berjualan paruh waktu selama menjadi mahasiswa.

Bayangkan, kita yang masih hijau, polos, lugu, masih memiliki mental ‘mahasiswa’ langsung terjun menjadi entrepreneur. Wah, kalo gak cukup cerdas, kita bisa-bisa ditipu orang lain, jualan gak laku, bangkrut, dan lain-lain.

Makanya, gw SANGAT SALUT dengan teman-teman gw yang bisa langsung memilih menjadi entrepreneur setelah lulus.

Selain itu, gw juga sangat sayang dengan ilmu yang susah-susah gw timba di jurusan. Bayangkan, gw udah kuliah 5 tahun lebih untuk belajar ilmu ELEKTRO, eh tau-tau setelah lulus, ilmu gw gak dipake sama sekali!

OH MEN. Ngapain gw kuliah di jurusan gw kalo begitu??

Kalo ada yang bilang: yang dipake di dunia kerja itu bukan ilmu lo, tapi cara berpikir sebagai seorang engineer.

AH BULLSHIT.

Kata ada yang ngomong gitu, tuh orang berarti udah menyia-nyiakan ilmunya, sama aja dengan kurang menghargai keilmuannya sendiri yang diperolehnya selama kuliah.

Yah, mungkin gw berpikir begitu karena gw juga anak Elektro – banyak tawaran pekerjaan untuk engineer elektro. Mungkin bakal berbeda kalo gw anak jurusan astronomi, misalnya.

Dan, scenario #3 gw coret juga dari daftar gw. Gw memilih untuk mencari pengalaman, modal mental, dan ilmu professional terlebih dahulu. Baru setelah itu berkecimpung memiliki bisnis pribadi.

Skenario #4, bekerja di perusahaan kecil.

Terus terang, scenario ini juga ada di benak gw. Dengan bekerja di perusahaan kecil, gw secara langsung bisa belajar membangun bisnis dari embrionya. Belajar dari sang pemilik perusahaan, banyak hal yang akan gw ketahui tentang cara-cara mendirikan bisnis, tetek bengeknya, perizinannya, suap-menyuapnya, produksinya, dsb.

Tapi, rasanya ada hasrat dalam jiwa ini yang berbeda.

Gw pengen kerja di perusahaan besar!

Bukan soal GENGSI, atau tidak hanya soal GAJI (walaupun akhirnya salah satu pertimbangan besarnya adalah tentang gaji).

Tapi gw ingin membuktikan pada diri gw sendiri, apakah gw memang punya kapabilitas untuk menjadi bagian dari suatu perusahaan besar??! Dan apabila berhasil menjadi bagiannya, apakah gw bisa bertahan dan terus maju di tengah keberadaan orang-orang cerdas itu??! (karyawan perusahaan besar, pasti karyawannya cerdas-cerdas – asumsi pribadi)

Itu jadi tantangan besar bagi gw. Menanti untuk gw taklukkan.

Tidak gampang untuk dapat diterima menjadi karyawan suatu perusahaan besar (multinasional). Mereka pasti punya system rekrutmen karyawan yang ketat, apalagi pastilah banyak para jobseeker yang pengen sekali bekerja untuk mereka.

Dengan menjadi karyawan perusahaan besar/multinasional, itu menjadi pembuktian bagi diri gw sendiri akan kapabilitas gw pribadi. Dengan memiliki pembuktian, maka hal itu akan meningkatkan (boosting) kepercayaan diri dan confident pribadi. Itu bakal jadi bekal untuk masa depan gw.

Maka, Skenario #5 lah yang gw ambil: berkarir di perusahaan SWASTA besar/multinasional – bukan PNS/DEPARTEMEN PEMERINTAH/BUMN.

Kenapa bukan di PNS/Departemen Pemerintahan/BUMN??

Itu karena ‘doktrin’ dari Bapak gw.

Menurutnya, bekerja di PNS/DEPARTEMEN PEMERINTAHAN/BUMN bakal sangat MONOTON – terlebih-lebih lagi menjadi PNS, atau pegawai departemen.

Berdasarkan pengamatan Bapak, (Bapakdan Mama gw juga PNS), menjadi PNS/Departemen Pemerintahan tidak ada ilmunya. Kebanyakan hanyalah magabut (magabut=makan gaji buta). Padahal, sebagai seorang yang masih muda, ilmu dan pengalaman sangat penting untuk digali sebanyak-banyaknya.

Dan kenapa bukan BUMN?? Bukankah banyak juga perusahaan BUMN yang besar dan mampu mensejahterakan karyawannya??

Bapak gw bilang, “kalau kamu kerja di BUMN, gak akan jadi KAYA kamu. Hidup kamu bakal terus menerus jadi karyawan. Kamu bakal terbuai terus menjadi karyawan BUMN, karena memang fasilitas karyawan BUMN (Telkom, Pertamina, dll) sangat baik – tapi skillnya bisnisnya kurang. Dan kamu bakal terus berada di zona nyaman, sampai kamu pensiun kelak. Tidak ada tantangannya. Lihatnya orang-orang kaya kenalan Bapak, semuanya Pengusaha! Sudah, cari kerjalah kamu di swasta!”

Oke, itu kata bokap gw.

Tapi tentu saja gw gak mentah-mentah mencerna pendapatnya. Aku berpikir… Merenung… Dan banyak hal benarnya yang diucapkan Bapak gw.

Apalagi, gw pernah dengar cerita. Karyawan BUMN biasanya pergaulannya terbatas – hanya di lingkungan kerjanya saja. Itu-itu saja. Jika dia karyawan Telkom, maka pergaulan sehari-hari dan di luar kantor pun hanya dengan karyawan Telkom… Mau main tenis? Dengan orang-orang telkom… Mau jalan-jalan? Dengan karyawan sekantor… Sulit untuk mengembangkan diri.

Akhirnya, jadi PNS/Departemen Pemerintah/BUMN tidak gw pertimbangkan lagi.

Oke fix. Gw harus mencari perusahaan swasta!

Kemudian, muncul kebimbangan lainnya.

Di bidang perusahaan manakah gw harus berkecimpung??

Bidang yang ada di benak gw waktu itu adalah:
– TELEKOMUNIKASI
– ELEKTRO
– BANK
– PERTAMBANGAN, atau O&G (oil&gas, alias perminyakan).

Untuk bidang perbankan, setelah konsultasi dengan ayah gw, dan berbincang dengan beberapa teman yang berkarir di bank – gw memilih untuk mencoret daftar perusahaan perbankan dari scenario gw.

Kerja di bank ternyata kurang spesifik dengan keilmuan gw (karena bank kebanyakan menerima pelamar dari all major-segala jurusan), apalagi gajinya pun standar (tidak begitu besar), dan ternyata banyak teman gw yang sering lembur karena deadline pekerjaan.

Banyak teman-teman gw yang resign dari pekerjaan di perbankan. Bahkan, ada yang rela membuat ijazah baru dalam bahasa inggris ke Tata Usaha jurusan, dan membiarkan ijazah aslinya ditahan pihak bank, demi untuk mencari pekerjaan lain di luar perbankan.

Selain itu, ada juga teman gw yang pengen mencari pekerjaan di bidang keilmuannya. Seperti temen gw anak Fisika Teknik, dia diterima di ODP Bank Mandiri sudah ampir setahun. Tapi dia tidak ikhlas bekerja di sana karena bidang keilmuannya sangat sedikit terpakai.

Oke karena pengalaman-pengalaman itu, gw mencoret perbankan dari list gw.

Kemudian list berikutnya, bidang Pertambangan/O&G (oil and gas, alias perminyakan).

Di pertambangan/O&G, beban kerjanya berat. Mereka harus tinggal berbulan-bulan di tempat terpencil, jauh dari peradaban. Kemudian pekerjaannya sangat terfokus, mereka seakan-akan menjadi buruh yang dibayar dengan gaji tinggi. Mereka gak bisa belajar hal-hal lainnya selain job description dari peran mereka di site. Mereka gak akan bisa belajar aspek bisnisnya, gak bisa ikut komunitas-komunitas yang positif untuk meningkatkan nilai kualitas diri – kebanyakan berada dalam lingkungan terkucil di site.

Yang hanya bisa mereka lakukan adalah, (untuk pekerja system rooster) bekerja di site yang terpencil selama 4-5 minggu, kemudian libur total 1-2 minggu. Kemudian selama libur 1-2 minggu itu, lo foya-foya dan hedon di kota. Makan mewah, nonton bioskop seharian penuh, hedonism… Kalau yang jomblo, kemudian bergalau ria, curhat dengan teman-temannya kalau di site nggak ada cewe, dsb. Hahaha.

Dan yang paling disayangkan, pergaulan mereka di luar perusahaan terbatas sekali – hanya dengan kawan-kawan lamanya yang itu-itu saja. Setiap mereka berlibur (off) dan main ke kota, yang diajak main hanyalah keluarga atau kawan-kawan lama mereka dulu selama di kampus. Itu-itu lagi. Ngga ada kemajuan…

Di kota, saat liburan, para pekerja tambang/O&G (mostly tambang) akan melakukan sepuasnya apa yang mereka inginkan, memuaskan hasrat yang ngga terpuaskan di tempat terpencil – karena mereka sadar sepenuhnya, setelah balik lagi ke site terpencil itu, mereka harus kembali berkutat dengan kebosanan dan kejenuhan.

Memang sih, gajinya tinggi (tentu saja, beban kerjanya di site berat). Untuk perusahaan pertambangan, fresh graduate gaji rata-rata 6-8 juta BERSIH, kalau perusahaan O&G sekitar belasan juta (10-15 juta) BERSIH.

Tapi emangnya lo mau terus-terusan jadi KULI???

Gw sih gak mau. *walaupun tergiur juga sih dengan gajinya yang gila* :9

Lanjut. Bidang Elektro.

Gw gak begitu ngerti masalah elektronika, kontrol, power, transmisi daya, robotika… Mata kuliah dengan tema-tema seperti itu selalu gw ngulang. Hahaha.

Jadi gw skip deh bekerja di bidang elektro.

Jadi… Tinggal tersisa telekomunikasi…

Gw berpikir, gw kan kuliah di bidang telekomunikasi. Sangat bermanfaat jika akhirnya gw bisa menerapkan ilmu yang gw dapet selama kuliah.

Apalagi kalau kita anak ITB.

Reputasi lulusan ITB kan baik, banyak yang sukses (walaupun ada juga yang gagal-bergantung mental masing-masing juga). Apalagi kalau kita berkarir di bidang keilmuan yang sesuai. Itu bakal menjadi MODAL yang sangat tinggi untuk dihargai dan melejit di perusahaan kita.

Ibaratnya lo kuliah di ITB, sama dengan anak lulusan AKPOL/AKMIL. Anak lulusan AKPOL/AKMIL bakal cepat melejit karirnya karena mereka memang diproyeksikan untuk menjadi petinggi-petinggi di militer/kepolisian. Selain memang karena input dari ITB/AKPOL/AKMIL memang berasal dari bibit-bibit unggul yang otaknya (kebanyakan) encer ya… *sori gak maksud narsis, tapi tulisan ini memang sangat personal*

Selain itu, katanya, bidang telekomunikasi juga menjanjikan. Salah satu bidang profesi yang berbayaran tinggi – hanya kalah dengan bayaran orang-orang di bidang Oil & Gas.

Tapi selain itu gw berharap ditempatkan di daerah perkotaan besar. Alasannya gak lain dan gak bukan, agar gw bisa bergabung dengan berbagai komunitasnya yang ada di dalamnya.

Gw pengen mengenal dan belajar banyak dari orang hebat (yang kebanyakan berkumpul di kota besar). Gw pengen banyak belajar aspek bisnis, sembari gw pengen menggeluti lagi hobi-hobi gw. Sembari belajar secara professional menerapkan keilmuan yang gw miliki.

Maka, pilihannya yang gw harapkan adalah:
– Berkarir di perusahaan besar/multinasional (sebagai tantangan dan pembuktian diri)

– Di bidang telekomunikasi (agar keilmuan yang gw dapatkan selama di kampus tidak sia-sia)

– Di kota besar (selain Bandung – karena gw sangat ingin pergi MERANTAU – dan bukan kota yang ‘lebih kecil’ dari Bandung – maka satu-satunya pilihan adalah di Jakarta, atau syukur-syukur dapet di luar negeri) karena gw ingin banyak belajar dari komunitas-komunitas orang-orang hebat di dalamnya.

Alhamdulillah, berkat izin-Nya, gw dapat ketiga-ketiganya.

DIA memang hebat. Dikasihnya jalan bagi gw untuk berada di sini – di tempat gw berada saat ini.

Bahkan DIA memberi lebih.

Gw ditempatkan di unit kerja yang banyak terlibat dengan aspek bisnis (tidak langsung terlibat dalam hal teknis/engineering) – lebih seperti pekerjaan lulusan Teknik Industri. Itu untungnya bekerja di operator telekomunikasi-lebih terbuka kesempatan untuk belajar aspek bisnisnya. Selain itu, DIA bahkan menempatkan gw di perusahaan yang bervisi dinamis, dan berjiwa muda. Benar-benar cocok dengan karakter gw pribadi.

Dan gw gak akan menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan-Nya. Insya Allah.

“Ayo Kamu Bisa” – Land Crocobandit

Sebuah lagu kolaborasi (actually it was our first guitar duet project) antara dua orang gitaris freelance dari Land Crocobandit, @gustafardana (Rhythm/Song-Writer) dan sobat baiknya @JenderalDani (Melody).

Made in a Tuesday afternoon on a middle of April at my messy room. We used 2 guitars: an accoustic guitar (Allegro Gibson custom), and an electrical guitar (Gillmore GM-03) with Roland Cube 15x amplifier with tone (bass/mid/treble) 3.5/9/7 – recorded using digicam (Canon Powershot A550).

No preparation or complex arrangement, Full of improvisation! 🙂

LIRIK bisa diliat pada footnote di page youtubenya 🙂

(y)

Teknik Telekomunikasi yang Menakjubkan :D

GW MERASA BERUNTUNG MENJADI MAHASISWA TEKNIK TELEKOMUNIKASI!!! 😀

Karena di bidang ini, gw banyak belajar tentang analogi, pola pikir yang amat abstrak, namun aplikatif (harus dapat diterapkan). Serta jenius dan sangat sangat kreatif! Gw malah berpendapat bahwa bidang telekomunikasi adalah suatu SENI dan MAHAKARYA umat manusia yang paling hebat sepanjang sejarah peradaban manusia. Bisa dibilang melebihi hebatnya teknologi seni arsitektur di masa Renaissance berabad-abad dahulu 😀

Dan lebih penting lagi, karena bidang ini adalah bidang teknik, maka pola pikir yang terbentuk pun sangat aplikatif, efektif, dan efisien (costless). Harus dapat menghasilkan suatu teknologi yang stabil dan berkualitas baik, dengan menekan cost dan biaya sekecil mungkin.

Seorang mahasiswa teknik telekomunikasi harus selalu dapat mengimajinasikan suatu “benda” yang kasat mata, tidak terlihat dan terasa oleh panca indera, namun fungsinya dan perannya dapat dirasakan oleh kehidupan manusia modern sehari-hari.

Teknologi yang diciptakan telah merefleksikan suatu tingkat kreativitas umat manusia dalam level tinggi. Menciptakan suatu standar komunikasi jarak jauh dari suatu hal yang tidak ada menjadi ada.

Misalnya, suatu paket data internet. Suatu paket data internet terdiri dari kode bilangan biner “0” dan “1”. Tapi jangan bayangkan angka “nol” dan “satu” benar-benar tertulis/tercetak di setiap paket data. Tiap paket data internet ditulis oleh spidol dengan label “0” dan “1”. Haha, tentu tidak seperti itu.

Kode biner “0” dan “1” tidak benar-benar nyata, itu hanya representasi dari tegangan listrik (volt) yang bernilai suatu tegangan tertentu “x” Volt (untuk kode biner “1”) dan “nol” Volt (untuk kode biner “0”) yang tiap volt tersebut ditransmisikan dalam suatu selang waktu yang diskrit. Diskrit artinya ada selang waktu tertentu sebelum tegangan listrik tersebut ditransmisikan. Inilah yang dinamakan teknik “pensinyalan” (signaling).

Selain itu, dalam bidang telekomunikasi pun, harus dibuat suatu protokol (kesepakatan) yang harus saling dipahami oleh teknologi yang diciptakan. Misalnya, apabila suatu teknologi menganggap bahwa “A” adalah “A”, maka teknologi lain pun harus menganggap bahwa “A” adalah “A”. Apabila teknologi lain menganggap “A” adalah “B”, maka tidak akan dapat tercipta suatu hubungan telekomunikasi.

Analoginya adalah seperti bahasa yang dimiliki oleh berbagai macam bangsa di dunia ini. Kita harus mengerti bahwa “ciao” dalam bahasa italia berarti adalah “selamat tinggal” dalam bahasa indonesia. Jika tidak terjadi kesepahaman antar 2 orang berbeda bahasa tersebut, maka tidak akan tercipta suatu pembicaraan yang “nyambung” , alias DC=disconnect. Itulah mengapa, di bidang telekomunikasi banyak standardisasi yang digunakan dan harus disepakati oleh para pencipta perangkat teknologi sedunia. Lembaga yang membuat standarnya pun bermacam-macam, ada RFC, ITU-T, ETSI, dan lainnya – biar proses komunikasi perangkat elektronik tidak kacau.

Misalnya dalam teknologi internet. Internet merupakan suatu teknologi hasil ciptaan manusia yang amat cerdas – memiliki kemampuan untuk bekerja mandiri tanpa campur tangan manusia.

Router internet mampu untuk menganalisa rute komunikasi mana yang paling cepat dan efektif untuk dapat sampai ke server tujuan yang jaraknya beribu-ribu mil nun jauh di seberang benua. Router tersebut mampu menganalisa nya dengan menggunakan berbagai macam algoritma (menggunakan Algoritma Djikstra, atau lainnya) dan perhitungan matematis yang rumit. Dan setiap Router di dunia akan saling berkomunikasi satu sama lainnya agar selalu dapat menghasilkan rute yang paling cepat (minimize delay), serta murah (cost effective). Tanpa router yang cerdas, paket data akan selalu loss. Hebat bukan?

Kita analogikan yuk biar gak pusing. Misalnya, rute jaringan dianalogikan sebagai jalan lalu lintas. Dan Router adalah Polisi Lalu Lintas. Polisi Lalu Lintas pasti telah mengetahui rute jalan dalam suatu kota. Namun, ternyata saat itu adalah pagi hari, dan kondisi lalu lintas sedang macet di banyak titik jalan. Nah, agar kondisi lalu lintas tidak bertambah macet dengan semakin banyaknya kendaraan yang berlalu lalang dan masuk ke suatu jalan yang sibuk dan macet, maka Polisi akan mengalihkan jalur kendaraan ke jalan alternatif lain yang relatif tidak padat. Untuk dapat melakukan pengalihan jalur, maka tiap unit Polisi harus saling berkomunikasi untuk mengetahui kondisi jalan di jalur lain – misalnya dengan menggunakan Walkie-Talkie, maupun CCTV yang dipasang di tiap jalan. Apabila polisi nya BEGO, maka kendaraan akan dimasukkan ke jalanan yang macet, akibatnya seorang pengendara akan semakin lama sampai ke tujuan karena masuk ke jalan yang padat. Lebih buruk lagi, apalagi terjadi TABRAKAN antar kendaraan. Tabrakan antar kendaraan inilah yang menganalogikan SIGNAL LOSS.

Dan tahukah kamu kalau tiap layanan yang kamu minta ke suatu operator telekomunikasi ternyata memiliki label layanan tersendiri??
Misalnya, kamu berlangganan paket Internet “Murah” dari suatu operator A. Nah, setiap paket data internet yang ditransmisikan dari laptop kamu ternyata akan dilabeli dengan label “Murah” oleh pihak operator. Jadi setiap kali kamu minta konek ke jaringan internet, maka setiap data/sinyal dari laptop kamu akan masuk ke server operator dengan label “Murah”. Label “Murah” ini punya prioritas yang lebih rendah daripada paket lain yang lebih “Mahal” atau “Premium”. Jadi sinyal internet kamu akan lebih sering mengalami diskonek, akan lebih lambat (delay) karena sumberdaya (resources) jaringan telekomunikasi akan lebih banyak diprioritaskan untuk paket “Mahal” atau “Premium”.

Analoginya gini, misalnya ada Ibu bernama LUNAMAYA lagi ngantri di counter suatu apotek mau beli obat untuk anaknya yang lagi sakit keras. Ibu LUNAMAYA ini cuma seorang ibu rumah tangga biasa. Nah, sudah 1 jam mengantri dan sudah tinggal ambil obat dari counter, eh tiba-tiba ada Ibu Ani SBY masuk juga ke apotek mau beli obat. Nah, karena Ibu Ani adalah istri Presiden, ya mau gak mau Ibu LUNAMAYA mengalah. Diserobotlah antriannya oleh Ibu Ani SBY. Udah beres Ibu Ani SBY beli obat, eeh dateng lagi Ibu Michel Obama mau beli obat kuat untuk suaminya. Waduh, karena Ibu Michel Obama ini istri Presiden USA, wah mau gak mau nih Ibu LUNAMAYA mengalah lagi membiarkan antriannya diserobot. Udah selesai Ibu Michel Obama beli obat, ada lagi mendadak datang MIYABI. Karena kalah pamor dari Miyabi, LUNAYAMA pun terpaksa menunggu mengantri lagi. Itulah kenapa Ibu LUNAMAYA harus nunggu ngantri obat selama 2 jam untuk bisa mendapatkan obat yang dia inginkan di apotek, sementara Ibu Ani, Ibu Michel Obama, dan Miyabi cuma mengantri 5 menit.

Dalam bidang telekomunikasi internet, hal tersebut dapat diterapkan pada Type of Service (TOS) untuk membedakan jenis dan prioritas layanan telekomunikasi. Pada paket data IP Header, TOS bit memiliki 4 kemungkinan kondisi, yaitu 1000, 0100, 0010, 0001, dan 0000. Dengan 1000 memiliki proritas tertinggi (premium), 0100, 0001, dan 0000 memiliki prioritas yang semakin rendah. Maka, setiap sinyal data yang dikirim dari laptop kita akan “ditempeli” (diselipkan) dengan kode biner (label) tersebut.

Selain pelabelan, dalam internet pun dikenal dengan IP Address. IP Address adalah suatu metode pengalamatan setiap komputer (PC), laptop, dan perangkat elektronik apa pun yang terhubung ke internet. IP Address ini (dalam versi IPv4) memiliki alamat yang identik, misalnya suatu PC memiliki IP address 167.205.3.260 maka tidak ada lagi PC lain yang boleh memiliki alamat IP address tersebut (dalam kasus IP Public yaa).

Misalnya, seorang ABG dari Bandung berniat melihat video Briptu Norman (yang skrg sudah pensiun jadi polisi, hehe) harus mengakses server youtube (yang secara fisik terletak di USA) untuk dapat menonton video goyang India Briptu Norman. Maka, komputer milik ABG tersebut harus mengirim alamat server youtube (yang di harddisknya memiliki link video Norman) dengan alamat IP tepat. Lalu akhirnya sinyal data pun sampai ke server youtube di USA. Nah, agar sinyal video di harddisknya bisa sampai ke PC milik ABG di Bandung, maka server youtube harus memiliki alamat IP address PC milik sang ABG.

Pusing? Kita analogikan (lagi??).

Analoginya begini. Anggap teknologi internet/HP/telepon belum ditemukan. Misalnya seorang anak di Jakarta yang sedang berulang tahun berniat mengirim surat ke Amerika. Isi suratnya adalah meminta Kado Boneka dari Om nya yang bekerja di Amerika. Maka, alamat tujuan di surat itu harus jelas dan identik sesuai alamatnya di Amerika. Tidak mungkin suratnya diniatkan dikirim ke Amerika, tapi alamat yang tertulis berada di Nigeria. Tidak akan sampe-sampe tuh surat.

Nah, akhirnya surat anak kecil itu sampai juga di rumah om nya di Amerika. Maka, agar Sang Om bisa mengirim Kado Boneka nya, si Om harus punya alamat lengkap sang anak di Jakarta tersebut. Kalo alamatnya tidak tertera, maka Kado Boneka itu nggak akan sampai di tangan sang Anak.

Begitulah kira-kira berbagai macam pola pikir amat kreatif yang diterapkan di dunia telekomunikasi.

Kita manusia memang dianugerahi oleh Tuhan akal yang cerdas dan kreatif ya! Saya saja yang telah menjadi mahasiswa Teknik Telekomunikasi selama 5 tahun lebih sampai saat ini masih terkagum-kagum dengan teknologi yang ditemukan oleh para peneliti jenius itu…

Hebat yaa orang-orang itu?? *Maksudnya penemu bidang telekomunikasi, Bukan gw! Gw mah masih bego gini, lulus jadi sarjana teknik telekomunikasi aja udah nunggak 1,5 tahun.. Hahaha…* 😀

-oleh stafarda, ditulis di sela-sela mengerjakan penelitian Tugas Akhir dalam rangka mewujudkan impiannya wisuda sarjana teknik di bulan april 2012- :p

Psychology Trick: How to Force Someone to Make a Bet with You

Sewaktu gue nonton suatu K-Dorama yang SANGAT KEREN, yaitu : God of Study (baca sinopsisnya ceritanya di sini) – *FULLY RECOMMENDED!!!* ; di salah satu episodenya ada adegan di mana sang tokoh utama ingin menjadikan seorang guru rekan kerjanya untuk menjadi wali kelas (home-room teacher) untuk suatu kelas-persiapan-masuk-universitas-elite-korea.

Namun, si tokoh wanita (yang tidak berpihak pada tokoh pria-dan tidak percaya pada rencana gilanya untuk membuat para murid bengal di SMA itu masuk universitas elite korea) tidak mau menjadi wali kelas. Maka, tokoh pria (dengan body language yang penuh kepercayaan diri tinggi – dan tentunya dengan sense gambling yang baik), menantang sang tokoh wanita untuk bertaruh:

Jika tidak ada 5 orang murid yang ingin masuk kelas-persiapan-masuk-universitas-elite –> maka si tokoh wanita (kita sebut “W”) yang menang taruhan,
jika ada 5 murid yang berminat masuk kelas-persiapan-masuk-universitas-elite –> maka si tokoh pria (kita sebut “P”) yang menang taruhan.

Berikut percakapannya (perhatikan baik2 alur percakapannya yang sangat psychology-tricky ;):

P: “The kids… They will Join My Class.”

W: “Where do you get your self confidence?”

P: “Do you want to make a bet? …

P: If we get 5 students, become the assistent home-room teacher.”

W: “What?! I dont want to.”

P: “Oh… So YOU MUST BELIEVE WE’LL GET THE KIDS WE NEED.” *disini trick nya mulai bermain*

W: “Certainly I dont believe it”

 

P: “Then you’ll win this bet. What is there for you to worry about?” *klimaks dari tricknya!*

W: “Ok Fine. LETS MAKE THE BET.”

=======================================================================

NICE TRICK ANIWEY!!! 😀

 

*originally kepikiran by anakmoeda.wordpress